Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popbela lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Membedah 'island girl', Album Debut no na Bikin Nostalgia Romcom 2000-an dan Bangga Kultur Lokal
Dok. 88 Rising
  • Girl group Indonesia no na di bawah 88rising merilis album debut penuh “island girl” berisi 15 lagu, setelah proyek audiovisual “speaker freaker (the long song)” yang merangkai delapan lagu.
  • Album ini menggabungkan energi upbeat “rollerblade” dan “honk!” dengan trek santai seperti “durian”, sementara “star” membawa pesan percaya diri serta keberagaman kecantikan.
  • no na memadukan pop/R&B modern dengan elemen Indonesia, termasuk ceng-ceng, gamelan, klakson minibus, serta lirik Jawa “jenenge sopo” dalam “rollerblade part two”.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Akhirnya, yang ditunggu-tunggu datang juga, Bela! Siapa nih yang nggak sabar menanti album penuh debut dari no na? Girl group pop global pertama asal Indonesia di bawah naungan 88rising ini resmi merilis island girl hari ini, dan sejujurnya, POPBELA dibuat gagal move on sejak putaran pertama!

Lewat 15 track di dalamnya, Baila Fauri, Esther Geraldine, Christy Gardena, dan Shazfa Adesya membawa kita masuk ke 'dunia' mereka yang penuh perayaan rasa percaya diri, cerita romansa yang relatable, hingga perjalanan menuju kedewasaan. Menariknya lagi, pekan lalu mereka sempat memberikan "pemanasan" manis lewat “speaker freaker (the long song)”, proyek audiovisual berdurasi 15 menit yang merangkai delapan lagu (termasuk hits viral "rollerblade" dan "work") dengan begitu sinematik sampai media internasional The FADER menyebutnya sebagai "pure cinema".

Setelah mendengar album ini secara keseluruhan, ini first impression POPBELA. Penasaran?

"durian": Rasa Soundtrack Romcom Tahun 2000-an yang Bikin Senyum-Senyum Sendiri

Instagram.com/nonawav

Begitu memutar nomor "durian", memori langsung terlempar ke era soundtrack film-film romantic comedy awal tahun 2000-an. Lagu ini hadir dengan formula easy listening, lembut, dan penuh nuansa manis yang comfortable banget. Aransemennya membawa getaran nostalgia yang hangat, seolah-olah menjadi musik latar untuk adegan-adegan ikonik jatuh cinta di layar lebar.

Iramanya yang teratur dan rileks menjadikan "durian" sebagai trek paling ramah telinga di album ini. Komposisi yang santai ini pas banget untuk kamu masukkan ke dalam playlist kerja demi menjaga fokus, atau sekadar jadi teman bersantai di sore hari sembari membiarkan pikiran membayangkan kisah romansa yang menggemaskan.

"star": Merayakan Cantik yang Tak Terbatas Stigma

Sebagai lagu pertama dalam album, melalui track "star", no na memancarkan energi empowerment yang sangat kuat dan langsung menyengat sejak detik awal. Liriknya ditulis bagai mantra positif yang siap membakar semangat dan membuat siapa pun yang mendengar jadi jauh lebih percaya diri dengan dirinya sendiri. Pesan yang dibawakan sangat lugas: setiap individu berhak bersinar tanpa perlu meminta maaf atas siapa dirinya.

Lagu ini hadir sebagai ajakan sekaligus pembuktian bahwa status sebagai seorang "bintang" tidak bisa dipenjara oleh stigma atau standar kaku masyarakat. no na mematahkan stereotip kecantikan yang seragam dengan menegaskan bahwa kecantikan sejati itu beraneka ragam. Lewat lagu ini, mereka mengingatkan kita pada satu hal penting: cantik punya warnanya masing-masing, Bela!

Dari Playlist Olahraga Upbeat Sampai Teman Santai Sore Hari

no na tahu betul cara merancang alur emosi yang dinamis sepanjang album tanpa membuat pendengar merasa lelah. Mereka tak segan menawarkan lagu-lagu berenergi tinggi yang upbeat seperti "rollerblade" dan "honk!". Ketukan tajam dan ritme yang adiktif di nomor-nomor ini dijamin bikin kamu mau melantai, melakukan gerakan dance, dan paling cocok masuk playlist olahraga untuk memicu adrenalin.

Namun, di balik dentuman yang menghentak, no na juga cerdas menyisipkan lagu-lagu ber-tempo lebih slow. Alunan musiknya yang mendayu dan bernuansa dreamy memberikan jeda yang sangat pas di tengah riuk-pikuk album. Lagu-lagu ber-beat lambat ini menjadi pilihan sempurna untuk menemani momen cool down atau sekadar melepas penat di sore hari.

Identitas Lokal yang Diramu dengan Jenius

Salah satu elemen paling memikat dari island girl adalah keberanian no na menempatkan kebudayaan Indonesia sebagai inti dari karya musik mereka. Alih-alih menjadikan kultur lokal sekadar tempelan hiasan, mereka berhasil mengawinkannya secara presisi dengan warna pop/R&B modern. Hasilnya adalah eksplorasi sonik yang terasa segar, berani, dan berkarakter kuat.

Pendengar akan dimanjakan oleh denting ceng-ceng dalam "work", alunan gamelan di "rollerblade", hingga bebunyian tak terduga seperti klakson minibus ala telolet dalam "honk!" serta terompet pesta. Sisipan suara-suara unik ini tidak terasa janggal sama sekali, melainkan memberi warna organik yang membedakan no na secara tegas dari girl group global lainnya.

Eksperimen Unik di "rollerblade part two"

Jika harus memilih satu nomor yang paling mengejutkan dan bikin geleng-geleng kepala, "rollerblade part two" jelas berada di urutan teratas bagi Popbela. Di trek ini, no na melakukan langkah eksperimental yang terbilang nekat namun berhasil dieksekusi dengan sangat halus: menyelipkan penggalan lirik bahasa Jawa, "jenenge sopo" (yang berarti "namanya siapa?").

Gubahan vokal dan aransemen lagunya dibuat sedemikian rupa sehingga lirik bahasa daerah tersebut melebur sempurna dengan ritme musik pop modern. Saking mulusnya aransemen mereka, kalau kamu tidak mendengarkannya dengan cermat, kamu tak akan menyangka kalau itu adalah bahasa Jawa. Popbela sendiri sampai harus memasang telinga baik-baik dan bertanya, "Bener nggak sih ini bahasa Jawa?" Genius banget!

Secara keseluruhan, album island girl adalah sebuah debut yang sangat solid, berani, dan penuh warna dari no na. Mereka sukses meramu nostalgia pop 2000-an dengan nuansa dreamy yang bikin senyum-senyum sendiri, sekaligus mengisinya dengan energi upbeat yang membakar semangat.

Yang paling membanggakan, no na berhasil membuktikan bahwa akar budaya lokal bisa dikemas dengan sangat modern, relevan, dan berkelas di kancah internasional. Gimana, Bela? Kamu sendiri sudah dengarkan album island girl secara penuh? Lagu mana nih yang paling sering kamu repeat dari tadi? Tulis jawabanmu di kolom komentar, ya!

Curated For You

Editorial Team

Related Article