Pernah terpikir kalau baju yang kita pakai ternyata punya perjalanan panjang sebelum akhirnya sampai di lemari? Hal ini yang coba dibawa SukkhaCitta lewat rumah barunya di Lantai 3 Plaza Indonesia. Uniknya, pembukaan butik ini bertepatan dengan musim panen kapas di desa-desa Jawa Timur. Saat koleksi terbaru hadir di Jakarta, kapas yang menjadi salah satu bahan dasarnya juga sedang dipanen langsung oleh para petani di tempatnya tumbuh.
Salah satunya adalah Ibu Kasmini, petani kapas dari Jawa Timur. Siapa sangka, kapas yang tumbuh dari ladangnya bisa punya perjalanan sejauh ini, bahkan pernah menjadi bagian dari karya yang dikenakan pemain selo dunia Yo-Yo Ma dan ahli oseanografi Dr. Sylvia Earle.
Begitu masuk ke rumah baru SukkhaCitta, satu hal yang langsung terasa adalah kedekatannya dengan alam. Hampir setiap warna punya cerita sendiri. Warna biru indigo berasal dari daun yang difermentasi selama sekitar tiga minggu. Warna pink lembut datang dari kayu secang, sementara warna keemasan berasal dari buah Terminalia belerica.
Kapasnya juga bukan datang begitu saja. Tanaman kapas tumbuh berdampingan dengan jagung, cabai, dan kacang hijau di ladang-ladang Jawa Timur.
Sistem ini dikenal sebagai Tumpang Sari, sebuah kearifan lokal yang sudah lama dipraktikkan masyarakat Jawa. Berbagai tanaman tumbuh bersama, saling membantu, dan membuat tanah tetap produktif. “Berada di toko ini selama musim panen berarti kapas yang ada di tangan Anda dan kapas yang ada di ladang kami adalah kisah yang sama, yang terjadi pada saat yang sama,” ujar Denica Riadini-Flesch, Pendiri dan CEO SukkhaCitta.
Kalau biasanya pakaian cuma jadi outfit, SukkhaCitta ingin membuat setiap helainya terasa seperti sebuah cerita yang bisa dipakai. Ada kain yang motifnya dibuat menggunakan malam panas, garis demi garis, selama kurang lebih 40 hari. Ada juga kain ikat yang desainnya sudah ada di kepala sang pengrajin bahkan sebelum benang pertama mulai ditenun.
Dan yang bikin menarik, motif-motif tersebut bukan sekadar untuk bikin kain terlihat cantik. Di baliknya ada doa, harapan, janji, dan pesan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Pengunjung bahkan bisa mengetahui perjalanan sebuah karya mulai dari benih, tanah, hingga tangan perempuan yang membuatnya. Beberapa karya juga mencantumkan nama pengrajinnya. Jadi, orang yang selama ini mungkin berada di balik layar akhirnya mendapatkan ruang untuk dikenal.
Bertepatan dengan musim panen, SukkhaCitta juga memperkenalkan dua babak baru, yaitu KAPAS dan IKATAN. KAPAS menjadi perayaan terhadap kapas regeneratif yang dipanen langsung dari ladang pada bulan ini. Sementara IKATAN mengangkat kembali seni tenun ikat Indonesia yang sudah menjadi bagian dari budaya Nusantara selama berabad-abad.
Koleksi ini menggunakan pewarna alami yang sepenuhnya berasal dari tanaman. Keduanya menjadi contoh bagaimana tradisi bisa tetap relevan ketika diolah dengan pendekatan yang lebih modern tanpa kehilangan akar budayanya.
Menariknya lagi, rumah baru SukkhaCitta ini juga punya cerita tentang keberlanjutan. Sejumlah perlengkapan, struktur, dan material dari pop-up store sebelumnya tidak begitu saja dibuang. Semuanya diadaptasi dan digunakan kembali untuk menciptakan ruang baru.
Dengan memberikan kehidupan kedua pada berbagai material tersebut, butik ini menerapkan prinsip yang sama dengan pakaian yang dijualnya yaitu menghargai proses, memperpanjang usia, dan memahami cerita di balik setiap material.
Rumah baru SukkhaCitta di Lantai 3 Plaza Indonesia menjadi titik pertemuan antara Jakarta dan desa-desa penghasil kapas, antara fashion dan tradisi, serta antara konsumen dan orang-orang yang berada di balik sebuah karya.
