Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popbela lainnya di IDN App
POPBELA.com/Mila Fitri Chairunisa
POPBELA.com/Mila Fitri Chairunisa

Intinya sih...

  • Prosedur estetika injeksi toksin botulinum semakin populer di kalangan generasi muda.

  • Tren ini menimbulkan risiko penggunaan toksin ilegal dengan harga lebih terjangkau di pasar gelap.

  • dr. Anesia Tania membagikan edukasi penting seputar bahaya toksin ilegal dan cara memilih produk toksin yang aman secara medis.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Prosedur estetika berbasis injeksi toksin botulinum kini semakin populer, terutama di kalangan generasi muda. Mulai dari menghaluskan kerutan, memperbaiki kontur wajah, hingga mengatasi masalah medis tertentu, treatment ini sering kali terlihat praktis dan instan. 

Sayangnya, di balik tren yang berkembang pesat di media sosial, muncul pula risiko penggunaan toksin ilegal yang beredar di pasar gelap dengan harga jauh lebih terjangkau.

Menyoroti fenomena ini, melalui wawancara bersama tim Popbela, dr. Anesia Tania, Sp.KK, membagikan edukasi penting seputar bahaya toksin ilegal, risiko kesehatan yang mungkin muncul, hingga cara memilih produk toksin yang aman dan terjamin secara medis. Simak pembahasannya di bawah ini yuk, Bela!

Alasan Dibalik Toksin Ilegal Sangat Berbahaya

POPBELA.com/Mila Fitri Chairunisa

Menurut dr. Anesia Tania, Sp.KK, penggunaan toksin yang tidak berizin atau didistribusikan secara ilegal menyimpan banyak risiko serius. Salah satu masalah utama adalah ketidakpastian kualitas produk. Pasien maupun dokter tidak bisa memastikan bagaimana proses produksi, penyimpanan, hingga distribusi toksin tersebut dilakukan.

Yang pertama kita nggak tahu barangnya asli atau palsu. Jadi bener nggak isinya toksin botulinum terus mereknya apa? Kedua, yang penting kalau kita menyuntikkan sesuatu itu harus steril,” jelas dr. Anesia. 

Proses sterilisasi harus dijaga sejak tahap produksi, distribusi, hingga teknik penyuntikan oleh dokter. Jika produk bersifat ilegal—baik palsu maupun masuk melalui jalur distribusi tidak resmi—jaminan sterilitas tidak lagi bisa dipastikan. Risiko kontaminasi virus dan bakteri pun menjadi jauh lebih tinggi.

Selain itu, toksin botulinum bersifat protein yang sangat sensitif terhadap suhu. Produk ini harus disimpan dan didistribusikan menggunakan sistem cold chain dengan suhu ideal antara 2–8 derajat Celsius. Jika toksin dibawa secara hand carry atau dikirim melalui jalur ilegal, tidak ada jaminan bahwa suhu penyimpanan tersebut tetap terjaga. Ketika cold chain terganggu, efektivitas produk bisa menurun drastis atau bahkan menimbulkan efek samping yang tidak diinginkan.

Standar Dokter dalam Memilih Produk Toksin yang Aman

freepik.com/ArthurHidden

Dari sudut pandang medis, dr. Anesia Tania, Sp.KK menegaskan bahwa pemilihan toksin tidak bisa dilakukan sembarangan. Ada beberapa standar penting yang selalu menjadi pertimbangan dokter sebelum menggunakan suatu produk.

Pertama, melihat siapa produsen toksin tersebut. Apakah berasal dari perusahaan legal dan bereputasi baik di negara asalnya. Kedua, memastikan produk sudah memiliki nomor BPOM dan resmi diizinkan untuk diedarkan di Indonesia. Legalitas ini menjadi penanda penting bahwa produk telah melalui uji keamanan dan efikasi. Ketiga, peran distributor dan prinsipal juga tidak kalah krusial. 

Selain kualitas obat, kemampuan dan kompetensi dokter yang menyuntikkan toksin menjadi faktor utama. Dokter harus memahami dosis yang tepat, area penyuntikan, kedalaman jarum, hingga potensi efek samping yang mungkin muncul.

Produk dari perusahaan besar umumnya sudah memiliki penelitian jangka panjang terkait efikasi, keamanan, serta standar dosis. Inilah alasan mengapa dokter cenderung memilih produk dengan rekam jejak riset yang jelas dibandingkan produk murah tanpa kejelasan asal-usul.

Harga Terlalu Murah Bisa Jadi Tanda Bahaya

freepik.com/ArthurHidden

Dari sisi pasien, dr. Anesia Tania, Sp.KK  menekankan bahwa tidak semua hal teknis perlu dipahami secara mendalam. Namun, ada beberapa indikator sederhana yang bisa menjadi pegangan. Salah satunya adalah harga.

Produk toksin yang berasal dari distributor resmi dan telah terdaftar BPOM biasanya memiliki harga yang relatif standar di pasaran. Jika harga yang ditawarkan terlalu murah dan jauh di bawah standar, maka patut dicurigai.

Dampak yang paling sering ditemui dari penggunaan toksin ilegal adalah hasil yang tidak predictable. Efeknya bisa sangat berbeda dari yang seharusnya. Misalnya, dosis tertentu yang biasanya memberikan hasil optimal dalam dua minggu, justru tidak menunjukkan perubahan berarti. 

Bahkan, pada beberapa kasus, hasilnya menjadi tidak simetris—satu sisi wajah terlihat bagus, sementara sisi lainnya tidak memberikan efek yang sama. Selain itu, efek samping lokal juga lebih sering terjadi. Jika pada toksin yang baik bentol bekas suntikan biasanya cepat menghilang, pada toksin ilegal bentol bisa bertahan lebih lama, disertai kemerahan, gatal, nyeri, hingga reaksi inflamasi yang jarang ditemui pada produk resmi.

Pengaruh Media Sosial Bagi Pasien Pemula

freepik.com/senivpetro

Fenomena media sosial turut berperan besar dalam meningkatnya penggunaan toksin botulinum, khususnya di kalangan pasien pemula. dr. Anesia Tania, Sp.KK menjelaskan bahwa pasien yang sudah lama menjalani treatment biasanya lebih paham mengenai produk, proses, dan standar harga.

Sebaliknya, banyak pasien baru—termasuk anak muda, Gen Z, hingga pria yang sebelumnya tidak pernah melakukan perawatan estetika—datang ke klinik karena terpengaruh konten media sosial. Visual hasil instan, narasi “cepat dan mudah”, serta harga murah sering kali menjadi daya tarik utama.

Karena minim pengalaman, kelompok pasien ini lebih rentan tergoda penawaran yang tidak realistis. Padahal, prosedur medis tetap membutuhkan standar keamanan yang ketat dan tidak bisa disamakan dengan tren instan di media sosial.

Peran Daewoong dalam Menjamin Keamanan Produk

POPBELA.com/Mila Fitri Chairunisa

dr. Anesia Tania, Sp.KK menyoroti Daewoong sebagai salah satu perusahaan besar asal Korea yang produknya telah lama masuk ke Indonesia dan terdaftar BPOM. Dari sisi pabrik, sistem perusahaan, hingga dukungan pelatihan dan penanganan kasus, semuanya sudah mengikuti standar ketat baik di Korea maupun Indonesia.

Perusahaan resmi juga biasanya menyediakan berbagai sistem keamanan pada kemasan, seperti QR code, batch number, dan detail packaging untuk membedakan produk asli dan palsu. Hal ini penting mengingat toksin botulinum—terutama produk asal Korea—menjadi salah satu yang paling sering dipalsukan di pasar gelap.

Meski demikian, dr. Anesia menegaskan bahwa pada prinsipnya semua produk yang telah disetujui BPOM seharusnya memenuhi standar serupa. Tantangannya adalah keberadaan produk ilegal dan palsu yang masih beredar di luar jalur resmi.

Keamanan Jangka Panjang Toksin Botulinum

freepik.com/senivpetro

Dalam praktik klinis, injeksi toksin botulinum memerlukan sesi follow up untuk mengevaluasi hasil. Biasanya, kontrol dilakukan 2 minggu setelah penyuntikan, terutama untuk area otot kecil seperti sekitar mata dan dahi. Untuk otot yang lebih besar, seperti rahang atau area tubuh, evaluasi bisa dilakukan hingga 6–8 minggu.

Sementara itu, durasi efek toksin botulinum rata-rata bertahan hingga enam bulan, tergantung area dan kondisi masing-masing pasien. Menariknya, toksin botulinum sebenarnya sudah digunakan sejak tahun 1980-an dan menjadi salah satu prosedur medis yang paling lama diteliti.

Dengan penelitian jangka panjang dan pengalaman klinis puluhan tahun, toksin botulinum Daewoong tergolong aman selama produk yang digunakan berkualitas dan penyuntikan dilakukan oleh tenaga medis yang kompeten.

Maraknya toksin ilegal menjadi pengingat bahwa prosedur estetika bukan sekadar soal hasil instan. Edukasi, kehati-hatian, dan pemilihan produk yang tepat adalah kunci utama untuk menjaga keamanan dan kesehatan jangka panjang. Semoga artikel ini bermanfaat ya, Bela.

Editorial Team