Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popbela lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Sering Diremehkan, Ini 7 Kesalahan Umum saat Connecting Flight yang Bikin Ketinggalan Pesawat!
ilustrasi seorang wanita menunggu keberangkatan di bandara (pexels.com/Anna Shvets)
  • Transit yang terlalu singkat meningkatkan risiko tertinggal pesawat; pilih jeda minimal dua jam, terutama karena keterlambatan penerbangan pertama dapat mengganggu jadwal lanjutan.

  • Tiket terusan dalam satu maskapai atau aliansi lebih aman daripada tiket terpisah, karena memudahkan check-in dan bagasi serta memberi tanggung jawab penanganan saat terjadi keterlambatan.

  • Penumpang perlu memilih penerbangan pagi, menghitung imigrasi dan bagasi, memahami layout bandara, duduk lebih depan, serta rutin memantau pengumuman atau perubahan gate.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Transit penerbangan atau connecting flight sering kali menjadi pilihan terbaik untuk menghemat biaya atau menjangkau destinasi penerbangan jarak jauh. Namun, proses pindah pesawat di bandara transit sering kali memiliki tantangan tersendiri dan risiko tinggi jika tidak direncanakan dengan matang. Bagi penumpang yang belum terbiasa, keterbatasan waktu dan dinamika di bandara sering kali memicu kepanikan hingga berujung tertinggal penerbangan lanjutan.

Agar perjalanan kamu berjalan lancar tanpa kendala, pahami 7 kesalahan umum saat connecting flight berikut ini agar tidak ketinggalan pesawat!

1. Memilih waktu transit yang terlalu mepet

ilustrasi orang-orang sedang menunggu di bandara (pexels.com/Connor Danylenko)

Kesalahan yang paling sering terjadi adalah memilih durasi transit di bawah Minimum Connecting Time (MCT) yang disarankan bandara. Transit kurang dari 90 menit untuk penerbangan domestik atau kurang dari 2 jam untuk internasional sangat berisiko, terutama jika penerbangan pertama kamu mengalami keterlambatan (delay). Sebaiknya, perhitungkan dan pilih jeda penerbangan minimal 2 jam antara penerbangan pertama dan penerbangan kedua.

2. Membeli tiket pesawat secara terpisah

ilustrasi tiket pesawat (pexels.com/ RDNE Stock project)

Memesan dua penerbangan berbeda dari maskapai yang tidak berada dalam satu jaringan maskapai (airline alliance) atau tanpa satu kode pemesanan (PNR) sangat berisiko. Jika penerbangan pertama delay, maskapai kedua tidak bertanggung jawab atas keterlambatanmu dan tiket kelanjutan bisa hangus.

Agar jauh lebih aman dan praktis, sebaiknya belilah tiket penerbangan langsung terusan (connecting ticket dalam satu maskapai atau aliansi). Selain tidak perlu repot check-in ulang dan mengurus bagasi dari awal di bandara transit, maskapai juga bertanggung jawab penuh untuk memindahkanmu ke penerbangan berikutnya jika terjadi delay.

3. Tidak memilih jadwal terbang pagi untuk penerbangan pertama

ilustrasi naik pesawat terbang (pexels.com/George Zografidis)

Memilih jadwal penerbangan pertama di siang atau sore hari bisa meningkatkan risiko keterlambatan beruntun dari penerbangan-penerbangan sebelumnya. Penerbangan paling pagi (first flight) biasanya punya tingkat ketepatan waktu (on-time performance) paling tinggi, jadi risiko terlambat sampai di bandara transit jauh lebih kecil.

4. Tidak memperhitungkan proses imigrasi dan bagasi

Ilustrasi bagasi pesawat (unsplash.com/rachteo)

Khusus penerbangan internasional, transit sering kali mengharuskan kamu buat melewati antrean imigrasi, mengambil bagasi sementara, lalu check-in atau melakukan pemeriksaan keamanan ulang. Banyak orang meremehkan lamanya antrean ini sampai akhirnya kehabisan waktu sebelum sempat sampai di gate penerbangan berikutnya.

5. Memilih duduk di kursi belakang

ilustrasi kursi belakang pesawat (pexels.com/Kelly)

Duduk di baris belakang pada penerbangan pertama bakal memakan waktu lumayan lama untuk bisa keluar pesawat (disembarking). Saat waktu transitmu sudah mepet, tertahan 15–20 menit cuma buat antre keluar dari kabin bisa berdampak fatal buat penerbangan lanjutanmu. Pilihlah duduk di kursi depan pesawat, agar kamu bisa keluar dengan lebih cepat.

6. Tidak mengenali layout bandara transit

seorang traveler sedang menunggu keberangkatan di bandara (freepik.com/lifestylememory)

Tiap bandara punya luas dan fasilitas perpindahan antar-terminal yang beda-beda, seperti harus naik bus apron atau sky train. Banyak penumpang menganggap semua bandara gampang dijelajahi, padahal berpindah terminal di bandara super besar bisa memakan waktu jalan kaki atau pindah moda hingga 30–45 menit sendiri. Ada baiknya kamu riset dan memahami layout bandara tempat kamu transit, agar kamu tidak bingung harus kemana setelah sampai sana.

7. Mengabaikan pengumuman dan perubahan gate

ilustrasi seorang wanita menunggu di terminal bandara dengan membawa koper (pexels.com/Kenneth Surillo)

Terlalu asyik bersantai di lounge atau shopping di area bebas bea tanpa rajin mengecek papan informasi (flight information display system) sering bikin penumpang kecolongan. Padahal, perubahan gate atau jadwal boarding yang dimajukan secara mendadak itu hal yang lumrah terjadi di bandara. Pastikan kamu selalu mendengar pengumuman bandara secara seksama.

Melakukan connecting flight memang butuh perencanaan yang matang dan perhitungan waktu yang pas di lapangan. Dengan memilih jam terbang yang aman, mengalokasikan waktu transit yang cukup, serta selalu sigap memantau informasi penerbangan, kamu bisa menikmati perjalanan dengan tenang dan sampai di destinasi tujuan tepat waktu.

Itulah beberapa kesalahan umum saat connecting flight yang bikin ketinggalan pesawat yang perlu kamu perhatikan, jangan salah langkah lagi, ya, Bela!

Curated For You

Editorial Team

Related Article