Beberapa hari lagi adalah hari H pernikahanku. Di satu sisi aku bahagia, bisa hidup bersama lelaki yang memang aku sayangi. Saling mengasihi hingga hari nanti dan tidak akan menua seorang diri. Tapi di sisi lainnya, aku juga merasa sedih, harus membagi kasih antara orangtua kandungku dan mertua yang berjasa membesarkan laki-lakiku. Ayah, Ibu, tolong sempatkanlah waktu untuk membaca sebagian kecil ungkapan hati putrimu.

1. Rasanya aku belum berbakti dan membahagiakanmu

Ayah, Ibu, Maafkan Anakmu yang Belum Bisa Berbakti dan Membahagiakanmuafeastoftales.com

Belum tuntas baktiku, tapi ku sudah harus berbakti kepada orang lain yaitu orangtua suamiku. Apa aku tak berdosa nantinya? Sejak kecil, teramat banyak kasih sayang, pengetahuan, serta hal-hal yang kalian ajarkan dan tunjukkan. Maafkan aku belum bisa membalas dengan hal yang benar-benar membahagiakan dan patut dibanggakan.

2. Apakah aku bisa membagi sayang secara adil kepada kedua pasang orangtua?

Ayah, Ibu, Maafkan Anakmu yang Belum Bisa Berbakti dan Membahagiakanmuimdb.com

Aku tahu betul Yah, Bu, betapa kalian selalu gelisah melihat putrimu yang beranjak dewasa. Ketika ada seorang lelaki yang berani datang ke rumah untuk melamar putrimu ini, aku juga tahu betapa banyak hal yang bergejolak di hati kalian. Tapi percayalah, dia lelaki terbaik yang pernah aku kenal. Karena itulah, ayah ibunya pun juga layak untuk ku perlakukan sebaik-baiknya.

3. Bagaimanapun nantinya, kalian akan tetap menjadi orangtua terbaikku

Ayah, Ibu, Maafkan Anakmu yang Belum Bisa Berbakti dan Membahagiakanmustillalicemoviefansite.weebly.com

Setelah menikah dan tak lagi tinggal bersamamu, bukan berarti aku berhenti menjadi anakmu. Aku berjanji, akan terus menyayangimu, mewujudkan harapan dan keinginanmu. Jauh sebelum bertemu lelakiku, tujuanku berjuang adalah kalian, untuk kebahagiaan kalian. Hasil dari jerih payahku adalah hasil kerja keras kalian pula. Ketika materi tak bisa ku beri untuk membahagiakanmu, setidaknya mendoakanmu akan selalu menjadi agenda wajibku.

Tak ada hal lain yang ku pikirkan dan ku inginkan saat ini selain membahagiakanmu, melihat senyum merekah di bibirmu. Sesederhana saat ku pulang ke rumah menjengukmu ataupun saat ku hanya bertanya kabar melalui benda kecil bernama smartphone itu. Aku berjanji tidak akan berubah, karena akulah gadis kecil yang dibuat tertawa dan bahagia olehmu sepanjang waktu. 

BACA JUGA : Surat Terbuka: Untukmu yang Aku Harapkan Menjadi Teman Hidupku