Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, kecintaan Tori Penso terhadap sepak bola sebenarnya sudah tumbuh sejak kecil berkat pengaruh ayah dan dua saudara laki-lakinya. Mereka menggemari olahraga tersebut dan Penso sering diajak pergi ke lapangan.
Sayangnya, sang ibu sempat melarangnya bermain karena menganggap sepak bola bukan olahraga untuk perempuan. Penso pun baru mendapat izin bermain saat berusia 10 tahun dan terus menekuni olahraga tersebut hingga masa kuliah.
Tak hanya sempat dilarang bermain oleh sang ibu, Penso juga kerap menghadapi pengalaman kurang menyenangkan selama memimpin pertandingan di berbagai wilayah Florida. Mulai dari diusir dari lapangan, dikejar-kejar orang dewasa, hingga harus memarkir mobil menghadap keluar di klub amatir sebagai antisipasi jika situasi jadi kacau.
Tekanan tersebut sempat membuat Penso ingin berhenti menjadi wasit, namun dukungan dari seorang mentor membuat ia bertahan. Berbekal tekad yang kuat, kini Penso memetik buah dari kesabarannya, Bela. Ia dipercaya memimpin lebih dari 100 pertandingan domestik maupun internasional, bahkan kini mencapai panggung terbesar sepak bola dunia bersama FIFA.