Melansir dari sebuah wawancara di tahun 2017 mengenai pengamatan yang dibuat oleh Yukihiro Katsuta, Kepala Riset dan Desain di UNIQLO, ia mengatakan, “Saya selalu tahu dia adalah seorang desainer berbakat; tetapi sejak kami mulai bekerja bersama, saya menyadari bahwa dia adalah seorang pemikir yang mendalam. Ada jutaan desainer di dunia, tetapi jarang menemukan seseorang yang berpikir lebih dalam sebelum mengeksekusi.”
Well, bagi pemerhati mode, pasti tahu kebiasaan Jonathan yang senang mengenakan sweater dan celana jeans ketika keluar dan melambaikan tangan di setiap fashion show yang ia sajikan. Sehingga, kolaborasi ini seperti jodoh yang terasa personal untuknya.
“UNIQLO adalah sesuatu yang saya pakai setiap hari, jadi ini sangat personal bagi saya dan saya sangat bersemangat dengan prospek kolaborasi. Kita selalu membicarakan kolaborasi seolah-olah itu adalah fenomena yang sangat baru, tetapi sebenarnya sudah ada sejak zaman Schiaparelli dan Salvador Dali. Intinya adalah berkolaborasi dengan individu, merek, perusahaan, atau produk yang ingin Anda pelajari dan sebaliknya. Jika Anda melakukan sesuatu di mana Anda tidak ingin belajar, kolaborasi itu tidak akan pernah berhasil," ungkapnya kepada BURO.
“Ini adalah kolaborasi termudah yang pernah saya lakukan. Prosesnya sangat bebas. Melalui percakapan kelompok, semuanya dengan cepat berjalan sesuai rencana. Saya terus bertanya pada diri sendiri apakah saya akan membelinya tanpa berpikir panjang, dan semuanya tiba-tiba muncul begitu saja,” tambahnya lagi.
Well I did. I bought it. Selain menjadi pelanggan tetap UNIQLO karena produknya yang awet, beberapa koleksi UNIQLO x JW ANDERSON sudah bertengger di gantungan lemari pakaian saya, mungkin sejak 2022. Ia sudah berkelana ke berbagai negara dan menjadi staple wardrobe autumn season.
Namun tentu, dengan gaya desain Jonathan yang tidak konvensional bertemu dengan merek streetwear, menjadi peleburan budaya yang melahirkan kebaruan. Lalu apa arti LifeWear baginya?
“Saat ini, saya mendesain untuk tiga merek berbeda, jadi kecuali saya dapat menemukan cara berbeda untuk mengeksplorasi ketiganya, saya pikir satu merek akan menelan merek lainnya. Jadi, dalam arti tertentu, merek saya sendiri, JW ANDERSON, adalah fantasi diri saya, sementara saya melihat koleksi UNIQLO sebagai realis dalam diri saya, ekspresi diri saya sehari-hari. Saya pikir bagian terbaik dari kolaborasi ini adalah bagaimana produk-produknya benar-benar ditujukan untuk semua orang, terlepas dari di mana Anda tinggal di dunia atau siapa Anda. Saya menemukan konsep ini sendiri sangat menarik," jelasnya.