Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popbela lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
POPBELA's Playlist: Broken Home, Broken Heart, Broken Dreams
Pexels.com/Turgay Koca
  • Playlist POPBELA merangkum lagu-lagu tentang patah hati, harapan yang runtuh, kehilangan orang terkasih, hingga keluarga yang retak sebagai teman menjalani proses luka.
  • Lusant dan Rio Clappy mengangkat kisah cinta tulus yang tidak berakhir bersama, menekankan keikhlasan melepaskan saat hubungan kehilangan arah atau harapan.
  • Pink Tomiyang, Dodo Zak bersama Cheryl, serta Pee Wee Gaskins bersama Boniex menghadirkan cerita duka ibu, pengkhianatan cinta, dan dampak broken home pada anak.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Patah hati tidak pernah memilih pintu mana tempat ia masuk. Ia hadir bukan cuma saat hubungan asmara harus usai, tapi juga ketika harapan yang kita bangun pelan-pelan runtuh, atau saat rumah yang dulunya hangat mendadak berubah dingin karena orang tua tak lagi bersama. Rasa sakitnya sama-sama nyata, meninggalkan ruang hampa yang sering kali sulit dijelaskan dengan kata-kata.

Melalui playlist ini, lagu-lagu yang terkurasi hadir bukan untuk memperjelas luka, melainkan untuk menemani tiap proses lukamu. Karena terkadang, ketika tak ada lagi tempat untuk bersandar, melodi dan lirik yang jujur bisa jadi ruang paling aman untuk merayakan rasa sakit dan perlahan menyembuhkannya.

"Tak Pernah Jadi Rumah" - Lusant

Dok. Lusant

Penyanyi solo pendatang baru, Lusant, resmi memperkenalkan langkah pertamanya di industri musik Indonesia melalui single debut berjudul "Tak Pernah Jadi Rumah" yang akan dirilis di seluruh platform musik digital. Mengusung nuansa emotional pop, "Tak Pernah Jadi Rumah" hadir sebagai sebuah refleksi tentang cinta yang tulus, pengorbanan yang tak selalu berujung kebersamaan, serta proses belajar mengikhlaskan seseorang yang tak pernah benar-benar menjadikan kita tempat pulang.

Lagu ini lahir dari pengalaman pribadi Lusant yang kemudian berkembang menjadi cerita yang terasa dekat dengan banyak orang. Tentang seseorang yang telah memberikan seluruh perhatian, waktu, dan perasaannya, namun pada akhirnya tetap tidak mampu memiliki hati orang yang dicintai. Meski begitu, cinta yang tulus tetap menyisakan doa agar orang tersebut menemukan kebahagiaannya, walaupun bukan bersama dirinya.

"'Rumah' dalam lagu ini bukanlah bangunan, melainkan simbol dari tempat kita merasa diterima, nyaman, dan ingin kembali. Kadang kita sudah berusaha menjadi tempat itu bagi seseorang, tetapi ternyata kita memang tidak pernah menjadi rumah baginya," ujar Lusant.

Proses penulisan hingga produksi "Tak Pernah Jadi Rumah" memakan waktu sekitar tiga minggu. Dalam pengerjaannya, Lusant menggandeng Double D Production, yang digawangi oleh Ncex dan Yoga Patria sebagai composer sekaligus arranger. Nama Yoga Patria sendiri telah dikenal sebagai gitaris sekaligus penulis lagu utama band pop rock asal Bandung, Nineball, yang melahirkan sejumlah karya populer, termasuk lagu "Hingga Akhir Waktu". Sementara Ncex juga memiliki pengalaman panjang di industri musik Indonesia, salah satunya sebagai arranger album Sesungguhnya milik Joeniar Arif.

Kolaborasi tersebut menghasilkan aransemen yang dibangun secara bertahap. Lagu dimulai dengan nuansa yang tenang, kemudian berkembang menuju klimaks emosional yang memperkuat makna setiap lirik. Karakter vokal Lusant juga menjadi salah satu elemen utama yang membawa pendengar menyelami setiap fase emosi dalam lagu ini.

Sebagai debut, Lusant memilih "Tak Pernah Jadi Rumah" karena merasa lagu ini paling mewakili identitas musikal dan perjalanan emosinya sebagai seorang musisi. Ia ingin memperkenalkan warna musik yang ia sebut sebagai emotional pop, sebuah pendekatan yang menitikberatkan pada kekuatan cerita, dinamika aransemen, dan penyampaian emosi secara jujur. Influence musikal Lusant banyak dipengaruhi oleh Korean emotional pop dan musik gospel, dua genre yang menurutnya memiliki kemampuan kuat dalam menyampaikan emosi melalui melodi, harmoni, hingga karakter vokal.

Lebih dari sekadar lagu patah hati, "Tak Pernah Jadi Rumah" juga mengajak pendengarnya memahami bahwa merelakan bukanlah bentuk kekalahan, melainkan proses menerima kenyataan dengan hati yang lebih lapang. Lagu ini menjadi pengingat bahwa cinta yang tulus terkadang diwujudkan lewat keberanian untuk melepaskan dan tetap mendoakan kebahagiaan seseorang. "Bagi siapa pun yang pernah mencintai dengan sungguh-sungguh tetapi tidak bisa memiliki, semoga lagu ini bisa menjadi teman. Tidak semua cinta harus berakhir dengan memiliki, tetapi semua cinta bisa mengajarkan kita tentang keikhlasan," kata Lusant.

"Kasih Ibu (Tak) Sampai" - Pink Tomiyang

Dok. Pink Tomiyang

Penyanyi pendatang baru Pink Tomiyang resmi memperkenalkan karya perdananya kepada publik lewat single bertajuk "Kasih (Ibu) Tak Sampai", yang dirilis serentak di seluruh platform musik digital. Lagu bergenre electro pop-ballad ini lahir dari pengalaman personal Pink Tomiyang menghadapi kehilangan sosok ibu, dan ditulis sebagai bentuk penyembuhan diri atas rasa rindu yang, menurutnya, tak kunjung reda hingga saat ini.

"Karya ini saya dedikasikan untuk mengobati rasa luka dan rindu yang tidak kunjung sembuh setelah ditinggal ibu. Jadi karya ini buat obat diri saya sendiri," katanya.

Menjelang perilisan, Pink Tomiyang mengaku dilanda perasaan campur aduk antara gugup dan banyak berpikir, mengingat single ini menjadi perkenalan pertamanya kepada penikmat musik Tanah Air sekaligus wadah bagi kisah paling personal dalam hidupnya. Lagu "Kasih (Ibu) Tak Sampai" murni terinspirasi dari pengalaman pribadi Pink Tomiyang, tanpa sentuhan kisah orang lain.

Gambaran utamanya datang dari momen sederhana namun berat secara emosional: perjalanan pulang seorang diri setelah berziarah ke makam sang ibu. "Setiap kali pulang ke rumah setelah ditinggal ibu, ada perasaan yang sulit dijelaskan kecuali oleh orang-orang yang sudah kehilangan orang terkasih. Di mobil, menyetir sendiri sepulang dari kuburan mama gambaran lagu ini seperti itu."

Bagi Pink Tomiyang, tema hubungan ibu dan anak dipilih karena rasa kehilangan yang menjadi inti cerita hanya benar-benar bisa dipahami oleh mereka yang pernah mengalami kehilangan besar dalam hidupnya, lengkap dengan bayang-bayang "andai saja hal itu belum terjadi". Judul "kasih yang tak sampai" sendiri merujuk pada satu pengharapan: seandainya sang ibu masih ada untuk menyaksikan mimpi-mimpi anaknya menjadi kenyataan.

Pesan terdalam yang ingin disampaikan Pink Tomiyang melalui lagu ini sederhana namun mengena menghargai waktu bersama orang terkasih selagi kesempatan itu masih ada. Proses penulisan lirik lahir dari kenangan-kenangan sederhana: senyum ibu, aroma masakannya, hingga baju baru pemberiannya hal-hal yang menurut Tomiyang terasa biasa saja saat itu, namun menjelma sangat berarti setelah sang ibu tiada.

Larik "Kau jadi rumah yang tak bisa kumasuki lagi" menggambarkan jarak yang kini memisahkan Tomiyang dengan ibunya sebuah kondisi di mana doa masih bisa dipanjatkan, namun pelukan secara fisik tidak lagi mungkin terjadi. Sementara larik "Aku simpan kau di ruang yang tak bernama" lahir dari kebingungan Tomiyang menamai emosinya sendiri, entah itu marah, benci, kecewa, atau sakit hati, yang akhirnya ia rangkum dalam satu frasa: kasih tak sampai.

"Semanis Madu" - Dodo Zak & Cheryl

Dok. Dodo Zak & Cheryl

Jangan tertipu oleh judulnya. Lagu "Semanis Madu" bukan sekadar lagu cinta manis. Di balik judul yang terdengar romantis, Dodo Zak dan Cheryl justru membawa cerita tentang pengkhianatan, janji yang diingkari, dan cinta yang ternyata hanya semanis madu di bibir.

Alih-alih menggambarkan cinta yang indah, "Semanis Madu" menceritakan seseorang yang harus menerima kenyataan pahit setelah cintanya dikhianati. Janji yang sebelumnya terdengar begitu meyakinkan berubah menjadi luka ketika orang yang dicintainya justru berpaling dan menduakan cinta.

Melalui lirik seperti "Dahulu kau selalu bilang padaku / Cintamu satu hanyalah untukku", lagu ini membawa pendengar masuk ke fase ketika seseorang mulai mempertanyakan kembali semua perkataan manis yang pernah ia percaya.

Namun "Semanis Madu" tidak berhenti pada kesedihan. Lagu ini juga membawa energi perlawanan dan keputusan untuk melepaskan. Bagian "Sudahlah pergi jangan pernah kembali" menjadi titik ketika seseorang akhirnya memilih berhenti bertahan pada hubungan yang sudah kehilangan kepercayaan.

Secara musikal, "Semanis Madu" diproduseri oleh Rofi Arsyandi, dengan komposisi yang ditulis oleh Rofi Arsyandi dan Yudis Aprianto. Produksi musik diperkuat oleh Ari Zona untuk mixing dan mastering, sekaligus mengisi keys, synth, pad, strings, drum, dan percussion.

"(R)u(N)tuh" - Pee Wee Gaskins dan Boniex

Dok. Pee Wee Gaskins dan Boniex

Pee Wee Gaskins (PWG) resmi merilis single terbaru "(R)u(N)tuh)" bersama Boniex dari for Revenge. Mengangkat realitas keluarga yang dari luar tampak utuh, tetapi perlahan runtuh di dalam, lagu ini menjadi ruang bagi cerita-cerita tentang luka yang dipendam, ketegangan yang disembunyikan, serta anak-anak yang tumbuh tanpa rasa aman di rumahnya sendiri. Lagu "(R)u(N)tuh)" berangkat dari kampanye yang digagas Dochi untuk mengumpulkan testimoni dari mereka yang pernah mengalami situasi broken home. Melalui respons dan wawancara singkat di Threads, beragam cerita tersebut kemudian disaring menjadi fondasi emosi dalam lirik lagu.

Lagu ini menggambarkan dua orang tua yang memilih bertahan demi anak, dengan keyakinan bahwa tetap bersama selalu menjadi pilihan terbaik. Namun, anak justru tumbuh di tengah hubungan yang penuh jarak dan ketidakbahagiaan. Rumah yang seharusnya menjadi tempat pulang perlahan berubah menjadi ruang yang membuatnya ingin mencari penerimaan di tempat lain.

Kolaborasi dengan Boniex hadir secara organik dalam proses kreatif lagu ini. Selain membantu menemukan notasi dari lirik yang telah ditulis Dochi, karakter vokal Boniex dinilai tepat untuk menyampaikan emosi "(R)u(N)tuh)". Kehadiran Boniex juga mempertemukan warna vokalnya dengan Sansan, tanpa menghilangkan benang merah khas PWG dalam aransemen dan identitas soniknya.

Meski dikenal dengan energi pop-punk yang kuat, PWG bukan kali pertama menyentuh tema yang lebih gelap. Lewat karya seperti "Selama Engkau Hidup" dan "Be Brave And Carry On", mereka telah menghadirkan sudut pandang yang reflektif tentang hidup, keberanian, dan kenyataan yang tidak selalu mudah. Dalam "(R)u(N)tuh)", energi tersebut kini menjadi wadah untuk menyuarakan tema keluarga yang kompleks dan emosional. "Pop-punk nggak selamanya harus ceria. Lewat lagu ini, kami ingin membawa cerita yang berat dengan cara yang tetap jujur dan dekat dengan pendengar," ungkap PWG.

Meski membahas perpisahan dan keluarga yang retak, "(R)u(N)tuh)" tidak dimaksudkan untuk menghakimi perceraian ataupun memaksakan pandangan tertentu tentang keluarga. Lagu ini justru mengajak pendengar memahami bahwa mempertahankan bentuk sebuah keluarga tidak selalu berarti semua orang di dalamnya merasa aman dan bahagia. Pesan utama "(R)u(N)tuh)" ditujukan terutama bagi anak-anak yang pernah atau sedang berada dalam situasi serupa: mereka bukan penyebab dari semua yang terjadi, tidak harus memilih pihak, dan tetap berhak mencintai kedua orang tuanya sekaligus memiliki kehidupan yang bahagia.

Pada akhirnya, "(R)u(N)tuh)" bukan hanya cerita tentang kehilangan. Lagu ini menjadi ajakan untuk menerima, berdamai, dan memulai lagi. Jika seseorang mendengarkannya sendirian lalu merasa tidak sendirian dalam pengalamannya, PWG dan Boniex berharap lagu ini telah menemukan maknanya.

"Janji Bahagia" - Rio Clappy

Dok. Rio Clappy

Musisi berbakat Rio Clappy kembali menyapa para pendengar dengan single terbarunya, berjudul "Janji Bahagia". Lagu ini menceritakan hubungan yang tidak berakhir karena hilangnya cinta, melainkan karena harapan yang perlahan habis. Ada dua hati yang tetap berjalan berdampingan, meski keduanya sama-sama tahu bahwa arah yang dituju sudah tak lagi sama.

Tentang "Janji Bahagia", lagu ini menghadirkan sebuah kisah tentang keputusasaan yang tumbuh diam-diam dalam hubungan yang telah bertahan begitu lama. Sebuah cerita tentang mereka yang terus menggenggam, meski yang tersisa hanyalah kenangan dan janji-janji yang tak pernah benar-benar menjadi kenyataan. Dalam "Janji Bahagia" bukan sekadar lagu tentang perpisahan. Lagu ini adalah potret dari perjalanan panjang yang perlahan kehilangan cahaya. Tentang seseorang yang terus percaya bahwa cinta akan menemukan jalannya pulang, hingga akhirnya menyadari bahwa tidak semua penantian berakhir dengan bahagia.

Melalui lirik yang jujur, puitis, dan emosional, dipadukan dengan aransemen yang melankolis namun hangat, "Janji Bahagia" mengajak pendengar menyelami ruang-ruang sunyi yang sering kali tak terucapkan dalam sebuah hubungan. Rasa lelah, kecewa, rindu, dan harapan bertemu dalam satu cerita yang mungkin pernah hidup di hati banyak orang. Lagu ini menjadi pengingat bahwa terkadang, hal yang paling menyakitkan bukanlah kehilangan seseorang, melainkan menyaksikan perlahan-lahan cinta yang pernah begitu besar berubah menjadi sekadar kebiasaan.

Dan pada akhirnya, ada saat ketika melepaskan bukan lagi bentuk menyerah, melainkan cara paling tulus untuk mencintai—baik orang lain maupun diri sendiri. Melalui "Janji Bahagia", Rio Clappy berharap setiap pendengar dapat menemukan sepotong kisah mereka sendiri. Sebab di balik setiap luka, selalu ada ruang untuk pulih. Dan di balik setiap janji yang tak sempat ditepati, selalu ada kesempatan untuk kembali menemukan bahagia, meski dengan jalan yang berbeda.

Dari daftar lagu di atas, mana yang pernah kamu alami? Tulis di kolom komentar, ya!

Curated For You

Editorial Team

Related Article