Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popbela lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Nggak Takut Gagal, ini Mantra Sukses CEO Bellayu Gabriella Chong
Dok. Istimewa
  • Gabriella Chong, CEO Bellayu, membangun brand hair care lokal berlandaskan rasa penasaran tinggi dan pengalaman sepuluh tahun di industri kecantikan rambut.
  • Bellayu lahir dari filosofi 'Be All You', mengajak perempuan untuk mencintai diri sendiri dan tampil percaya diri tanpa membandingkan diri di era media sosial.
  • Gaby memegang prinsip 'so what' mentality dan moto 'just start, fix it along the way' sebagai kunci menghadapi kritik serta keberanian memulai bisnis tanpa menunggu sempurna.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Menjalankan bisnis di industri kecantikan yang dinamis pastinya butuh keberanian ekstra. Tapi bagi Gabriella Chong, CEO dari brand hair care lokal Bellayu, kuncinya cuma satu: mulai aja dulu!

Kepada POPBELA, lewat obrolan santai yang penuh dengan insight, perempuan yang akrab disapa Gaby ini membagikan kisahnya yang super inspiratif tentang bagaimana ia membangun bisnis, menghadapi ketakutan, hingga pentingnya menerima diri sendiri. Selama sepuluh tahun berkutat di industri kecantikan dengan segala dinamikanya, membuat Gaby belajar banyak hal. Termasuk soal 'so what' mentality yang membuatnya bertahan dan terus bertumbuh.

Yuk, simak cerita lengkapnya berikut ini.

Si Super Curious yang nggak bisa diam

Dok. Istimewa

POPBELA membuka obrolan siang itu bersama Gaby dengan pertanyaan paling mendasar dan tentu pertanyaan ini juga menjawab rasa pertanyaan para Bela. Yakni, siapa sebenarnya sosok Gabriella Chong?

Mendengar pertanyaan tersebut dengan rendah hati Gaby menyebut dirinya sebagai seorang ibu, istri, anak, teman, dan sesama perempuan. Namun di luar peran-peran tersebut, Gaby adalah definisi nyata dari perempuan yang punya rasa penasaran super tinggi alias super curious.

Sejak kecil, ia selalu punya dorongan untuk mencari tahu segala hal. "Secara karakter, aku tuh orang yang super duper curious (sangat penasaran). Kalau ada sesuatu yang menurut aku nggak cocok, tuh aku kulik terus sampai dapet," ceritanya sambil tertawa.

Rasa penasaran inilah yang membuatnya menjadi sosok aktif yang nggak bisa diam. Bagi Gaby, sifatnya ini bukan sekadar kepo, melainkan keinginan tulus untuk memahami bagaimana sesuatu bekerja dan bagaimana cara membuatnya menjadi lebih baik lagi.

"Jadi rasa penasaran ini bukannya kepo terus ditinggal gitu aja. Tapi, lebih ke mencari solusi saat melihat ada sesuatu yang kurang pas. Puas rasanya jika bisa menyelesaikan masalah atau bahkan meningkatkan sesuatu itu menjadi hal yang lebih baik lagi," jelas Gaby.

Cerita di balik terjunnya Gaby ke industri bisnis kecantikan

Dok. Istimewa

Bellayu mungkin baru berjalan menuju tahun ketiganya, tapi tahu nggak sih, Bela? Gaby ternyata sudah berkecimpung di industri rambut selama satu dekade! Sepuluh tahun lalu, ia memulainya dengan membawa franchise alat tata rambut ternama, José Eber, ke Indonesia. Namun, namanya juga franchise, Gaby sering kali terbentur oleh berbagai batasan dari prinsipal, mulai dari pilihan warna produk, konsep toko, hingga harga.

Tidak sampai di situ, masalah lain muncul saat Gaby melihat ada celah yang di pasar produk rambut, di mana banyak brand memberikan janji manis yang hasilnya nggak sesuai dengan realitanya.

"Aku mengamati dengan cukup jeli dan melihat adanya celah (gap) di industri kecantikan, khususnya perawatan rambut. Banyak brand menjanjikan hasil instan (seperti mengubah rambut keriting menjadi lurus atau sebaliknya) namun hasilnya tidak sesuai, bahkan seringkali tidak ada kejujuran atau jaminan (warranty) yang jelas dari brand tersebut. Itulah yang memicu saya untuk masuk ke pasar ini," kata Gaby.

Berbekal pengalaman 10 tahun dan pemahaman matang tentang teknologi catokan—seperti pentingnya elemen tourmaline—itulah Gaby akhirnya memberanikan diri membuat Bellayu demi menghadirkan produk berkualitas yang jujur untuk para perempuan masa kini dengan segala kesibukannya masing-masing.

Filosofi di balik nama Bellayu dan self-love di era sosial media

Dok. Istimewa

Karena rasa penasaran itulah, akhirnya Bellayu lahir yang menghadirkan solusi untuk perempuan sibuk tapi tetap ingin terlihat cantik. Terutama dalam soal penampilan rambut. Satu hal yang membuat POPBELA bertanya, dari mana asal nama Bellayu dan filosofi balik nama tersebut?

Ternyata filosofinya sangat sederhana namun sangat mendalam jika dipisahkan: Be All You (jadilah seutuhnya dirimu). Di zaman sekarang, kehadiran media sosial sering kali membuat kita terjebak dalam lingkaran membandingkan diri dengan orang lain hingga selalu merasa kurang puas dengan diri sendiri.

"Bellayu berasal dari frasa 'be all you'. Di era media sosial saat ini, sangat mudah bagi orang untuk membandingkan diri dengan orang lain dan merasa tidak cukup. Filosofi brand ini adalah pengingat untuk diri sendiri dan pelanggan agar berani menjadi diri sendiri seutuhnya, karena setiap individu itu unik dan spesial," jelas Gaby.

Gaby pun mengakui kalau dirinya terkadang masih suka refleks membandingkan diri. Karena itulah, Bellayu diciptakan sebagai pengingat, baik untuk dirinya sendiri maupun seluruh perempuan di luar sana.

"Jadilah seutuhnya kamu. Because kamu itu spesial, kamu tidak bisa digantikan karena nggak ada yang kayak kamu di dunia ini selain kamu," ungkapnya penuh empati. Bersama Bellayu, ia berharap perempuan bisa tampil percaya diri dan merasa bahagia dengan diri mereka sendiri.

'So What' mentality, kunci sukses menghadapi kritik tanpa takut gagal

Dok. Istimewa

Bagi POPBELA, salah satu hal yang paling memikat dari seorang Gabriella Chong adalah kekuatan mentalnya. Di tengah situasi ekonomi yang menantang, ia tidak pernah takut untuk mencoba hal baru. Mengapa? Karena ia memegang prinsip 'so what' mentality. Gaby tidak terlalu ambil pusing dengan omongan atau penilaian negatif orang asing yang tidak membangun.

"Aku tidak terlalu peduli dengan omongan orang yang tidak membangun. Jika ada kritik yang membangun, aku akan menerimanya 100%. Namun, jika hanya komentar kosong, saya belajar untuk memfilter. Jadi tahu kapan harus mendengar dan kapan harus menutup telinga. Fokus utama aku tetap pada kualitas produk," curhat Gaby.

Bagi Gaby, hidup ini cuma sekali. Dibandingkan mengkhawatirkan kegagalan atau merasa malu, ia memilih untuk berani mencoba dan fokus pada proses yang sedang dijalaninya. Jika memang apa yang dipilihnya mengalami kegagalan, setidaknya ia tak lagi penasaran karena sudah pernah mencoba dan mengusahakannya sebaik mungkin.

"Hidup hanya sekali. Aku punya mentalitas 'so what'; jika aku gagal, setidaknya aku sudah mencoba. Uang bisa dicari kembali, tetapi waktu dan umur tidak bisa diputar. Beruntung, aku dikelilingi oleh support system yang baik, termasuk suamiku yang juga seorang entrepreneur dan sangat menginspirasi untuk terus mencoba apapun itu," katanya.

Dukungan penuh dari sang suami dan keluarga itulah yang menjadi support system terbaik sehingga membuat Gaby makin mantap melangkah tanpa takut gagal.

Mantra bisnis ala Gaby: "Just Start, Fix It Along the Way"

Dok. Istimewa

Menariknya, dalam obrolan bersama POPBELA, Gaby blak-blakan mengaku kalau dirinya tidak pernah kuliah dan tidak memiliki gelar di bidang bisnis. Menjadi seorang entrepreneur pun awalnya bukan merupakan cita-citanya. Namun, terinspirasi dari kerja keras suaminya, Gaby membuktikan kalau kesuksesan bisa diraih oleh siapa saja yang mau langsung bergerak.

"Aku nggak pernah kuliah. I don't have Business degree. Salah satu moto hidupku untuk menjalani ini semua adalah 'fix it along the way'. Jadi ya jalanin terus abis itu kalau ada yang salah atau rusak ya rapihin, benerin sambil jalan. Soalnya kalau menunggu sesuatu itu sempurna, malah nggak akan mulai bisnisnya," kata Gaby.

POPBELA setuju! Memang, tidak akan pernah ada waktu yang benar-benar sempurna untuk memulai sesuatu. Jika kita hanya duduk diam dan berpikir tanpa mengeksekusinya, ide tersebut tidak akan pernah terwujud.

"Just start (mulai saja). Jangan menunggu sampai semuanya sempurna, karena waktu yang tepat tidak akan pernah datang jika hanya dipikirkan. Mulailah, lalu perbaiki sambil jalan (fix it along the way). Kita sebagai individu terus berkembang, jadi tidak perlu takut untuk memulai meski belum sempurna," tutup Gaby.

So, what are you waiting for, Bela? Just start!

Editorial Team

Related Article