Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popbela lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
VIVAIA RE:WORK FW26, Eksplorasi Sepatu Workwear yang Fashion-Forward
Dok. VIVAIA Indonesia
  • VIVAIA meluncurkan RE:WORK FW26 di Indonesia, koleksi pertama di bawah Creative Director Alan Buanne, yang memadukan karakter modern workwear, estetika fashion, dan kenyamanan untuk aktivitas harian.

  • Koleksi ini menghadirkan loafer, clogs, sneakerinas, slingbacks, heels, dan boots; tiga sorotan utamanya Buna, Addison, serta Scarlett dengan detail material, bentuk, dan fitur kenyamanan berbeda.

  • VIVAIA juga memperkenalkan lini The Other Side of Nature bernuansa velvet dan embroidery botani, sementara Alan Buanne menyatakan minat mengeksplorasi heritage Indonesia untuk desain footwear kontemporer.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    VIVAIA memperkenalkan koleksi footwear RE:WORK FW26 dan lini The Other Side of Nature, yang menggabungkan desain workwear modern, kenyamanan, material velvet, serta detail embroidery botani.
  • Who?
    VIVAIA menghadirkan koleksi tersebut di bawah arahan Alan Buanne, Creative Director VIVAIA sejak 2025.
  • Where?
    Koleksi RE:WORK FW26 diperkenalkan VIVAIA di Indonesia.
  • When?
    RE:WORK FW26 merupakan koleksi musim gugur/dingin 2026; waktu peluncuran rinci per saat ini masih belum diketahui.
  • Why?
    Koleksi ini dirancang merespons kebutuhan perempuan akan footwear yang dapat digunakan untuk bekerja, berpindah aktivitas, menghadiri pertemuan, dan kegiatan setelah jam kantor.
  • How?
    VIVAIA menghadirkan loafers, clogs, sneakerinas, slingbacks, heels, dan boots melalui pembaruan proporsi, material, tekstur, warna, cushioned insole, toe box luas, serta outsole anti selip.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Saat ini sepatu bukan lagi sekadar pelengkap outfit. Di tengah mobilitas yang semakin dinamis, footwear ikut menjadi bagian dari cara seseorang membangun personal style—mulai dari siluet yang dipilih, warna, material, hingga bagaimana sepatu tersebut mampu mengikuti berbagai aktivitas dalam satu hari.

Melihat perubahan tersebut, VIVAIA menghadirkan koleksi RE:WORK FW26 di Indonesia, koleksi penuh pertama yang dirancang di bawah arahan Alan Buanne sejak dirinya ditunjuk sebagai Creative Director VIVAIA pada 2025. Membawa interpretasi baru terhadap modern workwear, koleksi ini mengeksplorasi bagaimana sepatu dapat memiliki karakter fashion yang lebih kuat tanpa mengesampingkan kenyamanan.

Saat Sepatu Kerja Menjadi Bagian dari Personal Style

Dok. VIVAIA Indonesia

Terinspirasi dari penggunaan “RE:” yang familiar dalam subject email, RE:WORK memainkan makna “regarding work” sekaligus gagasan untuk melihat kembali dan mengolah ulang wardrobe footwear sesuai cara perempuan bekerja dan menjalani kesehariannya saat ini.

Jika fashion biasanya dimulai dari pertanyaan sederhana seperti “Apakah terlihat bagus?” atau “Apakah sedang tren?”, RE:WORK mengajak melihat footwear dari perspektif yang lebih luas.

Bagaimana rasanya ketika dipakai? Apakah bisa mengikuti kebutuhan sepanjang hari? Apakah tetap relevan ketika dikenakan untuk berbagai aktivitas dan kesempatan?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi bagian dari pendekatan VIVAIA dalam merancang koleksi FW26. Siluet yang familiar seperti loafers, clogs, sneakerinas, slingbacks, heels, hingga boots dihadirkan kembali melalui proporsi, material, tekstur, dan pilihan warna yang lebih modern.

Dok. VIVAIA Indonesia

Menurut Alan Buanne, tantangan dalam menciptakan footwear adalah menemukan keseimbangan antara sesuatu yang membuat pemakainya terlihat menarik dan sepatu yang benar-benar ingin digunakan setiap hari.

“Menurut saya, selalu ada keseimbangan yang perlu dijaga. Pada dasarnya, sudah jelas sekali setiap orang ingin tampil menarik. Namun, bagi VIVAIA hal itu tidak selalu berarti sekadar mengejar tren. Kami berkomitmen pada kreativitas dan menjadikannya sebagai inti dari merek ini. Kami juga berupaya menghadirkan kenyamanan pada sepatu kami. Hal itulah yang juga menjadi kunci kesuksesan kami saat ini, serta menjadi fokus utama kami dalam memperhatikan setiap detail,” ujar Alan.

Karena itu, VIVAIA tetap mempertahankan aspek kenyamanan sebagai salah satu elemen penting. Di sisi lain, Alan juga menjelaskan tentang karakter sebuah footwear justru dapat dibangun melalui detail-detail yang mungkin terlihat sederhana. Mulai dari eksperimen material, bentuk toe, tekstur, hingga warna menjadi bagian dari proses kreatif untuk menemukan titik temu antara estetika dan kenyamanan.

“Kami juga melakukan penyempurnaan, uji coba, dan inovasi material, serta mencoba bentuk ujung sepatu yang baru—singkatnya, bereksperimen. Kami berupaya menemukan keseimbangan antara kenyamanan dan pembuatan sepatu berkualitas tinggi, sembari mencari tekstur, warna, dan aksesori yang menarik,” jelasnya.

Tiga Siluet yang Merepresentasikan RE:WORK

Dok. VIVAIA Indonesia

Pendekatan tersebut dapat dilihat melalui beberapa footwear dalam koleksi RE:WORK FW26. Masing-masing hadir dengan karakter berbeda, tetapi tetap membawa keseimbangan antara fashion dan kenyamanan.

Round-Toe Clog Mules (Buna) menawarkan interpretasi baru dari clog melalui desain slip-on mule. Siluet ini dilengkapi cushioned footbed, roomy 97mm toe box, serta outsole anti selip. Selain mudah dikenakan, desainnya juga machine-washable sehingga terasa praktis untuk berbagai aktivitas, termasuk bekerja dari rumah maupun menjalani hari kantor yang lebih santai.

Dok. VIVAIA Indonesia

Sementara itu, Pointed-Toe Slingback Heels (Addison) memberikan tampilan yang lebih polished. Siluet pointed toe dan slingback menghadirkan kesan graceful, sementara cushioned insole dirancang untuk mendukung penggunaan dari siang hingga malam. Karakternya cocok bagi perempuan yang menyukai gaya timeless tetapi tetap membutuhkan kemudahan dalam keseharian.

Untuk sentuhan yang lebih sophisticated, ada Velvet Whipstitched Kitten Heels (Scarlett). Sepatu ini menggunakan recycled velvet dengan tekstur yang lebih kaya untuk musim FW26. Pointed toe membuat bentuk kaki terlihat lebih jenjang, sementara toe box dirancang agar tetap nyaman digunakan sepanjang hari.

Ketiganya menunjukkan bagaimana satu konsep workwear dapat diterjemahkan ke dalam berbagai karakter. Ada yang lebih casual, polished, hingga refined, sehingga pilihan footwear bisa mengikuti kebutuhan dan personal style masing-masing.

Menghadirkan Karakter Lewat Setiap Langkah

Dok. VIVAIA Indonesia

Bagi VIVAIA, perubahan cara perempuan bekerja juga ikut memengaruhi cara mereka memilih footwear. Aktivitas dalam satu hari kini bisa sangat beragam—mulai dari bekerja, meeting, berpindah tempat, hingga menghadiri acara setelah jam kantor.

Dalam konteks tersebut, sepatu tidak lagi hanya berfungsi untuk menyempurnakan outfit. Siluet footwear juga dapat membantu mendefinisikan karakter sebuah penampilan sekaligus merefleksikan gaya hidup pemakainya.

Hal ini menjadi semakin relevan di Indonesia, ketika footwear telah menjadi bagian penting dari personal style. Sepatu dengan karakter yang kuat tetap bisa menjadi pilihan sehari-hari selama desainnya mampu beradaptasi dengan berbagai kebutuhan.

RE:WORK pun hadir dengan pemikiran tersebut: sebuah footwear tidak harus terpaku pada satu kesempatan atau satu mood. Sebaliknya, desain yang kuat justru dapat memiliki lebih dari satu interpretasi ketika dipadukan dengan gaya yang berbeda.

"The Other Side of Nature" Hadir dengan Nuansa Lebih Gelap

Dok. VIVAIA Indonesia

Selain RE:WORK FW26, VIVAIA juga memperkenalkan The Other Side of Nature, lini desain yang masih terhubung dengan semangat RE:WORK, tetapi membawa interpretasi alam yang lebih gelap dan ekspresif.

Alih-alih mengambil inspirasi dari alam ketika sedang berada dalam kondisi paling berwarna dan bermekaran, lini ini mengeksplorasi fase ketika tumbuhan mulai memudar, berubah, dan memasuki siklus baru.

Bahasa visual tersebut diterjemahkan melalui hand-drawn botanical embroidery yang mengambil referensi dari batang, daun, serta bentuk-bentuk organik. Detail tersebut kemudian diaplikasikan pada material velvet untuk menghasilkan tampilan yang bold, minimal, sekaligus memiliki sentuhan nostalgia.

The Other Side of Nature mencakup Jazura Mini Square-Toe Velvet Flat, Laban Velvet Casual Sneaker, dan Errai Pointed-Toe Velvet Ankle Heel Boot. Ketiganya memperluas eksplorasi embroidery dan velvet ke dalam berbagai kategori footwear, mulai dari flat, sneaker, hingga ankle boots.

Siluet Timeless untuk Gaya yang Lebih Versatile

Dok. VIVAIA Indonesia

Ketika berbicara soal desain yang timeless, Alan tidak melihatnya sebagai sesuatu yang harus selalu mengikuti tren. Menurutnya, wardrobe footwear tetap membutuhkan sejumlah siluet esensial yang dapat digunakan berulang kali.

“Sering kali kita melihat barang yang menarik perhatian kita seketika. Namun, kita juga kerap mempertanyakan ‘seberapa sering barang ini akan benar-benar kita pakai?’. Bagi saya, urusan alas kaki itu soal memiliki barang-barang yang esensial. Dan yang termasuk esensial itu pastilah sepatu teplek yang benar-benar nyaman,” katanya.

Ia kemudian menyebut comfortable flat shoes, ankle boots, dan block heels sebagai beberapa elemen yang penting dalam sebuah wardrobe. Lebih dari sekadar memiliki bentuk yang timeless, Alan juga menilai sebuah footwear perlu cukup fleksibel untuk berpindah dari satu gaya ke gaya lainnya.

“Jadi, menurut saya, elemen dan siluet semacam itu sangatlah penting untuk dihadirkan. Selain itu, kami juga memastikan untuk menciptakan sepatu yang serbaguna—yang tidak terpaku pada satu suasana atau satu jenis pakaian tertentu—melainkan benar-benar menampilkan siluet yang kuat dengan pilihan warna yang cocok untuk berbagai musim,” ungkapnya. 

Bagi Alan, footwear sebaiknya tidak terlalu terikat pada satu mood atau satu outfit tertentu. Warna yang bisa digunakan lintas musim dan siluet yang mudah dipadukan membuat sebuah sepatu memiliki kemungkinan penggunaan yang lebih panjang.

Ingin Membawa Inspirasi Heritage Indonesia ke Footwear

Dok. VIVAIA Indonesia

Menariknya, begitu ditanya mengenai footwear yang ingin ia perkenalkan di Indonesia, Alan justru tertarik mengeksplorasi elemen yang memiliki hubungan dengan heritage lokal.

“Saya sangat tertarik dengan sepatu selop—jenis sepatu yang lebih mencerminkan warisan dan budaya Indonesia. Saya tahu sepatu ini memiliki sejarah yang panjang; dulu pria maupun wanita mengenakannya, namun kini biasanya hanya dipakai oleh pendamping pengantin pria dalam upacara atau pesta pernikahan. Menurut saya, ini adalah sepatu yang luar biasa karena desain bagian belakangnya yang terbuka,” ujarnya.

Menurut Alan, karakter open-back pada footwear tersebut juga menarik karena relevan dengan iklim Indonesia, sekaligus memberikan ruang untuk bermain dengan detail dan motif. Ia menyebut ketertarikannya terhadap warisan dan budaya Indonesia yang menurutnya memiliki karakter menarik.

Alan melihat peluang untuk mengembangkan pendekatan serupa seperti yang selama ini banyak ditemukan pada ready-to-wear lokal yang mengangkat inspirasi heritage Indonesia. Menurutnya, jika banyak desainer lokal telah mengeksplorasi warisan budaya melalui busana, pendekatan tersebut juga berpotensi diterjemahkan ke dalam footwear.

Pandangan tersebut membuka kemungkinan menarik tentang bagaimana elemen heritage dapat bertemu dengan desain footwear kontemporer. Bukan sekadar mengambil bentuk tradisional, tetapi mengolah kembali karakter tersebut agar relevan dengan cara berpakaian dan bergerak saat ini.

Pada akhirnya, RE:WORK bukan hanya tentang bagaimana sebuah sepatu terlihat saat dikenakan. Lebih dari itu, koleksi ini berbicara tentang bagaimana footwear dapat menjadi bagian dari identitas personal—mengikuti cara seseorang bekerja, bergerak, berpakaian, dan menjalani hari.

Curated For You

Editorial Team

Related Article