Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popbela lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Peringati Hari Pangan Sedunia, Ini 5 Perempuan Muda Inspiratif di Dunia Pangan
instagram.com/jelsinatosa_, helgaangelina
  • Lima perempuan muda Indonesia menunjukkan bahwa sektor pangan dapat berkembang melalui pertanian organik, teknologi digital, kewirausahaan, dan pemberdayaan komunitas.

  • Helga Angelina Tjahjadi membangun Burgreens sekaligus bermitra dengan petani organik lokal untuk menghadirkan bahan pangan berbasis nabati.

  • Jelsi Natosa, Ni Putu Meilanie Ary Sandi, Jatu Barmawati, dan Mety mengembangkan pertanian melalui pemasaran digital, ekspor, teknik hemat air, serta pendampingan petani.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
sejak remaja

Helga Angelina Tjahjadi menderita asma, sinusitis, dan eksim. Ia kemudian belajar lebih dalam tentang dunia makanan.

tahun 1991

Maria Yumetri Omenu atau Mety lahir.

sejak kecil

Mety mengenal pertanian karena ayahnya memiliki tanah pertanian.

sejak masih SD

Jelsi Natosa sudah memiliki keinginan menjadi petani.

sejak tahun 2022

Jelsi memulai kariernya sebagai petani setelah kembali ke kampung halaman di Nganjuk dan memilih menjadi petani bawang merah.

Pandemi COVID-19

Ni Putu Meilanie Ary Sandi masuk lebih dalam ke sektor pertanian dan meneruskan usaha yang ditekuni ayahnya.

Jumat (16-10-2026)

Hari Pangan Sedunia diperingati dengan tema global “Berinovasi Hari Ini untuk Pangan Hari Esok”.

kini

Ni Putu Meilanie Ary Sandi mengelola lahan di wilayah Baturiti, Tabanan. Mety mendampingi petani di desa lain yang kini sudah sekitar 200 orang.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Lima perempuan muda Indonesia mengembangkan sektor pangan melalui pertanian, makanan berbasis nabati, teknologi digital, ekspor, dan pemberdayaan komunitas.
  • Who?
    Helga Angelina Tjahjadi, Jelsi Natosa, Ni Putu Meilanie Ary Sandi, Jatu Barmawati, dan Maria Yumetri Omenu atau Mety.
  • Where?
    Kegiatan mereka berlangsung di Indonesia, antara lain Nganjuk, Baturiti dan Tabanan, wilayah Sumatera, serta Desa Atmen dan beberapa dusun di Timor.
  • When?
    Peringatan Hari Pangan Sedunia berlangsung Jumat (16-10-2026). Kiprah Jelsi sebagai petani dimulai sejak tahun 2022.
  • Why?
    Mereka mengembangkan sektor pangan, memberdayakan petani dan komunitas, menjaga kualitas hasil panen, serta memperluas akses pasar.
  • How?
    Melalui pertanian organik, pemasaran digital, jaringan petani lokal, teknik irigasi tetes, kewirausahaan, edukasi, dan pendampingan komunitas.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Lima perempuan muda bekerja di bidang pangan dengan cara yang berbeda. Helga membuat makanan berbasis tumbuhan dan membantu petani lokal. Jelsi bertani bawang merah dan menjual panen lewat TikTok. Meilanie, Jatu, dan Mety juga bertani serta membantu orang lain. Mereka sekarang terus mengembangkan pertanian di daerah masing-masing.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Kisah lima perempuan muda ini memperlihatkan beragam cara untuk mengembangkan sektor pangan. Mereka memanfaatkan teknologi, pertanian organik, jejaring usaha, dan kerja komunitas. Upaya tersebut tidak hanya berkaitan dengan hasil panen, tetapi juga membuka akses pasar, mendampingi petani, serta mendorong keterlibatan anak muda dalam bidang pangan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jumat (16-10-2026) ini merupakan peringatan Hari Pangan Sedunia. Di tahun ini, tema globalnya adalah “Berinovasi Hari Ini untuk Pangan Hari Esok”. Berkaca dari hal tersebut, pangan di Indonesia sendiri tak lepas dari kerja keras para petani lokal. Banyak inovasi yang dikembangkan, bahkan oleh para perempuan-perempuan yang masih muda sekali pun.

Mereka bukan sekadar bercocok tanam, melainkan memimpin gerakan, menjaga kelestarian benih lokal, hingga memberdayakan komunitas sekitar. Berikut ada beberapa sosok petani dan aktivis perempuan Indonesia yang menginspirasi melalui dedikasi mereka di sektor pangan.

1. Helga Angelina Tjahjadi

instagram.com/helgaangelina

Helga dikenal sebagai Co-founder Burgreens, brand kuliner berbasis nabati di Indonesia. Tujuan utamanya membangun Burgreens pertama kali ternyata bukan untuk mencari keuntungan belaka, melainkan bentuk perjuangan pribadinya melawan penyakit kronis.

Sejak remaja, Helga menderita asma, sinusitis, dan eksim yang membuatnya harus terus mengonsumsi antibiotik. Sampai akhirnya, ia mengalami infeksi ginjal dan liver akibat terlalu banyak mengonsumsi obat-obatan. Dari situ, Helga mulai belajar lebih dalam tentang dunia makanan, khususnya dalam metode food combining, menghindari bahan pengawet serta MSG, dan memutuskan menjadi seorang vegetarian.

Setelah menerapkan gaya hidup sehat itu, dalam dua tahun penyakit asma yang dideritanya hilang dan kondisi eksimnya berkurang drastis. Sampai pada akhirnya, ia bertemu dengan Max Mandias yang ahli memasak saat mereka berdua menempuh pendidikan di Belanda.

Sejak pertemuan itu, pasangan ini mulai merajut mimpi untuk membangun bisnis kuliner sehat bersama. Melalui Burgreens, Helga tidak hanya mempromosikan gaya hidup sehat dan plant-based, tetapi juga membangun jaringan rantai pasok yang bermitra langsung dengan para petani lokal.

Ia memberdayakan petani organik lokal untuk memasok bahan-bahan segar, sekaligus mengedukasi masyarakat anak muda tentang pentingnya pola makan yang ramah lingkungan.

2. Jelsi Natosa

instagram.com/jelsinatosa_

Dikenal dengan panggilan Bu Tani, Jelsi Natosa merupakan seorang petani muda Gen-Z dan aktif sebagai content creator. Bahkan keinginannya sebagai petani sudah ada sejak masih SD. Kariernya yang unik untuk anak-anak generasinya tersebut dimulai sejak tahun 2022. Sempat bekerja di sebuah bioskop di Surabaya, ia kembali ke kampung halaman di Nganjuk dan memilih menjadi petani bawang merah. 

Awalnya, ia menyewa sawah, sampai akhirnya membeli sawahnya sendiri yang seluas 1.000 m² dari hasil tabungan. Jelsi memanfaatkan platform digital seperti TikTok untuk siaran langsung (live streaming) memasarkan hasil panennya dengan omzet puluhan juta rupiah per hari.

3. Ni Putu Meilanie Ary Sandi

balibanknews.com

Jika di Jawa ada Jelsi, di Bali ada Ni Putu Meilanie Ary Sandi yang juga berprofesi sebagai petani Gen-Z. Awalnya, Meilanie tak terbayang akan terjun di dunia tersebut. Pandemi COVID-19 lah yang membawanya lebih dalam ke sektor pertanian dan meneruskan usaha yang ditekuni ayahnya. Menurutnya, bidang ini menyimpan peluang usaha yang menjanjikan jika dikelola dengan cara yang tepat.

Saat itu Meilani mulai turun ke lahan dan mencoba menanam berbagai jenis sayuran. Akhirnya ia sadar, ternyata bertani itu menyenangkan dan tidak selamanya identik dengan pekerjaan yang kotor dan melelahkan. Kini, ia mengelola lahan yang cukup luas di wilayah Baturiti, Tabanan. 

Meilanie membudidayakan berbagai jenis tanaman, mulai dari sayuran hingga buah-buahan. Ia juga menerapkan sistem pertanian organik dengan memanfaatkan pupuk buatan sendiri untuk menekan biaya produksi sekaligus menjaga kualitas hasil panen agar tetap sehat dan aman dikonsumsi. Di samping itu, untuk melakukan pemasaran dan keuangan, ia memanfaatkan teknologi dan media sosial dalam menjangkau pasar yang lebih luas.

4. Jatu Barmawati

instagram.com/jatubarmawati

Beralih ke ujung selatan pulau Sumatera, ada Jatu Barmawati, petani millenial yang nggak kalah menginspirasi. Tumbuh dari keluarga petani dan menempuh pendidikan tinggi di jurusan pertanian, ia berhasil mengubah citra negatif tentang petani menjadi peluang bisnis modern hingga sukses menjadi eksportir muda.

Dalam sepak terjang kariernya di dunia pertanian, ia mendirikan komunitas AYOMart (Agriculture Youth Organization – Community), wadah kolaborasi antarpetani muda untuk memperkuat akses pasar dan memperluas jejaring distribusi hasil pertanian.

Jatu juga dikenal sebagai salah satu Duta Petani Milenial dan Duta Petani Andalan (DPM/DPA) yang diangkat oleh Kementerian Pertanian. Title dan kompetensinya tersebut membawanya kerap menjadi pembicara di berbagai forum untuk menginspirasi mahasiswa dan pemuda desa agar melihat pertanian sebagai bidang yang strategis dan berdaya saing.

Melalui jejaring digital dan pendekatan kewirausahaan, Jatu berhasil menembus pasar ekspor internasional terutama untuk komoditas manggis, yang kini dipasarkan hingga ke Eropa khususnya Belanda. Jatu juga aktif mengedukasi petani tentang Good Agricultural Practices (GAP) dan Good Handling Practices (GHP), sekaligus mengubah citra bertani dari pekerjaan tradisional menjadi profesi yang modern, mandiri, dan bernilai ekonomi tinggi.

5. Maria Yumetri Omenu / Mety

kompas.id

Gagal jadi guru nggak menjadi penghalang Mety dalam berkarier dan berdampak untuk masyarakat. Perempuan kelahiran tahun 1991 ini berhasil mengubah kehidupan sekitar 200 orang di dusunnya, Desa Atmen, Kecamatan Insana Barat, Kabupaten Timor Tengah Utara dan beberapa dusun lain di Timor.

Mety sendiri sudah mengenal pertanian sejak kecil karena ayah Mety memiliki tanah pertanian. Ia pun berpikir mengapa dirinya tidak memanfaatkan tanah pertanian itu. Dari situ, ia mulai belajar pertanian. Mety menerapkan cara bertani cerdas iklim yang hemat air dengan menggunakan teknik irigasi tetes. 

Dia juga beternak ayam untuk diambil telurnya. Banyak pelanggan yang datang kepadanya bahkan bersedia membayar harga premium karena tanamannya menggunakan pestisida alami dan pupuknya pun organik, sebagian dari kotoran ayam.

Tak sampai disitu, di Desa Atmen, Mety ikut mendirikan dan mengetuai Komunitas Pemuda Tani Atmen yang beranggotakan perempuan. Dari sana, ia kerap mendampingi petani di desa lain yang kini sudah sekitar 200 orang. Berkat kerja kerasnya itu, Mety berhasil memperluas lahan hingga 2 hektar dan membiayai pendidikan adiknya hingga menjadi sarjana pertanian.

Itulah para perempuan muda Indonesia yang menginspirasi di bidang pangan. Terinspirasi, Bela?

Curated For You

Editorial Team

Related Article