Sejauh Mata Memandang Membuka Toko Pertamanya di Plaza Indonesia

Sejauh Mata Memandang membuka Toko Sejauh, toko permanen pertamanya, di Plaza Indonesia pada 1 Oktober 2026 setelah 12 tahun berkarya.
Interior toko terinspirasi rumah masa kecil pendiri Chitra Subyakto, menggunakan tegel, kayu guna ulang, dan tenun tangan serta menampilkan karya kolaborator secara bergilir.
Pembukaan toko menghadirkan tenun Songke Flores; seluruh keuntungannya untuk penenun terdampak gempa. Sejauh juga meluncurkan koleksi baru dan Digital Product Passport berbasis QR.
Setelah 12 tahun berkarya dan menghadirkan berbagai cerita lewat tekstil Indonesia, Sejauh Mata Memandang akhirnya punya “rumah” sendiri. Pada Kamis, 1 Oktober 2026, brand tekstil Indonesia ini resmi membuka Toko Sejauh, toko permanen pertamanya yang berlokasi di Plaza Indonesia, Jakarta Pusat.
Buat Sejauh, kehadiran toko ini bukan sekadar soal memiliki ruang untuk menjual koleksi. Toko Sejauh dirancang sebagai tempat untuk mengenal lebih dekat karya, proses kreatif, hingga orang-orang yang berada di balik perjalanan brand ini. Menariknya lagi, lokasi tersebut punya cerita tersendiri karena menjadi tempat Sejauh menggelar pameran pertamanya pada 2015.

Hubungan Sejauh dengan Plaza Indonesia sebenarnya sudah dimulai lebih dari satu dekade lalu. Pada 2015, Sejauh mengadakan pameran pertamanya di tempat yang sama. Setelah itu, berbagai pameran, kolaborasi, dan inisiatif terus mempertemukan keduanya.
Kini, setelah 12 tahun perjalanan, Sejauh kembali ke Plaza Indonesia dengan sesuatu yang lebih permanen.
“Setelah 12 tahun, rasanya sudah waktunya Sejauh memiliki rumah,” ujar Chitra Subyakto, Pendiri sekaligus Direktur Kreatif Sejauh Mata Memandang.
Bagi Chitra, momen ini terasa personal. Bukan hanya karena menjadi toko pertama Sejauh, tetapi juga karena lokasinya membawa kembali kenangan tentang awal perjalanan brand tersebut.

Masuk ke Toko Sejauh, pengunjung nggak hanya menemukan rak berisi koleksi pakaian dan tekstil. Ruang ini juga dirancang dengan cerita yang cukup personal.
Bersama Felix Tjahjadi sebagai kolaborator pengarah kreatif, Sejauh mengambil inspirasi dari rumah yang ditempati Chitra saat kecil. Sejumlah foto rumah keluarga dan beberapa mebel antik dari rumah tersebut bahkan ikut dibawa ke dalam interior toko.
Warna terakota menjadi salah satu elemen utama, termasuk pada bagian fasad yang menggunakan tegel dari Tegel Kunci. Sementara itu, material kayu hasil guna ulang dimanfaatkan untuk sejumlah rak, pilar, dan mebel.
Untuk memperkuat unsur tekstil, sebagian dinding dilapisi tenun tangan berbahan serat alami dari ROA Handwoven.

Salah satu hal yang membuat Toko Sejauh berbeda dari pop-up store mereka adalah konsepnya yang lebih berkelanjutan. Ruang ini nggak hanya menjadi tempat untuk menghadirkan koleksi Sejauh, tetapi juga karya dari para kolaborator dan mitra Studio Sejauh.
Koleksi yang ditampilkan pun akan berganti secara berkala. Jadi, ada kemungkinan setiap kunjungan menghadirkan cerita dan karya yang berbeda.
Pada pembukaannya, Sejauh menggandeng Rumah Tenun Baku Peduli dengan koleksi tenun Songke dari Cibal, Flores, Nusa Tenggara Timur. Tenun tersebut dibuat oleh para penenun lokal menggunakan pewarna alami dari kekayaan alam setempat.

Koleksi Rumah Tenun Baku Peduli yang hadir di Toko Sejauh menjadi bagian dari upaya mendukung pemulihan ekonomi para penenun yang terdampak gempa bumi magnitudo 7,7 pada 15 Agustus 2026.
Yang menarik, 100 persen keuntungan dari penjualan kain-kain tersebut dikembalikan kepada para penenun. Dengan begitu, pembelian karya di Toko Sejauh juga menjadi bagian dari dukungan untuk pemulihan jangka panjang sekaligus keberlanjutan tradisi menenun di Cibal.

Bertepatan dengan pembukaan toko, Sejauh juga memperkenalkan sejumlah karya baru. Salah satunya adalah motif terbaru dari koleksi hasil kolaborasi bersama seniman Indonesia Eko Nugroho.
Selain itu, hadir pula koleksi pakaian berbahan tenun jacquard katun dengan motif Ayam serta tenun chambray katun dalam berbagai pilihan warna. Koleksi ini melanjutkan eksplorasi Sejauh dalam penggunaan pewarna nabati.

Komitmen Sejauh terhadap isu lingkungan juga ikut dibawa ke pembukaan toko. Sejauh bergabung dalam gerakan #PatunganUntukHutan yang diinisiasi Ferry Irwandi bersama berbagai organisasi konservasi lingkungan.
Donasi yang diberikan melalui Kitabisa ditujukan untuk mendukung tim di lapangan dalam mencegah kebakaran hutan, melakukan respons darurat, serta membantu pemulihan habitat satwa yang terdampak.

Di sisi lain, Sejauh juga mulai memperkenalkan Digital Product Passport (DPP) pada produk-produknya. Terhubung dengan platform Mula, DPP memungkinkan pelanggan mengetahui lebih jauh perjalanan sebuah produk, mulai dari material, asal bahan, proses pembuatan, hingga pihak-pihak yang terlibat.
Informasi tersebut dapat diakses melalui QR code pada label gantung produk. Nggak hanya soal asal-usul pakaian, DPP juga menyediakan informasi mengenai perawatan, perbaikan, hingga perjalanan produk setelah berada di tangan pemiliknya.

Setelah 12 tahun, Toko Sejauh terasa seperti milestone baru untuk brand ini. Apalagi, tempatnya kembali ke Plaza Indonesia, lokasi yang pernah menjadi saksi pameran pertama Sejauh pada 2015.
Kalau kamu penasaran, Toko Sejauh bisa dikunjungi setiap hari di Plaza Indonesia Level 3, dekat akses menuju Grand Hyatt.























