Meskipun sering dianggap sepele atau sekadar "enak karena gaji buta," boreout memiliki dampak yang sangat merusak baik untuk pekerja maupun perusahaan. Untuk pekerja, fenomena ini bisa menyerang kesehatan mental. Kebosanan yang berkepanjangan memicu perasaan hampa dan ketidakberdayaan. Penelitian di Turki (2021) menunjukkan bahwa pekerja yang mengalami boreout memiliki tingkat depresi dan kecemasan yang jauh lebih tinggi.
Bekerja tanpa ada tugas yang jelas juga membuat karyawan harus terus-menerus pura-pura sibuk agar tidak ditegur atau terlihat malas. Ketakutan akan ini justru menciptakan tingkat stres psikologis yang konstan. Karena keahliannya tidak pernah digunakan (underutilization of skills), karyawan mulai meragukan kapasitas dirinya sendiri dan mengalami imposter syndrome.
Nggak cuma secara mental, boreout juga bisa berdampak pada kondisi fisik tubuh, seperti gangguan tidur atau insomnia, sakit kepala kronis dan leher tegang, sistem imun melemah, hingga keletihan ekstrim.
Di sisi lain, perusahaan juga bisa meruhi baik secara finansial, maupun operasional. Misalnya, perusahaan membayar gaji penuh untuk kapasitas kerja yang hanya terpakai sebagian kecil.
Studi dari Finlandia terhadap lebih dari 11.000 pekerja menemukan bahwa kebosanan kronis secara signifikan meningkatkan niat karyawan untuk mengundurkan diri (resign) atau pensiun dini. Karyawan berbakat (top talent) biasanya menjadi yang paling cepat pergi ketika merasa tidak ada ruang untuk berkembang.
Boreout bersifat menular. Ketika beberapa anggota tim kehilangan antusiasme dan dorongan untuk berinovasi, budaya kerja secara keseluruhan akan bergeser menjadi apatis, pasif, dan defensif.