Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popbela lainnya di IDN App
8 Tips Menyimpan Makanan Sisa Sahur agar Tahan Lama Selama Ramadan
Ilustrasi makanan saat sahur. (istockphoto.com/Edwin Tan)
  • Penyimpanan makanan sisa sahur harus dilakukan maksimal dua jam setelah makan agar terhindar dari pertumbuhan bakteri dan tetap aman dikonsumsi saat berbuka atau sahur berikutnya.

  • Makanan perlu didinginkan terlebih dahulu sebelum masuk kulkas, disimpan dalam wadah tertutup, serta dipisahkan antara nasi, lauk, dan sayur untuk menjaga kualitas dan daya tahannya.

  • Suhu kulkas ideal di bawah 4°C dan freezer sekitar -18°C; panaskan makanan hingga merata sebelum dikonsumsi ulang serta hindari pemanasan berulang agar tidak cepat rusak.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
  • What?
    Panduan delapan langkah penyimpanan makanan sisa sahur agar tetap aman, higienis, dan tahan lama selama bulan Ramadan.
  • Who?
    Masyarakat yang menjalankan ibadah puasa Ramadan dan ingin menjaga kualitas makanan sisa sahur di rumah masing-masing.
  • Where?
    Diterapkan di lingkungan rumah tangga, khususnya dapur dan area penyimpanan makanan seperti kulkas atau freezer.
  • When?
    Dilakukan setiap kali setelah makan sahur selama bulan Ramadan untuk mencegah kerusakan makanan sebelum waktu berbuka.
  • Why?
    Agar makanan sisa tidak cepat basi, terhindar dari kontaminasi bakteri, serta tetap layak dikonsumsi saat dipanaskan kembali.
  • How?
    Dengan menyimpan makanan maksimal dua jam setelah sahur, mendinginkan dengan benar, memisahkan jenis makanan, menjaga suhu kulkas ideal, serta memanaskan ulang secara merata tanpa berulang kali.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Bagi sebagian orang, sahur seringkali terasa terburu-buru. Mata masih berat, waktu terbatas, dan porsi masakan kadang tidak habis. Akhirnya, makanan sisa sahur dibiarkan begitu saja di meja dapur hingga siang hari. Padahal, cara menyimpan makanan setelah sahur sangat menentukan kualitas dan keamanannya saat ingin dikonsumsi kembali.

Selama Ramadan, tubuh berpuasa lebih dari 12 jam. Sistem pencernaan yang kosong lebih sensitif terhadap makanan yang sudah terkontaminasi bakteri. Oleh karena itu, memahami cara menyimpan makanan sisa sahur dengan benar menjadi hal yang penting agar tetap aman, higienis, dan tetap lezat saat dipanaskan kembali.

Yuk, simak panduan lengkap yang bisa langsung kamu terapkan di rumah!

1. Segera simpan makanan maksimal dua jam setelah sahur

Ilustrasi sahur. (freepik.com/odua)

Makanan matang sebaiknya tidak berada di suhu ruang lebih dari dua jam. Di negara beriklim tropis seperti Indonesia, waktu aman bahkan bisa lebih singkat ketika suhu ruangan sedang panas.

Bakteri berkembang cepat pada suhu antara 5 hingga 60 derajat celsius. Jika makanan sisa sahur dibiarkan terlalu lama di meja makan, risiko kontaminasi dapat meningkat, meskipun tampilannya masih terlihat baik.

Setelah selesai makan, langsung pisahkan sisa makanan ke dalam wadah penyimpanan. Jangan menunggu hingga bangun siang atau menjelang berbuka. Kebiasaan sederhana ini membantu menjaga kualitas makanan dan mencegah potensi gangguan pencernaan.

2. Dinginkan dengan cara yang tepat sebelum masuk kulkas

Ilustrasi menyimpan makanan sebelum masuk kulkas. (unsplash.com/@wiaone72)

Tips menyimpan makanan sisa sahur berikutnya, hindari memasukkan makanan yang masih mengepul panas ke dalam kulkas. Uap panas bisa meningkatkan suhu di dalam lemari pendingin dan memengaruhi bahan makanan lain yang sudah tersimpan.

Biarkan makanan berada di suhu ruang sekitar 15 hingga 30 menit sampai uap panasnya hilang. Setelah itu, pindahkan ke wadah tertutup rapat. Jika porsinya besar seperti satu panci semur atau sayur sop, bagi menjadi beberapa wadah kecil agar proses pendinginan lebih cepat dan merata.

Wadah kedap udara juga membantu menjaga kelembapan, mencegah kontaminasi silang, serta menghindari aroma makanan bercampur satu sama lain di dalam kulkas.

3. Pisahkan nasi, lauk, dan sayur agar lebih awet

Ilustrasi menyimpan makanan dengan wadah food-grade. (pexels.com/Sarah Chai)

Setiap jenis makanan memiliki kadar air dan daya tahan yang berbeda. Nasi, lauk yang berkuah, sambal, dan sayuran sebaiknya disimpan terpisah.

Sayuran yang dicampur dengan kuah akan lebih cepat lembek dan berubah tekstur. Sambal yang tercampur lauk juga bisa mempercepat proses pembusukan karena kandungan air dan minyaknya.

Dengan menyimpannya secara terpisah, kamu lebih mudah mengontrol kualitas masing-masing makanan dan hanya mengambil bagian yang ingin dipanaskan kembali.

4. Perhatikan suhu ideal kulkas dan freezer

Ilustrasi menyimpan makanan di dalam kulkas. (Freepik.com/ Freepik)

Suhu kulkas ideal berada di bawah 4 derajat celsius. Agar makanan sisa sahur bisa awet, Freezer sebaiknya berada di sekitar minus 18 derajat celsius. Suhu yang tepat membantu memperlambat pertumbuhan bakteri dan menjaga makanan lebih tahan lama.

Untuk penyimpanan lebih dari tiga hari, freezer bisa menjadi pilihan. Beri label tanggal penyimpanan agar tidak lupa kapan makanan tersebut dimasak. Cara ini memudahkan kamu menerapkan sistem konsumsi berdasarkan urutan penyimpanan.

5. Ketahui batas ketahanan makanan di kulkas

Ilustrasi menyimpan makanan di dalam kulkas. (pexels.com/Kevin Malik)

Meskipun disimpan dengan baik, makanan tetap memiliki batas aman konsumsi. Nasi putih umumnya aman selama tiga hingga empat hari di kulkas. Ayam dan daging matang bertahan tiga hingga empat hari.

Ikan matang sebaiknya dikonsumsi dalam dua hingga tiga hari. Sayur tumis bertahan sekitar dua hingga tiga hari. Makanan bersantan justru lebih sensitif dan idealnya dihabiskan dalam satu hingga dua hari.

Sebelum mengonsumsi ulang, periksa aroma, warna, dan teksturnya. Jika tercium bau asam, muncul lendir, atau rasanya berubah, sebaiknya tidak dikonsumsi lagi.

6. Panaskan hingga merata dan hindari pemanasan berulang

Ilustrasi menghangatkan makanan sisa. (pexels.com/cottonbro studio)

Saat akan menyantap kembali makanan sisa sahur, panaskan hingga benar-benar merata. Suhu ideal pemanasan berada di sekitar 74 derajat celsius agar bakteri yang mungkin berkembang bisa diminimalkan.

Ambil secukupnya saja sesuai kebutuhan. Menghangatkan seluruh makanan lalu menyimpannya kembali berulang kali bisa menurunkan kualitas dan mempercepat kerusakan.

Jika menggunakan microwave, tutup makanan dengan penutup khusus dan aduk di tengah proses pemanasan agar panas tersebar merata.

7. Hindari kebiasaan yang mempercepat makanan basi

Ilustrasi menyimpan makanan di dalam kulkas. (freepik.com/freepik)

Beberapa kebiasaan tanpa disadari bisa membuat makanan lebih cepat rusak. Menyimpan makanan dalam panci terbuka di kulkas, mencicipi dengan sendok yang sama berkali-kali, atau membekukan ulang makanan yang sudah dicairkan termasuk hal yang sebaiknya dihindari.

Menata isi kulkas juga berpengaruh. Jangan menumpuk terlalu penuh karena sirkulasi udara dingin bisa terganggu dan suhu tidak merata.

8. Strategi mengolah ulang makanan sisa sahur

Ilustrasi membuat olahan nasi goreng. (pexels.com/RDNE Stock project)

Agar tidak bosan, makanan sisa sahur bisa diolah kembali menjadi menu baru. Ayam goreng bisa dipotong kecil dan dijadikan tambahan di nasi goreng. Olahan daging dapat diolah menjadi isian roti atau topping. Nasi putih juga bisa diubah menjadi nasi bakar atau nasi goreng kampung.

Perencanaan menu sejak awal juga membantu mengurangi sisa makanan berlebihan. Memasak sesuai porsi realistis dan memilih lauk yang lebih tahan lama bisa membuat pengelolaan dapur selama Ramadan lebih praktis.

Dengan memahami langkah-langkah ini, kamu tidak perlu lagi ragu saat menyimpan atau menghangatkan kembali makanan sisa sahur. Dapur tetap terkelola dengan baik, makanan lebih awet, dan ibadah puasa pun bisa dijalani dengan lebih tenang dan nyaman.

Semoga bermanfaat, ya!

Editorial Team

EditorAyu Utami