Sewindu Tobatenun, TULLOM hadirkan wajah baru Tenun Batak. (Dok. Tobatenun)
Salah satu sorotan utama dalam TULLOM adalah karya Peggy Hartanto yang mengeksplorasi Tenun Batak. Koleksi bertajuk Sang Penari ini menjadi koleksi wastra pertama dari sang desainer.
Pertemuan Peggy Hartanto dengan Tenun Batak dari Tobatenun bermula dari sebuah dialog kreatif yang diinisiasi Harper's Bazaar Indonesia dalam gelaran Karya Kreatif Indonesia yang diselenggarakan oleh Bank Indonesia. Dari proses tersebut, Peggy menerjemahkan karakter Tenun Batak melalui permainan bentuk, potongan yang presisi, serta siluet feminin yang menjadi bagian dari identitas desainnya.
Tenun ATBM kemudian diolah menjadi busana dengan tampilan yang relevan untuk kehidupan masa kini. Sementara itu, Tenun Batak Gedogan yang memiliki nilai sejarah mendapatkan pendekatan baru dengan tetap mempertahankan identitas serta nilai yang terkandung di dalamnya.
Sewindu Tobatenun, TULLOM hadirkan wajah baru Tenun Batak. (Dok. Tobatenun)
Salah satu karya yang menarik perhatian dari koleksi Sang Penari adalah apron vest yang dibuat menggunakan Ulos Sadum. Kain tersebut memiliki makna simbolis yang berkaitan dengan harapan dan kebahagiaan.
Peggy mengolah Ulos Sadum ke dalam bentuk apron vest dengan potongan tepian yang membulat. Detail tersebut menghasilkan siluet yang terasa fresh dan playful, sekaligus memberikan karakter baru pada kain yang memiliki sejarah dan makna budaya kuat.
Eksplorasi ini memperlihatkan bagaimana sebuah kain tradisional dapat mengalami transformasi bentuk tanpa kehilangan cerita yang melekat di dalamnya.
Melalui TULLOM, Tobatenun tidak hanya menandai perjalanan selama delapan tahun, tetapi juga menegaskan sebuah gerak yang terus berlangsung. Sebuah perjalanan untuk membawa Tenun Batak memasuki ruang-ruang baru, berdialog dengan berbagai pendekatan kreatif, serta terus menemukan relevansinya dari waktu ke waktu.