Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popbela lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Ilustrasi simbol tiga jari atau three-finger salute. (vecteezy.com/Arief Prabowo)
  • Salam tiga jari berawal dari The Hunger Games sebagai gestur penghormatan, lalu berkembang menjadi simbol perlawanan terhadap ketidakadilan dan kekuasaan otoriter.

  • Dalam demonstrasi, simbol ini kerap menyatakan solidaritas, dukungan terhadap demokrasi dan keadilan, penolakan kebijakan represif, serta penghormatan bagi korban.

  • Gestur tiga jari digunakan gerakan pro-demokrasi di Thailand dan Myanmar, serta muncul dalam aksi mahasiswa dan masyarakat sipil di Indonesia pada 2026.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Belakangan ini, simbol tiga jari atau three-finger salute kembali mencuri perhatian dalam berbagai aksi demonstrasi di Indonesia. Gestur yang dilakukan dengan mengacungkan tiga jari tangan ini kerap terlihat di tengah massa yang menyuarakan kritik terhadap pemerintah. Meski terlihat sederhana, simbol tersebut punya makna yang cukup kuat bagi para demonstran.

Menariknya, simbol tiga jari yang kini dikenal sebagai lambang solidaritas dan perlawanan ini ternyata berawal dari sebuah karya fiksi populer, yaitu The Hunger Games. Seiring waktu, gestur tersebut diadopsi oleh berbagai gerakan pro-demokrasi di sejumlah negara, termasuk Thailand dan Myanmar.

Lantas, bagaimana simbol tiga jari bisa berkembang menjadi lambang perlawanan? Yuk, simak penjelasannya berikut ini!

Berawal dari simbol penghormatan dalam film 'The Hunger Games'

Salam tiga jari atau three-finger salute yang dilakukan Katniss Everdeen di film The Hunger Games. (dok. Lionsgate/The Hunger Games)

Buat kamu yang pernah menonton The Hunger Games, mungkin sudah tidak asing dengan gestur tiga jari yang dilakukan Katniss Everdeen, yang diperankan Jennifer Lawrence. Film yang diadaptasi dari novel karya Suzanne Collins ini berlatar di Panem, sebuah negara distopia yang dipimpin oleh pemerintahan otoriter bernama Capitol.

Dalam ceritanya, setiap distrik harus mengirimkan seorang anak laki-laki dan seorang anak perempuan untuk mengikuti Hunger Games, sebuah kompetisi mematikan yang disiarkan secara langsung. Para peserta dipaksa bertarung hingga hanya tersisa satu orang sebagai pemenang.

Gestur tiga jari pertama kali muncul saat acara pengundian (Reaping), ketika Katniss secara sukarela menggantikan adiknya, Prim, yang terpilih. Sebagai bentuk penghormatan, rasa terima kasih, dan salam perpisahan atas pengorbanan Katniss, para warga Distrik 12 mencium tiga jari tengah tangan kiri mereka, lalu mengangkatnya ke udara.

Simbol tiga jari berkembang menjadi tanda perlawanan

Distrik 11 yang melakukan salam tiga jari di film The Hunger Games. (thehungergames.fandom.com)

Seiring berjalannya cerita, makna salam tiga jari semakin berkembang. Gestur yang awalnya digunakan sebagai bentuk penghormatan kemudian menjadi simbol perlawanan terhadap Capitol.

Salah satu momen paling berkesan terjadi ketika Katniss memberikan salam tiga jari ke kamera setelah kematian Rue, peserta dari Distrik 11. Aksi ini memicu simpati dan kerusuhan awal di Distrik 11 sebagai respons atas ketidakadilan Capitol.

Dalam film The Hunger Games: Catching Fire, simbol tersebut kembali muncul ketika seorang warga mengangkat tiga jari setelah Katniss menyampaikan pidato mengenang Rue. Gestur itu diikuti oleh orang-orang di sekitarnya, hingga akhirnya aparat menghentikan aksi tersebut dengan kekerasan. Adegan ini memperlihatkan bagaimana sebuah gestur sederhana dapat menjadi ancaman bagi penguasa ketika digunakan untuk menyuarakan ketidakpuasan masyarakat.

Makna simbol tiga jari dalam demonstrasi

Ilustrasi demonstrasi. (Pexels.com/rakhmat suwandi)

Dalam aksi demonstrasi di dunia nyata, salam tiga jari memiliki makna yang cukup beragam. Interpretasinya bisa berbeda tergantung pada situasi politik dan gerakan yang menggunakannya.

Namun, ada beberapa makna yang paling sering dikaitkan dengan simbol ini, di antaranya:

  • Perlawanan terhadap kekuasaan otoriter. Simbol tiga jari sering digunakan sebagai bentuk penolakan terhadap pemerintahan atau kekuasaan yang dianggap mengekang kebebasan masyarakat. Gestur ini menjadi cara untuk menyampaikan kritik terhadap kebijakan yang dinilai tidak adil atau represif.

  • Solidaritas dan persatuan. Mengangkat tiga jari secara bersama-sama menunjukkan bahwa seseorang memiliki tujuan dan perjuangan yang sama dengan orang lain. Gestur ini juga menjadi tanda bahwa para demonstran saling mendukung dan tidak menghadapi situasi tersebut sendirian.

  • Dukungan terhadap demokrasi dan keadilan. Dalam beberapa gerakan pro-demokrasi, salam tiga jari dikaitkan dengan tuntutan kebebasan, kesetaraan, dan keadilan. Simbol ini digunakan untuk menyuarakan harapan agar masyarakat memiliki hak yang lebih besar dalam menentukan masa depan mereka.

  • Penghormatan kepada korban. Makna ini berakar dari cerita The Hunger Games, ketika salam tiga jari digunakan untuk menghormati orang yang telah meninggal atau menjadi korban ketidakadilan. Dalam aksi protes, gestur ini juga dapat menjadi bentuk penghormatan kepada mereka yang kehilangan nyawa atau mengalami kekerasan.

Simbol tiga jari digunakan dalam demonstrasi di Thailand dan Myanmar

Para pengunjuk rasa mengacungkan salam tiga jari di depan Monumen Demokrasi pada protes 16 Agustus 2020 di Thailand. (commons.wikimedia.org/Milktea2020)

Penggunaan salam tiga jari dalam demonstrasi di dunia nyata pernah dikaitkan dengan gerakan pro-demokrasi di Thailand pada 2014. Saat itu, militer mengambil alih kekuasaan melalui kudeta dan memicu gelombang protes dari masyarakat.

Terinspirasi oleh film The Hunger Games, para demonstran menggunakan salam tiga jari sebagai bentuk penolakan terhadap pemerintahan junta militer. Gestur tersebut juga dikaitkan dengan nilai-nilai kebebasan, kesetaraan, persaudaraan, serta demokrasi.

Penggunaan simbol ini mendapat perhatian serius dari pihak militer Thailand. Bahkan, salam tiga jari sempat dilarang karena dianggap sebagai bentuk perlawanan terhadap penguasa.

Beberapa tahun kemudian, simbol yang sama kembali digunakan dalam demonstrasi di Myanmar pada Februari 2021. Aksi ini berlangsung setelah militer menggulingkan pemerintahan terpilih yang dipimpin Aung San Suu Kyi.

Para demonstran mengangkat tiga jari sebagai bentuk penolakan terhadap kudeta militer. Gestur tersebut kemudian menyebar luas dan digunakan oleh berbagai kelompok masyarakat, termasuk mahasiswa dan tenaga kesehatan.

Simbol tiga jari juga digunakan dalam aksi demonstrasi di Indonesia

Suasana aksi demo 28 Oktober di kawasan Bundaran HI, Jakarta, Rabu (28/10/2026). (IDN Times/Cantika Lutfiah)

Di Indonesia, salam tiga jari turut muncul dalam sejumlah aksi demonstrasi. Hal ini terlihat dalam aksi aliansi mahasiswa dan masyarakat sipil yang tergabung dalam Komite Seruan Kedaulatan Rakyat atau Sadar di kawasan Tugu Tani, Jakarta Pusat, pada 20 Oktober 2026.

Aksi tersebut digelar bertepatan dengan peringatan dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Para demonstran menyampaikan sejumlah tuntutan dan menggunakan berbagai simbol untuk mengekspresikan kritik mereka.

Penggunaan simbol tiga jari kembali terlihat dalam aksi demonstrasi yang berlangsung pada Rabu, 28 Oktober 2026, bertepatan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda. Unjuk rasa berskala besar ini digerakkan oleh elemen mahasiswa bersama koalisi masyarakat sipil dengan titik utama aksi di kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta Pusat.

Dalam aksi tersebut, para demonstran membawa sejumlah tuntutan yang berkaitan dengan isu lingkungan, ekonomi, pendidikan, hukum, hingga demokrasi. Mereka mendesak pemerintah menetapkan status bencana nasional untuk berbagai bencana ekologis, menghentikan proyek yang merusak alam, serta mengakhiri pemborosan anggaran negara. Selain itu, massa juga menyuarakan sejumlah tuntutan, termasuk penurunan biaya pendidikan, penghentian penyalahgunaan kekuasaan, serta penghentian militerisasi di ruang sipil.

Salam tiga jari menjadi simbol solidaritas dan perlawanan yang digunakan dalam berbagai aksi demonstrasi di dunia. Meski maknanya bisa berbeda di setiap negara, gestur ini kerap menjadi cara masyarakat menyuarakan aspirasi, menolak ketidakadilan, dan memperjuangkan demokrasi.

Curated For You

Editorial Team

Related Article