Baca artikel Popbela lainnya di IDN App
Install

Sejarah Hari Batik Nasional, dari Keraton hingga Mendunia

3 min read
Sejarah Hari Batik Nasional, dari Keraton hingga Mendunia
pexels.com/Jauhar Musthofal Qulub
  • Batik berkembang sejak era Majapahit, awalnya terbatas di keraton sebelum menyebar ke masyarakat Jawa; teknik cap setelah Perang Dunia I mempercepat produksi dan membuatnya lebih terjangkau.

  • UNESCO mengakui batik sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi pada 2009, dengan pengesahan pada 2 Oktober di Abu Dhabi.

  • Melalui Keppres Nomor 33 Tahun 2009, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menetapkan 2 Oktober sebagai Hari Batik Nasional; pelestarian didorong lewat pemakaian, dukungan pengrajin, dan edukasi.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Pemerintah Indonesia resmi menetapkan tanggal 2 Oktober sebagai Hari Batik Nasional. Tak hanya sebatas perayaan, momen ini menjadi kesempatan bagi masyarakat Indonesia untuk mengenal, mencintai, dan mengapresiasi batik sebagai salah satu warisan budaya Indonesia.

Lantas, seperti apa sejarah Hari Batik Nasional? Buat kamu yang penasaran, berikut Popbela sudah rangkum perjalanan panjang batik hingga ditetapkan menjadi Hari Batik Nasional. Simak, ya.

  1. 1. Batik sudah ada sejak masa Kerajaan Majapahit

    sejarah Hari Batik Nasional
    pexels.com/JENNI AGUSTINA

    Sejarah Hari Batik Nasional tidak bisa dipisahkan dari perjalanan panjang batik di Nusantara, khususnya Pulau Jawa. Kesenian membatik ini telah berkembang sejak masa kerajaan, termasuk era kejayaan Majapahit, lalu makin dikenal seiring penyebaran agama Islam di Jawa.

    Pada awalnya, batik hanya dibuat dan digunakan di lingkungan keraton. Kain tersebut sering dikenakan di kalangan raja, keluarga bangsawan, hingga pejabat tinggi kerajaan. Tak heran jika membatik dianggap sebagai aktivitas istimewa, penuh makna spiritual, dan sarat akan simbol serta filosofi kehidupan.

    Seiring waktu, keterampilan membatik kemudian mulai menyebar ke luar keraton. Para pejabat dan masyarakat yang tinggal di luar istana turut mengenalkan keterampilan membatik hingga akhirnya batik makin melekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat Jawa.

    Hingga akhir abad ke-18, penggunaan batik makin meluas. Awalnya, proses pembuatannya didominasi teknik batik tulis yang membutuhkan waktu dan ketelitian. Namun, setelah Perang Dunia I, teknik batik cap mulai diperkenalkan sehingga produksi batik menjadi lebih cepat dan terjangkau.

  2. 2. Batik mendapat pengakuan dunia

    Upaya mendaftarkan batik sebagai warisan budaya dunia dimulai pada 4 September 2008 melalui pengajuan Pemerintah Indonesia kepada UNESCO. Saat itu pengajuan tidak langsung diterima. Namun, UNESCO akhirnya menyetujui batik sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi pada 9 Januari 2009.

    Status tersebut kemudian disahkan dalam sidang Komite Antar-Pemerintah tentang Warisan Budaya Nonbendawi di Abu Dhabi pada 2 Oktober 2009. Tanggal inilah yang kemudian ditetapkan sebagai Hari Batik Nasional di Indonesia.

  3. 3. Penetapan Hari Batik Nasional

    sejarah Hari Batik Nasional
    pexels.com/Jauhar Musthofal Qulub

    Presiden ke-6 RI, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), menetapkan 2 Oktober sebagai Hari Batik Nasional melalui Keppres Nomor 33 Tahun 2009 yang ditandatangani pada 17 November 2009.

    Penetapan itu kemudian diperkuat dengan Surat Edaran Kementerian Dalam Negeri Nomor 003.3/10132/SJ yang mengimbau pegawai pemerintahan di tingkat pusat maupun daerah untuk mengenakan batik setiap tanggal 2 Oktober.

    Menariknya, kini, batik tidak hanya dikenakan saat Hari Batik Nasional saja, tetapi juga menjadi pilihan busana untuk berbagai acara resmi maupun non formal.

  4. 4. Cara melestarikan batik

    Setelah mengenal sejarah Hari Batik Nasional, kini saatnya ikut menjaga batik sebagai warisan budaya Indonesia, yuk! Berikut beberapa cara yang bisa kamu lakukan sebagai langkah untuk melestarikan batik:

    • Mengenakan batik, baik untuk aktivitas sehari-hari maupun menghadiri acara resmi.
    • Membeli batik dari pengrajin lokal sebagai bentuk dukungan terhadap pelaku usaha dan ekonomi kreatif.
    • Memperkenalkan batik ke dunia internasional melalui pameran, media sosial, maupun kegiatan diplomasi budaya.
    • Mengadakan workshop atau edukasi batik untuk memperkenalkan batik pada anak-anak dan generasi muda.
    • Mengunjungi sentra batik untuk mengenal lebih dekat sejarah, motif, dan proses pembuatannya.

    Meskipun tampaknya sederhana, berbagai langkah tadi bisa memberikan dampak besar dalam menjaga keberlanjutan batik sebagai warisan budaya dunia agar tetap dikenal dan dilestarikan oleh generasi mendatang.

    Itu dia penjelasan seputar sejarah Hari Batik Nasional yang penuh perjalanan panjang. Sebagai generasi penerus, yuk bangga mengenakan batik dan ikut melestarikan warisan budaya Indonesia ini dengan cara kita sendiri!

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More