Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popbela lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Lelah Urusan Kantor dan Rumah? 8 Tips Atasi 'Double Burden' Agar Tidak Burnout
pexels.com/anntarazevich
  • Fenomena double burden makin dirasakan banyak orang, terutama perempuan, karena harus membagi energi antara pekerjaan kantor dan tanggung jawab rumah tangga hingga berisiko alami burnout.

  • Pentingnya membuat batasan kerja-pribadi, mengurangi beban mental, menjaga kesehatan fisik, serta menyelaraskan aktivitas dengan prioritas hidup untuk mencegah kelelahan berlebih.

  • Ditekankan bahwa dukungan lingkungan dan perubahan pola pikir tentang produktivitas sangat membantu; istirahat bukan tanda malas, melainkan bagian penting dari keseimbangan hidup.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Kesibukan kerja yang makin padat, ditambah urusan rumah yang seolah tidak ada habisnya, membuat banyak orang merasa kelelahan setiap hari. Fenomena double burden atau beban ganda ini semakin nyata dirasakan, terutama oleh perempuan yang harus membagi energi antara pekerjaan kantor dan tanggung jawab domestik. Jika terus dibiarkan, kondisi ini bukan hanya melelahkan, tapi juga bisa berujung pada burnout.

Double burden, atau second shift, membuat seseorang seperti tidak pernah benar-benar berhenti bekerja. Setelah urusan kantor selesai, pekerjaan rumah sudah menunggu. Tanpa disadari, kelelahan pun menumpuk—ditandai dengan tubuh yang tetap lelah meski sudah istirahat, emosi jadi lebih sensitif, hingga kehilangan semangat. Saat batas antara kerja dan kehidupan pribadi semakin tipis, burnout pun jadi semakin sulit dihindari. Lalu, bagaimana cara mengatasinya? Simak tips lengkapnya berikut ini, Bela!

1. Pentingnya membuat batasan antara kerja dan kehidupan pribadi

The Mom Project

Salah satu langkah paling efektif adalah menetapkan batas yang jelas antara waktu kerja dan waktu pribadi. Menentukan jam kerja yang konsisten, mematikan notifikasi di luar jam kerja, serta memiliki rutinitas penutup hari seperti berjalan santai atau mandi dapat membantu otak “berpindah mode”. Batasan ini penting agar pekerjaan tidak terus “menyusup” ke dalam waktu istirahat.

2. Mengurangi beban pikiran (mental load)

Freedom in A Budget

Sering kali, kelelahan bukan hanya berasal dari banyaknya pekerjaan, tetapi dari terlalu banyak hal yang dipikirkan sekaligus. Menuliskan daftar tugas, memecah pekerjaan besar menjadi langkah kecil, serta berbagi tanggung jawab dengan anggota keluarga dapat membantu mengurangi beban mental. Dengan struktur yang jelas, rasa cemas pun ikut berkurang.

3. Luangkan waktu untuk istirahat yang berkualitas

pexels.com/atahandemir

Istirahat bukan berarti sekadar berhenti bekerja, tetapi benar-benar memberi waktu bagi tubuh dan pikiran untuk pulih. Mengalokasikan waktu 20–60 menit setiap hari untuk melakukan aktivitas yang disukai—seperti berjalan santai, mendengarkan musik, atau melakukan hobi—dapat meningkatkan energi dan fokus secara signifikan.

4. Menyelaraskan aktivitas dengan prioritas hidup

prodcamp

Burnout sering terjadi ketika apa yang dijalani tidak sejalan dengan apa yang dianggap penting. Luangkan waktu untuk mengevaluasi prioritas hidup, seperti kesehatan, keluarga, atau waktu istirahat, lalu bandingkan dengan rutinitas harian. Penyesuaian kecil dapat membantu menciptakan keseimbangan yang lebih sehat.

5. Menjaga kesehatan fisik sebagai fondasi utama

Technogym

Kondisi fisik sangat berpengaruh pada kesehatan mental. Kurang tidur, jarang bergerak, atau melewatkan makan dapat memperburuk stres. Sebaliknya, tidur yang cukup, aktivitas fisik ringan, dan pola makan teratur dapat meningkatkan daya tahan tubuh sekaligus memperbaiki suasana hati.

6. Mengubah pola pikir tentang produktivitas

Everyday Health

Tidak semua hal harus dilakukan dengan sempurna. Menerima bahwa ada batas kemampuan dan menurunkan ekspektasi yang terlalu tinggi dapat mengurangi tekanan yang tidak perlu. Istirahat bukanlah tanda kemalasan, melainkan bagian penting dari produktivitas jangka panjang.

7. Menyadari bahwa dukungan itu penting

CultureAlly

Menghadapi double burden tidak harus dilakukan sendirian. Dukungan dari pasangan, keluarga, maupun tempat kerja—seperti fleksibilitas jam kerja atau bantuan dalam urusan rumah tangga—dapat sangat membantu. Ini penting untuk diingat bahwa burnout bukan hanya masalah individu, tetapi juga berkaitan dengan sistem dan lingkungan.

8. Sadar bahwa kamu tidak gagal, tetapi sedang menanggung banyak peran

Colonial Family Eyecare

Penting untuk menyadari bahwa kelelahan yang dirasakan bukan karena ketidakmampuan, melainkan karena menjalani banyak peran sekaligus. Dengan memahami hal ini, Anda bisa lebih bijak dalam mengatur energi dan ekspektasi terhadap diri sendiri.

Dengan mengenali tanda-tanda dan menerapkan strategi yang tepat, beban ganda tidak harus berujung pada burnout. Kunci utamanya adalah keseimbangan, kesadaran diri, dan keberanian untuk mengatur ulang prioritas hidup. Kalau ada informasi lain yang kamu tahu, bisa tulis lewat kolom komentar, Bela!

Curated For You

Editorial Team

Related Article