instagram.com/jennifercoppenreal20
Masih menurut artikel History Workshop, munculnya WAGs juga mencerminkan perubahan besar di dunia sepak bola. Setelah liga sepak bola Inggris makin dikomersialisasikan sehingga semakin kaya dan pemain mendapat bayaran fantastis, kehidupan para atlet ikut berubah menjadi lebih mewah. Pasangan mereka pun otomatis ikut tersorot.
Karena banyak pemain sepak bola berasal dari keluarga kelas pekerja lalu mendadak kaya raya, publik Inggris saat itu juga punya rasa penasaran sekaligus kritik terhadap gaya hidup baru mereka, termasuk para pasangannya. Media-media Inggris zaman itu sering kali mengejek mereka sebagai orang kaya baru yang "kampungan".
Media kala itu juga membuat framing kalau fenomena WAGs dianggap mencerminkan budaya post-feminism di akhir tahun 90-an dan awal 2000-an. Budaya ini menganggap bahwa perjuangan kesetaraan gender sudah selesai, sehingga perempuan bebas merayakan sisi feminin mereka secara berlebihan melalui penampilan fisik, pakaian desainer, dan gaya hidup konsumtif tanpa beban politik.
Ada pula tradisi lama di media yang suka menyalahkan perempuan atas kegagalan laki-laki. Contohnya pada tahun 2002, kapten Manchester United, Roy Keane, terang-terangan menyalahkan para istri pemain atas performa buruk timnya, dengan tuduhan bahwa para pemain terdistraksi oleh obsesi pasangan mereka terhadap kekayaan dan barang mewah.