Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popbela lainnya di IDN App
google assistant
ilustrasi Google Assistant (Dok. Google)

Intinya sih...

  • Google setuju membayar USD68 juta untuk menyelesaikan gugatan class action terkait Google Assistant yang dituding merekam percakapan pribadi tanpa izin.

  • Pengguna yang memiliki perangkat Google sejak 18 Mei 2016 atau mengalami false accepts dari Google Assistant dapat mengajukan klaim hingga maksimal tiga perangkat.

  • Kasus ini menyoroti isu privasi di era AI dan perangkat pintar, serta menekankan pentingnya transparansi data suara dan persetujuan pengguna dalam teknologi asisten digital.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Bagi masyarakat yang masih bergantung dengan Google untuk mencari segala informasi di internet, tentu prakiraan cuaca, resep masakan, atau rekomendasi tempat liburan, bisa tinggal ketik atau bicarakan apa yang diinginkan.

Tetapi, pernah merasa nggak, kalau habis membicarakan suatu hal, tiba-tiba kamu menemukan iklannya yang relevan muncul di beranda rekomendasi? Padahal, kamu tidak pernah mengucap “Hey Google” atau kalimat pemicu apapun.

Ternyata, pengalaman semacam ini juga dirasakan banyak pengguna lain, lho!

Belum lama ini, Google sepakat membayar USD68 juta untuk menyelesaikan gugatan class action yang menuduh asisten suaranya, Google Assistant, merekam percakapan pribadi tanpa persetujuan pengguna. Kesepakatan ini masih menunggu persetujuan hakim federal Amerika Serikat, Beth Labson Freeman, tetapi detail perkaranya sudah mulai terungkap ke publik.

Apa yang sebenarnya dituntut?

Ilustrasi Google Assistant. (unsplash.com/appshunter.io)

Menurut laporan BBC dan Reuters, gugatan ini diajukan oleh para pemilik perangkat Google yang menilai Google Assistant kerap aktif sendiri, atau fenomena ini dikenal sebagai false accepts. Artinya, sistem mengira mendengar kata pemicu seperti “Hey Google” atau “OK Google”, padahal pengguna tidak pernah mengucapkannya.

Dalam kondisi itu, perangkat disebut mulai merekam percakapan di sekitarnya. Para penggugat mengklaim sebagian rekaman tersebut kemudian digunakan untuk membantu menampilkan iklan yang lebih tersasarkan (ditujukan pada konsumen spesifik). Beberapa orang bahkan menyebut percakapan sensitif soal keuangan, pekerjaan, hingga keputusan pribadi juga ikut terekam.

Google sendiri menjelaskan bahwa Google Assistant dirancang untuk tetap siaga sampai mendengar kata pemicu, dan mereka pun membantah melakukan pelanggaran. Namun, dalam dokumen pengadilan, Google menyatakan memilih berdamai untuk menghindari risiko, biaya litigasi, dan proses hukum yang panjang.

Skema pembayaran: siapa yang dapat, dan berapa?

Ilustrasi penggunaan Google Assistant lewat perangkat Google Home. (blog.google)

Nah, jika disetujui pengadilan, Google akan menempatkan USD68 juta (sekitar Rp1 triliun) ke dalam dana penyelesaian (settlement fund). Dana ini akan dibagikan kepada para pengguna yang memenuhi syarat, yakni mereka yang:

  • Memiliki perangkat Google sejak 18 Mei 2016, atau

  • Mengalami false accepts dari Google Assistant.

Mengutip CBS News, konsumen nantinya bisa mengajukan klaim hingga maksimal tiga perangkat. Besaran uang yang diterima tiap orang tidaklah sama, karena sangat bergantung pada jumlah klaim yang masuk.

Dari total dana tersebut, pengacara pihak penggugat juga dapat meminta hingga sepertiga bagian, sekitar USD22 juta (Rp369 miliaran), untuk biaya hukum dan administrasi. Sisanya baru dibagikan ke para pengguna.

Sebagai gambaran, dalam kasus serupa yang menimpa Apple, pembayaran ke pengguna berkisar antara USD8-40 per orang, tergantung jumlah peserta klaim. Angka pasti untuk kasus Google baru akan diketahui setelah proses klaim selesai.

Proses hukumnya masih berjalan

Logo Google Assistant. (TechCrunch)

Kesepakatan awal ini diajukan di pengadilan federal San Jose, California, dan masih menunggu lampu hijau dari Hakim Beth Labson Freeman. Setelah ada persetujuan awal, barulah dibuka periode klaim bagi para pengguna yang merasa terdampak.

Model gugatan class action berarti uang kompensasi tidak diberikan ke satu individu saja, melainkan dibagikan ke banyak pihak yang tergabung dalam kelas gugatan tersebut.

Apa yang Google lakukan setelah ini?

Ilustrasi Google Assistant. (tech-latest.com)

Untuk saat ini, fokus Google adalah menyelesaikan perkara secara finansial. Perusahaan juga menegaskan tidak mengakui kesalahan, dan belum ada kewajiban khusus dari pengadilan yang memaksa perubahan teknis langsung pada Google Assistant.

Kasus ini juga berkaca pada penyelesaian serupa yang melibatkan Apple terkait Siri pada Desember 2024, yang berakhir dengan pembayaran sebesar USD95 juta (sekitar Rp1,5 triliun) kepada pengguna. Gelombang gugatan semacam ini menyoroti kembali isu privasi di era AI dan perangkat pintar yang selalu "mendengar" para penggunanya.

Bagi industri teknologi, perkara ini jadi pengingat bahwa transparansi soal data suara dan persetujuan pengguna semakin penting, seiring makin banyaknya orang mengandalkan asisten digital dalam kehidupan mereka sehari-hari.

Asisten suara memang memudahkan banyak hal, tapi dari kasus ini menunjukkan kalau kenyamanan digital tetap perlu diimbangi kewaspadaan soal privasi.

Kalau Bela sendiri, pernah mengalami hal serupa?

Editorial Team

EditorAyu Utami