Guruh adalah sosok yang sangat multitalenta, memadukan dunia kebudayaan dan politik. Sejak kecil, Guruh telah terlatih sebagai penari yang terampil di samping mengasah bakatnya di dunia musik. Hingga akhirnya, pada tahun 1977, Guruh mendirikan kelompok seni pertunjukan Swara Maharddhika. Kelompok ini menjadi wadah generasi muda dalam mengekspresikan seni tari, musik, dan pertunjukan kolosal modern yang berakar pada budaya Indonesia.
Ia juga tercatat mendirikan grup kesenian Indonesia yang bernama GSP Production (Gencar Semarak Perkasa). Masih di tahun yang sama, ia debut bersama grup musik yang dibuatnya bernama Guruh Gipsy yang beranggotakan Chrisye, Abadi Soesman, dan kawan-kawan. Mereka merilis album eksperimental Guruh Gipsy bersama grup musik Gipsy yang memadukan unsur musik progresif rock dengan gamelan Bali dan diakui sebagai salah satu karya legendaris musik Indonesia.
Di tahun 1980-an, Guruh aktif menjadi komposer dan koreografer. Ia menciptakan berbagai lagu hits tanah air seperti “Zamrud Khatulistiwa”, “Renjana”, “Kala Cinta Menggoda”, "Lenggang Puspita", "Mahadaya Cinta", "Galih dan Ratna" dan “Melati Suci”. Ia juga memproduksi pagelaran seni kolosal berskala nasional. Pada tahun 2023, lagu ciptaannya "Kala Sang Surya Tenggelam" kembali populer setelah diunggulkan di serial Gadis Kretek.
Baru di era 1992, Guruh memulai karier politiknya. Seniman tersebut terjun ke dunia politik dengan bergabung bersama Partai Demokrasi Indonesia (PDI). Pada Pemilu 1992, ia terpilih menjadi anggota DPR RI.
Setelah era Reformasi, Guruh melanjutkan kiprah politiknya melalui PDI Perjuangan (PDIP) dan konsisten terpilih sebagai Anggota DPR RI mewakili daerah pemilihan Jawa Timur. Hingga masa senjanya, ia aktif sebagai pengurus di PDI Perjuangan.