Konferensi pers "Retrospektif: The Concert" di Midaz Senayan, Jakarta, Rabu (13/5/2026) (dok. IDN Times/Shandy Pradana)
Selain kolaborasi spesial dengan maestro orkestra Erwin Gutawa, konser ini akan terasa berbeda karena mengusung konsep Grand Symphonic Universe, dimana ini merupakan konser termegah Afgan dalam balutan simfoni orkestra, visual dan cerita dalam satu pertunjukan menyeluruh.
"Jadi kita came up dengan grand symphonic universe ini dari terms yang came up dari Afgan sebetulnya. Terus kita coba saling diskusi dan membuat bagaimana visual, lighting, sound, tampilan, aransemen musik, itu kita namakan grand symphonic universe dimana kalian punya experience yang berbeda dalam menonton sebuah konser musik," jelas Shadtoto Prasetio, Creative Director konser ini.
Lebih dari sekadar pertunjukan, panggung yang dihadirkan merupakan gabungan dari konser-konser sebelumnya, sehingga menjadikannya megah dan juga menyimpan cerita yang begitu bermakna. Menggunakan pendekatan “mirroring visual” dengan layar reflektif dan inverted projection, konser ini menggabungkan elemen dari konser-konser Afgan sebelumnya sehingga menciptakan pengalaman visual yang lebih imersif dan tanpa batas. Sentuhan baru dari tata visual, pencahayaan, dan desain artistik tersebut memperkuat pengalaman storytelling dalam setiap segmennya.