Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popbela lainnya di IDN App
Ternyata Ada 5 Love Language Baru dalam Hubungan! Sudah Tahu?
Pexels.com/Xeniya Kovaleva
  • Konsep lima love language klasik kini berkembang dengan munculnya lima bahasa cinta tidak resmi yang dianggap lebih relevan untuk hubungan modern.
  • Lima bahasa cinta baru mencakup menghargai barang bermakna pasangan, menjaga tradisi kecil, mengingat kebiasaan unik, bercanda bersama, dan menciptakan rasa aman emosional.
  • Tujuan hadirnya konsep ini bukan menggantikan yang lama, melainkan membantu pasangan memahami kebutuhan emosional satu sama lain secara lebih mendalam dan autentik.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Dalam hubungan, setiap orang punya cara berbeda untuk mencintai atau dicintai. Dulu, konsep love language semakin populer setelah diperkenalkan oleh Gary Chapman lewat bukunya The Five Love Languages: The Secret to Love that Lasts. Lima bahasa cinta seperti quality time, acts of service, words of affirmation, gift giving, dan physical touch pun jadi akrab di telinga banyak orang.

Kini, pembahasan soal love language kembali berkembang. Mengutip dari sejumlah pakar hubungan dari laman The New York Times, mereka memperkenalkan lima “bahasa cinta tidak resmi” yang ternyata terasa relevan dengan dinamika hubungan modern.

Kehadiran istilah-istilah baru ini bukan untuk membuat cinta terasa rumit, melainkan membantu kita memahami kebutuhan emosional pasangan dengan lebih jelas. Lantas, apa saja love language tidak resmi yang mungkin tanpa sadar sudah kamu rasakan? Yuk, simak!

1. Menghargai hal-hal bermakna milik pasangan (accommodating your artifacts)

Pexels.com/cottonbro studio

Saat menjalin hubungan, seseorang tidak datang sendirian. Mereka membawa kenangan, kebiasaan, barang-barang sentimental, hingga rutinitas yang membentuk dirinya. Love language ini terlihat ketika pasangan mau menghargai dan memberi ruang untuk hal-hal tersebut.

Misalnya, membantu mencarikan tempat terbaik untuk memajang foto masa kecil, memberi ruang di lemari untuk barang warisan keluarga, atau menyesuaikan kebiasaan bersama agar pasangan tetap merasa nyaman. Bagi sebagian orang, dicintai berarti identitas dan masa lalunya juga diterima, bukan dianggap sekadar “barang biasa”.

2. Menjaga “tradisi kecil” dalam hubungan (maintaining tiny cultures)

Pexels.com/RDNE Stock project

Setiap pasangan biasanya punya tradisi kecil yang hanya mereka berdua yang mengerti. Entah itu candaan dalam hubungan, panggilan sayang khusus, kebiasaan nonton film tertentu, atau rutinitas sederhana seperti sarapan di tempat yang sama setiap akhir pekan. Hal-hal kecil ini menciptakan rasa “rumah” dalam hubungan.

Bagi mereka yang menjadikan ini bahasa cinta, kedekatan diukur dari seberapa banyak kenangan dan kebiasaan unik yang dibangun bersama.

3. Mengingat keunikan dan kebiasaan kecil (remembering your quirks)

Pexels.com/Andrea Piacquadio

Love language ini berasal pada perhatian yang tulus. Ada orang yang merasa sangat dicintai ketika pasangannya mengingat detail-detail kecil tentang dirinya, entah makanan favorit saat sedang sedih, kebiasaan diam saat kewalahan, atau alasan kenapa mereka selalu menonton serial yang sama setiap tahun.

Bagi mereka, dicintai berarti dipahami tanpa harus menjelaskan berulang kali. Perhatian terhadap hal-hal kecil menunjukkan bahwa pasangan benar-benar mendengarkan dan menghargai keunikan mereka.

4. Bercanda dan bersikap konyol bersama (goofing around)

Pexels.com/cottonbro studio

Tidak semua love language harus serius dan romantis. Ada yang merasa paling dekat justru saat tertawa bersama. Menari saling melempar candaan receh, atau mengirim meme lucu di tengah hari kerja, bisa jadi bentuk cinta yang kuat. Dalam hubungan yang penuh tanggung jawab dan rutinitas, humor menjaga koneksi tetap hangat dan tidak terasa kaku. Bagi sebagian orang, bisa menjadi diri sendiri tanpa takut dihakimi adalah tanda cinta yang paling nyata.

5. Rasa aman secara emosional (emotional safety)

Pexels.com/Timur Weber

Berbeda dengan emotional security yang menekankan dukungan saat kita terbuka, emotional safety lebih pada konsistensi dan kestabilan dalam hubungan. Orang dengan bahasa cinta ini merasa dicintai ketika tidak perlu menebak-nebak suasana hati pasangannya setiap hari.

Bahkan saat terjadi konflik, mereka tetap merasakan ketenangan dan kepastian bahwa hubungan tersebut aman. Respons yang tenang, tidak meledak-ledak, dan tidak meremehkan perasaan menjadi bentuk kasih sayang yang sangat berarti bagi mereka.

Love language yang baru ini sebenarnya tidak menggantikan yang sudah ada. Sebaliknya, kehadirannya membantu kita memahami bahwa cinta bisa muncul lewat cara-cara kecil yang sering kali tak disadari. Dengan mengenal berbagai bentuk bahasa cinta, kita juga jadi lebih mudah mengungkapkan apa yang membuat kita merasa dicintai dalam sebuah hubungan.

Editorial Team