Coachella Valley Music and Arts Festival. (instagram.com/coachella)
Kalau menengok ke awal perjalanannya, Coachella justru hadir dengan harga yang relatif terjangkau, dengan latar sejarah yang menarik. Pada 5 November 1993, band rock asal Amerika, Pearl Jam, pernah menggelar konser dalam rangka Vs. Tour di Empire Polo Club, Indio, California, yang dihadiri hampir 25.000 penonton.
Lokasi tersebut dipilih karena mereka menolak tampil di Los Angeles akibat konflik dengan Ticketmaster terkait biaya layanan tiket yang tinggi, di tengah dominasi kontrak eksklusif perusahaan itu dengan banyak venue besar di Amerika. Konser ini kemudian membuktikan bahwa area tersebut layak untuk acara berskala besar, bahkan Paul Tollett dari promotor Goldenvoice menyebut momen itu sebagai benih lahirnya festival musik di lokasi tersebut. Terinspirasi dari keberhasilan konser itu yang menunjukkan bahwa artis mampu menarik massa besar ke venue yang cukup jauh tanpa afiliasi perusahaan tertentu, Coachella akhirnya resmi diluncurkan pada 1999.
Coachella Valley Music and Arts Festival. (instagram.com/coachella)
Pada awal penyelenggaraannya, Coachella mematok harga tiket sekitar $50 per hari, dengan penjualan sekitar 17.000 tiket di hari pertama dan 20.000 di hari kedua, masih jauh dari target 70.000 pengunjung. Pengunjung bahkan mendapatkan fasilitas parkir gratis dan sebotol air minum saat masuk. Meski begitu, Goldenvoice justru mengalami kerugian hingga $850.000, membuat mereka harus bertahan selama hampir dua tahun, sementara sejumlah penampil utama bersedia menerima pembayaran yang ditunda.
Rencana untuk kembali menggelar festival pada tahun 2000 juga sempat dibatalkan karena pasar festival musik di California Selatan yang terlalu padat. Coachella akhirnya kembali pada April 2001 dengan harga tiket naik menjadi $65, meski menghadapi tantangan dalam mengamankan line-up hingga harus dipersingkat menjadi satu hari. Di tengah tekanan finansial, Paul Tollett menjual Goldenvoice kepada Anschutz Entertainment Group (AEG) milik Philip Anschutz pada Maret 2001 seharga $7 juta, dengan tetap mempertahankan kendali penuh atas penyelenggaraan festival.
Panggung Sabrina Carpenter di Coachella 2026. (instagram.com/coachella)
Memasuki 2002, festival kembali ke format dua hari dan mulai menunjukkan perkembangan positif dengan lebih dari 55.000 pengunjung serta hampir mencapai titik impas. Nah, seiring berjalannya waktu, harga tiket pun terus meningkat, dari sekitar $449 pada 2022 hingga menyentuh $649 pada 2026. Kini, Coachella berlangsung selama dua akhir pekan penuh dengan pendapatan tahunan yang melampaui ratusan juta Dolar; semula berkembang dari konser eksperimental menjadi salah satu festival musik paling menguntungkan di Amerika.
Dari situ, lonjakan harga sarana dan fasilitas ikut terdorong, sementara opsi pembayaran tiket dengan sistem cicilan juga semakin marak digunakan. Pada 2025, sekitar 60 persen pengunjung tercatat memilih skema ini, meski kerap disertai biaya tambahan yang menuai kritik karena dianggap membebani. Ketika dorongan untuk memaksimalkan keuntungan semakin kuat, pengalaman penonton pun ikut terpengaruh, mengingat menikmati musik secara langsung seharusnya tetap terasa menyenangkan tanpa harus menjadi beban finansial.
Perjalanan Coachella Valley Music and Arts Festival mencerminkan bagaimana sebuah festival musik dapat tumbuh pesat seiring waktu, baik dari sisi skala maupun nilai ekonominya. Permasalahan soal aksesibilitas dan pengalaman penonton kerap kali muncul di balik kemegahan panggung dan deretan line-up kelas dunia yang mewarnai keseruan festival.
Bagaimana menurut pandanganmu, Bela?