Isu paling kontroversial datang dari dugaan penggunaan akun-akun bayaran atau buzzer untuk membanjiri media sosial dengan ulasan positif. Netizen menemukan pola yang dianggap mencurigakan, di mana banyak akun di platform X mengunggah ulasan dengan narasi yang hampir identik dalam waktu bersamaan.
Hal yang membuat situasi semakin janggal, sebagian besar akun tersebut diketahui baru dibuat pada bulan Maret 2026, bertepatan dengan waktu perilisan film. Hal ini memicu dugaan bahwa ulasan-ulasan tersebut tidak sepenuhnya organik.
Tak hanya itu, akun-akun tersebut juga dituding menyerang film lain yang tayang di waktu yang sama, seolah mencoba menjatuhkan kompetitor demi meningkatkan citra film Pelangi di Mars. Taktik ini menuai kecaman karena dianggap tidak etis dalam industri kreatif yang seharusnya menjunjung tinggi sportivitas.
Lebih jauh lagi, netizen menemukan bahwa beberapa akun pendukung film ini juga aktif menyuarakan narasi pro-pemerintah. Temuan ini memunculkan spekulasi mengenai kemungkinan adanya kepentingan politik di balik produksi maupun promosi film tersebut.
Dugaan ini semakin diperkuat dengan fakta bahwa film ini diproduseri oleh RANS Entertainment, yang diketahui bergabung dalam proyek setelah proses produksi mencapai lebih dari 80%. Mahakarya Pictures menjelaskan bahwa sejumlah rumah produksi, termasuk RANS Entertainment, bergabung dalam rentang waktu Mei hingga Desember 2025, saat film memasuki tahap post-production.
Meski demikian, klarifikasi tersebut belum sepenuhnya meredam kecurigaan publik. Banyak netizen yang tetap merasa skeptis dan menganggap bahwa kontroversi ini terlalu besar untuk diabaikan.
Terlepas dari berbagai kritik dan kontroversi yang mengiringi nya, film Pelangi di Mars tetap menjadi perbincangan hangat di tengah masyarakat. Film ini seolah menjadi cerminan bagaimana ekspektasi tinggi, teknologi canggih, dan strategi promosi dapat saling berbenturan dalam industri perfilman modern. Bagaimana dengan pendapatmu, Bela?