Ketika sinema Indonesia memasuki era sajian horor Indonesia yang semakin prasmanan, sebuah film horor-komedi muncul dengan menonjok berbagai penjuru indra. Sedikit memperjelas, horor-komedi di sini mengacu pada definisinya secara literal; perpaduan antara dua genre tersebut, yang sering kali menggunakan humor gelap atau gallows humor (humor tentang hal-hal tragis) serta parodi. Itulah Ghost in the Cell.
Kemuakkan Kolektif yang Menggigit di ‘Ghost in the Cell’

Synopsis
Rilis pada 16 April 2026 di bioskop Indonesia, film ini berlatar di sebuah lapas di Jakarta, yang mendapat teror hantu. Kisah dimulai dari sosok Dimas (Endy Arfian) yang terpaksa mendekam di penjara akibat dituduh membunuh atasannya. Ketika ia masuk lapas, teror kematian terjadi. Pada satu titik, dugaan ada hantu yang bergentayangan memantik ketakutan massal para narapidana. Hantu tersebut mengincar orang dengan aura negatif, yang membuat kubu Anggoro (Abimana Aryasatya) dengan kubu Bimo (Morgan Oey)—yang awalnya adalah rival—terpaksa bersatu demi menemukan cara menyingkirkan hantu ini.
| Producer | Tia Hasibuan |
| Writer | Joko Anwar |
| Age Rating | 17+ |
| Genre | Komedi Horor, Dark Comedy, Gore |
| Duration | 106 Minutes |
| Release Date | 16-04-2026 |
| Theme | prison, prisoner, prison cell, gore, terror cell, satire, jail, ghost, haunted, dark, jokes, intense, splatter, brutal |
| Production House | Come and See Pictures, Rapi Films, Barunson E&A, Legacy Pictures |
| Where to Watch | movie theatre |
| Cast | Abimana Aryasatya, Bront Palarae, Dimas Danang, Endy Arfian, Lukman Sardi |
Trailer Ghost in the Cell
Ghost in the Cell
Bagi penonton berhati lembut, this is not for you. Tapi bagi pencinta film gore, seni memorakporandakan tubuh manusia beserta isinya akan membuat kamu menganga. Tentu saja kemasan film ini bukan sebagai hiburan semata. Begitu banyak sindiran gamblang terhadap sistem politik, hukum dan birokrasi Indonesia. Ya, di sini Joko Anwar sebagai penulis dan sutradara tidak bermain aman di area Konoha. Humor satir, dark comedy hingga sedikit sentuhan slapstick, beradu pamor demi menyampaikan keresahan rakyat Indonesia yang terwakilkan lewat percakapan para narapidana.
Setelah lama berkutat di genre horor, karya Joko Anwar kali ini mengingatkan saya ketika Janji Joni (2005) menjadi bagian dari babak kebangkitan film Indonesia. Tema idealis dari darah muda Joko, mampu membuat cerita yang tampak sederhana, bergulir dengan cara yang unik dan segar.
Namun, untuk Ghost in the Cell tentu tidak mendapat ramuan cerita sederhana. Dengan rekam jejak Joko yang semakin legit, eksekusi film berdurasi 106 menit ini terasa matang. Di antaranya, tidak meninggalkan adegan maupun dialog mubazir. Tema korupsi, deforestasi hingga agama mayoritas dan minoritas yang menjadi perbincangan santai tapi menohok, menggelitik tanpa terasa kering, hingga interpretasi karakter yang begitu eksploratif tanpa terkesan terlalu berlebihan. It fits the flocks.
Di luar cerita horor dan komedi yang menguntai dengan sangat menghibur, pemaparan yang lebih dalam mengenai situasi Indonesia menjadi inti dari kegelisahan Joko Anwar.
Begitu derasnya sindiran di film ini membuat saya bertanya, semuak apa Joko dengan sistem dan pemerintah Indonesia?
“Aku sama teman-teman pembuat film di Come and See Pictures ingin membuat film itu personal ya, tapi kami tidak mau itu menjadi sesuatu yang self-centered,” ucapnya di press screening pada Kamis (9/4/2026). “Kami bikin film tujuannya adalah untuk menggaungkan kemuakkan rakyat. Jadi sebenarnya ini adalah kemuakkan kolektif ya, jadi kita lihat di media sosial setiap hari tidak perlu algoritma, tapi semuanya pasti terimbas dengan segala sesuatu yang bikin kita jengah setiap hari membaca berita tentang kebijakan,” tambahnya lagi. “dan masalahnya lagi, rakyat itu tidak punya teladan. Jadi kita bingung juga mau meniru siapa. Cuma seperti yang diceritakan dan dikatakan oleh salah satu Polsus (Polisi khusus) di salah satu adegan, kita mungkin bisa hopeless tapi tidak boleh hopeless 100%, karena pasti ada 10% dari orang-orang Indonesia yang kasih harapan, dan mudah-mudahan kita semua di sini adalah bagian dari 10% itu,” tutupnya.
Joko Anwar hanya berharap, film ini mampu menunjukkan bahwa kejujuran dan keberanian yang bisa menjadi penerang di antara sikap apatis, meski persentasenya hanya kecil.
Karena film ini juga ingin mengingatkan penonton untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta, maka izinkan saya mengutip Surah Yunus ayat 42 (QS. 10:42) yang berbunyi:
وَمِنْهُمْ مَّنْ يَّسْتَمِعُوْنَ اِلَيْكَۗ اَفَاَنْتَ تُسْمِعُ الصُّمَّ وَلَوْ كَانُوْا لَا يَعْقِلُوْنَ
(Wa min-hum may yastami'ûna ilaîk, a fa anta tusmi'ush-shumma walau kânû lâ ya'qilûn)
Artinya: "Di antara mereka ada orang yang mendengarkan engkau (Nabi Muhammad). Apakah engkau dapat menjadikan orang yang tuli itu bisa mendengar walaupun mereka tidak mengerti?"