Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popbela lainnya di IDN App
Proses Kreatif Karya Diandra Lamees, Pemenang MR.D.I.Y Art Competition 2025
Suasana MR.D.I.Y. Art Competition 2025 (Dok.MR.D.I.Y. Indonesia)
  • Diandra Lamees, seniman muda asal Tangerang, memenangkan Grand Prize MR.D.I.Y. Indonesia dan Regional Art Competition 2025 berkat instalasi keramik bertema Imlek berjudul 'Upacara Imlek Versiku'.
  • Karya Diandra melalui proses panjang dari pembentukan tanah liat hingga pembakaran dua tahap, menghadapi tantangan cuaca dan stres, namun tetap diselesaikan dengan dedikasi tinggi.
  • Diandra menilai kompetisi seni penting bagi seniman muda karena menyediakan ruang pameran, audiens luas, serta peluang karier; kemenangannya membuka jalan menuju pameran tunggal dan eksposur internasional.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Diandra Lamees atau yang akrab disapa Didi, merupakan seniman muda Indonesia kelahiran Tangerang yang kini berusia 23 tahun. Dirinya berhasil menjadi pemenang Grand Prize (Kategori Pelajar) MR.D.I.Y. Indonesia Art Competition 2025 dan MR.D.I.Y. Regional Art Competition 2025.

Tahun ini ia berkesempatan untuk membagikan cerita dan pengalamannya mengikuti kompetisi ini saat workshop MR.D.I.Y Art Competition 2026 di Universitas Multimedia Nusantara pada Rabu (29/4/2026). Bagaimana proses kreatif karya Didi hingga berhasil keluar menjadi pemenang?

Alasan ikut kompetisi

instagram.com/@diandralamees

Saat mengikuti kompetisi ini, Didi masih berstatus sebagai mahasiswi yang tengah mengerjakan tugas akhir (TA) di jurusan Seni Rupa, Institut Teknologi Bandung. Dalam proses studinya, ia dihadapkan pada kewajiban untuk menggelar pameran karya sebagai bagian dari kelulusan. Namun, keterbatasan biaya menjadi tantangan tersendiri. Alih-alih menyerah, Didi mencari beberapa kompetisi seni yang dapat menjadi wadah untuk menampilkan karyanya.

Beruntung, tema yang diusung dalam MR.D.I.Y Art Competition 2025 selaras dengan konsep karya yang sedang ia kerjakan. Tanpa ekspektasi berlebih, ia mengirimkan karyanya, hingga akhirnya terpilih sebagai pemenang, sebuah pencapaian yang tidak ia sangka sebelumnya.

Proses kreatif

instagram.com/@diandralamees

Karya Didi terinspirasi dari perayaan Imlek dalam keluarganya. Ia menciptakan sebuah instalasi berjudul “Upacara Imlek Versiku”, yang merefleksikan interpretasi personalnya terhadap tradisi, identitas, dan keseharian. Instalasi ini terdiri dari banyak elemen keramik, sehingga membutuhkan ketelitian tinggi serta waktu pengerjaan yang tidak singkat.

Proses kreatifnya dimulai dari pembentukan objek menggunakan tanah liat terlebih dahulu sebelum menggunakan keramik. Setelah itu, karya dibakar pada suhu 900 derajat Celcius untuk mengeraskan bentuk. Tahap berikutnya adalah pewarnaan, yang kemudian dilapisi dengan glasir bening agar menghasilkan efek mengilap. Setelah proses tersebut, karya kembali dibakar untuk kedua kalinya pada suhu 1200 derajat Celcius.

Dalam perjalanannya, Didi mengaku sempat mengalami stres hingga gerd, terutama karena proses pengeringan yang memakan waktu lama. Terlebih, cuaca kota Bandung sedang tidak bersahabat dengan matahari. Meski begitu, ia tetap bertahan dan menyelesaikan karyanya dengan penuh dedikasi.

Lolos 10 besar dan gelar pameran

Suasana MR.D.I.Y. Art Competition 2025 (Dok.MR.D.I.Y. Indonesia)

Setelah masa pendaftaran dan penyerahan karya, masuklah ke tahap penilaian atau seleksi. Pada proses ini, dipilih 10 karya terbaik di setiap kategori yang kemudian akan mendapatkan wadah apresiasi berupa pameran selama satu minggu di Lotte Mall, Jakarta yang ditanggung oleh MR. D.I.Y. Pameran ini digelar guna memberikan kesempatan bagi publik untuk mengapresiasi hasil karya para finalis. Tak disangka, karya Didi berhasil lolos dan mendapat kesempatan mengikuti pameran, sehingga rangkaian tugas akhir kuliahnya terpenuhi.

Beberapa hari setelah pameran berakhir, diumumkan pemenang utama dalam Awarding Night. Dari sinilah Didi akhirnya dinobatkan sebagai pemenang Grand Prize untuk Kategori Pelajar MR.D.I.Y. Indonesia Art Competition 2025 dan MR.D.I.Y. Regional Art Competition 2025.

Pentingnya wadah apresiasi dan kompetisi

Dok. Popbela.com/Elni Novitasari | MR.D.I.Y Art Competition 2026

Saat ditemui di Universitas Multimedia Nusantara pada Rabu (29/4/2026), Didi mengungkap keberadaan kompetisi seperti ini sangat penting bagi seniman muda, terutama mahasiswa jurusan seni. Setelah sebuah karya selesai dibuat, keinginan utama seorang seniman adalah memamerkannya kepada publik. Namun, biaya untuk menyelenggarakan pameran secara mandiri tidaklah murah.

"Penting sih, soalnya ketika buat karya hal yang ingin dilakukan setelah karya jadi itu pameran. Dan biaya untuk menyelenggarakan pameran sendiri ini kan gak murah. Karena ada kompetisi, pertama kompetisi ini menyediakan ruang dan publik untuk pameran. kedua, bonusnya kalau menang bisa dapet hadiah dan jadi dikenal banyak orang," ujar Diandra.

Menurutnya, kompetisi menjadi salah satu solusi karena tidak hanya menyediakan ruang pameran, tetapi juga menghadirkan audiens yang lebih luas. Selain itu, ada nilai tambah berupa hadiah dan kesempatan untuk dikenal oleh lebih banyak orang, yang tentu sangat membantu dalam membangun karier sebagai seniman.

Kemenangan Diandra menjadi salah satu momen penting dalam perjalanan artistiknya. Selain meningkatkan kepercayaan diri, pencapaian ini juga membuka berbagai peluang baru, mulai dari memperluas relasi hingga kesempatan terlibat dalam pameran. Bagi Diandra, MR.D.I.Y. Art Competition juga menjadi platform yang membuka ruang untuk memperkenalkan dan mengembangkan karyanya ke audiens yang lebih luas, sekaligus mendorongnya untuk terus bereksplorasi secara kreatif.

Ke depan, Diandra bercita-cita menggelar pameran tunggal serta memperluas eksposurnya ke kancah internasional, seiring komitmennya dalam mendalami seni keramik sebagai medium utama ekspresinya.

Editorial Team