SAPTO DJOJOKARTIKO mempersembahkan koleksi Spring/Summer 2027 bertajuk A Language Beyond Words. Dipresentasikan di Jakarta pada 20 Oktober 2026, koleksi ini mengajak kita melihat fashion dari perspektif yang lebih emosional. Bukan cuma soal outfit yang bagus atau siluet yang statement-making, tetapi bagaimana sebuah pakaian bisa menyampaikan sesuatu tanpa harus menjelaskannya secara literal.
Dari Batik hingga Bio-Sequin, Eksperimen SAPTO DJOJOKARTIKO di SS27

Take a Deeper Read
1. Fashion Menjadi Bahasa Emosi
Untuk Spring/Summer 2027, SAPTO DJOJOKARTIKO mengambil inspirasi dari gerakan seni Abstract Expressionism, yang dikenal lewat bentuk-bentuk abstrak, komposisi tak terduga, dan ekspresi yang nggak selalu bisa diterjemahkan secara harfiah.
Diwujudkan lewat permainan siluet yang kontras mulai dari potongan oversized dan garis panjang yang sleek bertemu dengan fitted shapes, A-line, peplum arsitektural, hingga volume balloon yang lebih playful. Ada look yang terasa tegas dan terstruktur, tetapi ada juga yang lebih fluid, asimetris, dan unpredictable.
2. Dunia Serba Pink
Bukan hanya di koleksi pakaian, seluruh presentasi dibangun dalam atmosfer serba pink yang mengajak pengunjung melihat warna tersebut dari sudut pandang berbeda.
SAPTO DJOJOKARTIKO membawa warna pink keluar dari asosiasi biasanya dan menjadikannya sebuah pengalaman visual yang lebih luas. Lewat permainan cahaya, refleksi, tekstur, hingga aroma, suasana presentasi dirancang untuk melibatkan lebih dari sekadar indera penglihatan. Pink bisa terasa bold, dreamy, intense, atau bahkan sedikit surreal, tergantung bagaimana kita menangkapnya.
3. Palet Warna Soft hingga Gelap
Palet warna koleksi ini cukup beragam, mulai dari nuansa soft seperti Oyster, Feta, dan Bonbon, sampai warna gelap seperti Nero dan Lava. Ada juga merah Sriracha, Merlot, dan Coral, hijau Herb, Basil, dan Olive, serta biru Bijou dan Slate.
Perpaduan warnanya nggak terpaku pada satu mood tertentu. Semuanya bermain menciptakan karakter yang bisa berubah dari lembut menjadi intens, atau dari calm menjadi lebih expressive.
4. Material dan Motif yang Eksploratif
Dari segi material, organza, sutra, katun, tulle, dan lyocell digunakan untuk mengeksplorasi transparansi, volume, dan gerakan. Salah satu detail yang paling menarik adalah bulu-bulu dari organza yang disusun dalam berbagai lapisan warna. Mengingatkan pada gestur ekspresif dalam karya Abstract Expressionism, termasuk lukisan Jackson Pollock.
Motif floral pun nggak dibuat dengan pendekatan yang biasa. Bentuk bunga sengaja didistorsi sehingga tampil lebih abstrak dan jauh dari representasi aslinya. Ornamen ylang-ylang hadir dengan gradasi warna yang menyerupai sapuan cat air.
5. Mengolah Warisan Tekstil Indonesia dengan Cara Baru
Salah satu bagian paling menarik dari koleksi ini adalah bagaimana SAPTO DJOJOKARTIKO mengolah inspirasi tekstil Indonesia dengan pendekatan yang lebih eksperimental.
Motif Isen, yang diperkenalkan sebagai #SAPTOJOPattern untuk musim ini, mengambil inspirasi dari Batik Gedog Tuban dan bunga ylang-ylang. Referensi tersebut kemudian dikembangkan lewat pola, bordir, dan teknik pengolahan tekstil yang lebih abstrak.
Batik Gedog juga dieksplorasi secara langsung oleh tim atelier. Benang-benangnya ditarik secara manual, diolah menjadi elemen yarn, lalu dirangkai kembali untuk menciptakan tekstur baru pada busana dan aksesori, termasuk bros.
6. Proses Craftsmanship yang Detail
Kalau dari luar koleksinya terlihat artsy dan effortless, proses di baliknya justru penuh detail teknis. Mulai dari pengembangan tekstil, pembuatan pola, bordir, manipulasi material, sampai finishing, semuanya dikerjakan secara internal oleh tim SAPTO DJOJOKARTIKO.
Salah satu teknik yang menarik adalah kerancang, teknik tekstil berlubang yang dikenal dalam tradisi Indonesia. Di koleksi ini, kerancang dilapiskan di atas bordir ylang-ylang dengan efek transparan yang memperlihatkan detail bunga di baliknya. Payet juga ditempatkan satu per satu untuk membangun permainan tekstur dan cahaya.
Ada pula teknik yang menciptakan ilusi material. Benang-benang dijahit rapat hingga permukaannya terlihat seperti wol, sementara teknik bordir tertentu menghasilkan tampilan menyerupai denim. Detail fringe juga dibuat melalui proses manual dengan benang crochet yang sengaja diolah menjadi lebih distressed, lalu dipadukan dengan mohair dan benang lainnya.
7. Inovasi Material Bio-Sequin
Selain eksplorasi tekstil, Spring/Summer 2027 juga memperkenalkan pengembangan bio-sequin biodegradable sebagai alternatif payet konvensional berbasis plastik. Material ini dikembangkan menggunakan bahan berbasis hayati, termasuk alginat dan agar sebagai pengikat, serta serat daun nanas dan kayu jati sebagai bahan pengisi.
Setiap payet punya variasi bentuk, tekstur, dan transparansi. Tidak identik satu sama lain, justru ada perbedaan kecil yang membuat permukaannya terasa lebih unik.
8. Aksesori dengan Bahasa Visual yang Sama
Eksplorasi kreatif musim ini nggak berhenti di ready-to-wear. Lini #SAPTOJOAccs juga membawa bahasa visual yang sama lewat berbagai aksesori. Bros dan anting terinspirasi dari bunga lily of the valley dan bird of paradise, tetapi bentuknya diolah menjadi interpretasi floral yang lebih abstrak.
Tas Lora kembali hadir dengan konstruksi yang lebih ringan, dihiasi bulu organza dengan efek gradasi warna serta bordir Isen yang juga digunakan pada sejumlah pakaian.
Sementara itu, footwear hadir dalam pilihan kitten heels dan block heels dengan kombinasi dua hingga tiga warna, plus perpaduan material dan tekstur yang bikin tampilannya makin dinamis.
Curated For You
- SAPTO DJOJOKARTIKO Perkenalkan Koleksi Fall/Winter 2026 Bertajuk The Quiet Strength03 Aug 2026, 09:30 WIB
- SAPTO DJOJOKARTIKO x PILLAR Modern Heritage untuk Raya 202625 Feb 2026, 18:30 WIB
- Sambut Ramadan, SAPTO DJOJOKARTIKO Luncurkan PILLAR Raya 202501 Mar 2025, 17:30 WIB