Isu mental health semakin besar gaungnya. Banyak orang yang saat ini memperjuangkan kesehatan mental di lingkungan kerja, atau lebih dikenal dengan work life balance, yakni kwseimbangan antara kehidupan pribadi dan pekerjaanmu.

Sempat lewati masa pandemi, ternyata ada beberapa hal menarik soal mental health yang dialami oleh para pekerja. Pemaparan kesehatan mental di lingkungan kerja tersebut disampaikan oleh pemateri yang andal di bidangnya pada acara Indonesia Millenial and Gen-Z Summit 2022 bertajuk Prioritazing Mental Health for Better Workplace and Workforce, Jumat (30/9/2022).

Fakta tingkat gangguan kesehatan mental karyawan

#IMGS2022: Benarkah Pemerintah Prioritaskan Kesehatan Mental Pekerja?Dok. IDN Media

"Hal yang harus disadari dalam dunia kerja adalah fase burn out. Terlepas itu masa pandemi atau tidak, para pegawai sering alami penurunan kualitas kerja dan prestasi, itulah salah satu tanda kita sedang alami burn out tersebut," ucap Nova Riyanti Yusuf, seorang Secretary General Asian Federation of Psychiatric Association. 

Seperti yang telah dikatakan, bahwa fenomena burn out ini sebenarnya sudah ada sejak jauh sebelum pandemi menyerang. Akan tetapi, dengan terjadinya lockdown kala itu, menimbulkan awareness akan kesehatan mental seseorang, termasuk pula para pekerja. 

"Secara statistik di saat itu, orang-orang yang tak tahu mental health, jadi tahu mental health,” kata Audrey Maximillian Herli, Co-Founder Riliv, sebuah start up mental health.

Itulah alasan mengapa saat ini banyak perusahaan yang sedang memprioritaskan kesehatan mental di lingkungan kerja terlebih dahulu. 

Tempat kerja yang ideal agar kurangi isu mental health

#IMGS2022: Benarkah Pemerintah Prioritaskan Kesehatan Mental Pekerja?Dok. IDN Media

Ada banyak hal yang bisa dilakukan perusahaan agar meminimalisir angka pekerja yang alami gangguan kesehatan mental. Uni Lubis, seorang Editor in Chief IDN Times memaparkan apa saja hal-hal yang bisa dilakukan. 

"Menghargai nilai setiap pekerja, meningkatkan fleksibilitas, dan juga menerapkan budaya egaliter," ucap perempuan yang akrab dipanggil Uni.

"Menyediakan seorang mental health counselor sendiri di perusahaan juga hal yang sangat baik untuk dilakukan. Jadi pekerja bisa langsung curhat ke ahlinya," sambungnya. 

Menurut Uni, menjalin hubungan dan menciptakan lingkungan kerja yang nyaman akan membuat karyawan semakin produktif. 

Upaya pemerintah memperhatikan kesehatan mental pekerja

#IMGS2022: Benarkah Pemerintah Prioritaskan Kesehatan Mental Pekerja?Dok. IDN Media

Nova Riyanti sempat menduduki jabatan Komisi IX di DPR RI. Saat itu, ia mengaku bahwa sebenarnya ia sudah merancang Undang-Undang yang berkaitan dengan kesehatan mental di tempat kerja. Namun sayang, Undang-Undang itu tak pernah terbit meski sudah 8 tahun lamanya. 

"Seperti biasa alasannya selalu karena tidak ada anggaran. Jadi saya harap, kalau negara tidak bisa melakukan dan mengusahakan kesehatan jiwa karyawannya, maka mulailah dari tingkat internal perusahaan terlebih dahulu," ujar Novi. 

Trend isu mental health ini memberikan dampak positif bagi semua aspek, termasuk lingkungan kerja. Semoga kita selalu sehat raga dan jiwa, ya, Bela. 

Baca Juga: Langsung dari Pakarnya, Ini 5 Mitos Mental Health yang Perlu Diketahui

Baca Juga: #IMGS2022: Nina Moran Ungkap Makna Healing & Bagikan Cerita soal RTT

Baca Juga: #IMGS2022: Kisah Febby Rastanty Alami Sandwich Generation Burden