Dok. Pagelaran Sabang Merauke
Iskandar Loedin bukan nama baru dalam seni pertunjukan Indonesia. Ia telah aktif sejak 1995 dan mendalami tata artistik panggung bersama mendiang Roejito. Pada 2001, Iskandar melanjutkan studi stage and lighting design di Yale School of Drama, Yale University. Perjalanannya kemudian membawanya terlibat dalam berbagai produksi teater, tari, instalasi, hingga ruang seni bersama seniman Indonesia dan internasional.
Karya Iskandar juga hadir di luar panggung pertunjukan, mulai dari pencahayaan Terowongan Silaturahmi, desain cauldron Asian Games 2018 "Bilah Nusantara", hingga Teater Salihara. Pengalaman lintas ruang tersebut membuatnya terbiasa melihat panggung bukan sekadar sebagai tempat penampil berdiri, tetapi sebagai bagian penting dari cara sebuah cerita disampaikan.
Dalam Pagelaran Sabang Merauke, ide panggung setiap tahunnya berangkat dari tema dan perjalanan cerita yang ingin dibawa kepada penonton. Iskandar perlu memahami karakter pertunjukan, jumlah penampil, kebutuhan koreografi, posisi musisi, hingga perubahan suasana dari satu adegan ke adegan berikutnya. Dari situ, gagasan awal dituangkan dalam bentuk sketsa, pembagian ruang, serta rancangan struktur panggung.
Konsep tersebut kemudian terus dikembangkan bersama sutradara, koreografer, tim musik, multimedia, dan produksi. Setiap elemen perlu diuji, apakah panggung memberi cukup ruang bagi ratusan penari, apakah perpindahan penampil dapat berjalan aman, serta apakah komposisinya tetap terlihat jelas dari berbagai sisi penonton. Setelah melalui penyesuaian teknis dan simulasi, rancangan itu baru masuk ke tahap produksi, pembangunan, pemasangan, hingga uji coba langsung di venue.
Pada Pagelaran Sabang Merauke 2026, Iskandar kembali menghadapi tantangan untuk membangun ruang yang mampu mempertemukan banyak tokoh, latar budaya, dan skala pertunjukan dalam "Hikayat Srikandi Nusantara". Panggung harus cukup fleksibel untuk berubah mengikuti cerita, tetapi tetap terasa sebagai satu dunia yang utuh.