Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popbela lainnya di IDN App
Tak Hanya Perempuan, Ini Pentingnya Memahami HPV pada Anak Laki-Laki
Dok. MSD Indonesia
  • MSD Indonesia dan Kementerian Kesehatan RI mengadakan Kelas Jurnalis 2026 untuk meningkatkan kesadaran bahwa HPV juga berdampak pada laki-laki, bukan hanya perempuan.
  • Data menunjukkan sekitar 40% kasus kanker terkait HPV terjadi pada laki-laki, termasuk kanker tenggorokan, anus, dan penis, sehingga vaksinasi menjadi langkah pencegahan utama.
  • Pakar kesehatan menekankan pentingnya imunisasi HPV sejak usia 9–13 tahun serta edukasi kesehatan menyeluruh agar perlindungan terhadap anak bersifat setara dan berkelanjutan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
  • What?
    Kegiatan Kelas Jurnalis 2026 bertema “Memahami HPV pada Anak Laki-Laki” digelar untuk meningkatkan kesadaran bahwa infeksi Human Papillomavirus (HPV) juga berdampak pada laki-laki, bukan hanya perempuan.
  • Who?
    Kegiatan ini diselenggarakan oleh MSD Indonesia bersama Kementerian Kesehatan RI, dengan dukungan para ahli seperti dr. Andi Saguni, George Stylianou, Dr. Hanny Nilasari, dan Prof. Hartono Gunardi.
  • Where?
    Kegiatan berlangsung di Indonesia dalam rangka memperkuat literasi kesehatan masyarakat secara nasional; lokasi spesifik penyelenggaraan per saat ini masih belum diketahui.
  • When?
    Kelas Jurnalis 2026 dilaksanakan sebagai bagian dari program edukasi kesehatan yang berkelanjutan menjelang tahun 2026; waktu pelaksanaan rinci masih menunggu informasi lebih lanjut.
  • Why?
    Tujuannya untuk memperluas pemahaman bahwa HPV dapat menyerang siapa saja dan pentingnya vaksinasi serta pencegahan sejak dini bagi anak laki-laki maupun perempuan.
  • How?
    Edukasi dilakukan melalui kelas jurnalis, paparan data medis, penjelasan pakar, serta ajakan vaksinasi HPV bagi anak usia sekolah dasar guna membangun perlindungan kesehatan yang setara dan menyeluruh.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Dalam rangka memperkuat literasi kesehatan masyarakat, MSD Indonesia bersama Kementerian Kesehatan RI kembali menghadirkan Kelas Jurnalis 2026 bertajuk “Memahami HPV pada Anak Laki-Laki: Meningkatkan Kesadaran Kesehatan Generasi Masa Depan”. Inisiatif ini menjadi langkah penting untuk membuka perspektif baru bahwa infeksi Human Papillomavirus (HPV) bukan hanya isu kesehatan perempuan, tetapi juga berdampak signifikan pada laki-laki.

Selama ini, pembahasan HPV sering kali terfokus pada kanker serviks. Padahal, realitanya virus ini tidak mengenal gender. Melalui kegiatan ini, MSD Indonesia ingin mengajak masyarakat memahami pentingnya pencegahan yang inklusif dan komprehensif demi melindungi generasi masa depan secara menyeluruh. Langsung saja, simak pembahasan lengkapnya di sini ya, Bela!

HPV Bukan Hanya Ancaman bagi Perempuan

POPBELA.com/Mila Fitri Chairunisa

Masih banyak yang mengira bahwa HPV hanya berkaitan dengan perempuan, terutama karena kaitannya dengan kanker serviks. Memang benar bahwa hampir 99% kasus kanker leher rahim disebabkan oleh HPV. Namun, data global menunjukkan bahwa hampir 1 dari 3 pria berusia di atas 15 tahun telah terinfeksi setidaknya satu jenis HPV.

Tak hanya sebagai pembawa virus, laki-laki juga menanggung beban penyakit yang cukup besar. Sekitar 40% kasus kanker terkait HPV terjadi pada laki-laki, termasuk kanker tenggorokan, anus, dan penis yang terus meningkat dari tahun ke tahun.

Plt Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kementerian Kesehatan RI, dr. Andi Saguni, M.A, menegaskan bahwa meskipun program imunisasi HPV pada anak perempuan telah mencapai cakupan tinggi hingga 91,1% pada 2025, edukasi untuk laki-laki masih perlu diperluas. Hal ini penting agar masyarakat memahami bahwa imunisasi HPV adalah investasi kesehatan bagi semua anak, tanpa memandang gender.

Vaksinasi HPV sebagai Langkah Pencegahan Utama

POPBELA.com/Mila Fitri Chairunisa

Vaksinasi menjadi salah satu cara paling efektif dalam mencegah infeksi HPV dan komplikasi yang ditimbulkannya. Virus ini dapat menginfeksi berbagai bagian tubuh seperti penis, skrotum, anus, mulut, hingga tenggorokan, dan berpotensi menyebabkan kutil kelamin hingga kanker.

Bahkan, risiko kanker tenggorokan akibat HPV pada laki-laki bahkan empat kali lebih tinggi dibanding perempuan, dengan angka kasus mencapai sekitar 18.000 per tahun. Gejalanya sering kali tidak terasa di awal, seperti munculnya daging tumbuh kecil yang tidak nyeri, sehingga kerap diabaikan.

Penularan HPV sendiri tidak hanya melalui kontak seksual seperti vaginal, anal, atau oral, tetapi juga bisa terjadi melalui rute non-seksual, misalnya dari ibu ke anak saat proses persalinan.

Hidden Burden HPV pada Laki-Laki yang Sering Terabaikan

Dok. MSD Indonesia

Fakta medis menunjukkan bahwa HPV memiliki dampak yang tidak spesifik pada satu gender. Namun, pada laki-laki, ada beban tersembunyi (hidden burden) yang sering kali luput dari perhatian.

Managing Director MSD Indonesia, George Stylianou, menegaskan komitmen perusahaan dalam mendorong perlindungan kesehatan yang setara melalui prinsip Health Equity. Artinya, setiap anak—baik laki-laki maupun perempuan—berhak mendapatkan perlindungan yang sama.

Ketua PERDOSKI, Dr. dr. Hanny Nilasari, Sp.DVE, Subsp. Ven., juga menjelaskan bahwa laki-laki cenderung tidak membangun kekebalan alami yang kuat setelah terinfeksi HPV. Hal ini membuat risiko infeksi berulang atau persisten menjadi lebih tinggi.

Selain itu, berbeda dengan kanker serviks yang memiliki program skrining rutin, kanker orofaring pada laki-laki belum memiliki sistem deteksi dini yang memadai. Kondisi ini membuat banyak kasus baru terdeteksi saat sudah memasuki tahap lanjut.

Pentingnya Edukasi dan Pencegahan Sejak Usia Dini

Dok. MSD Indonesia

Dari sudut pandang kesehatan anak, pencegahan HPV idealnya dimulai sejak usia dini. Ketua Satgas Imunisasi Anak IDAI, Prof. Dr. dr. Hartono Gunardi, SpA (K), menyebutkan bahwa sistem imun anak paling optimal merespons vaksin pada usia 9–13 tahun.

Artinya, memberikan imunisasi HPV pada anak usia sekolah dasar menjadi langkah strategis untuk mendapatkan perlindungan maksimal sebelum mereka terpapar risiko di masa depan. Pendekatan ini bukan hanya soal pencegahan penyakit, tetapi juga membangun fondasi gaya hidup sehat sejak dini.

Selain vaksinasi, pencegahan holistik juga penting dilakukan, mulai dari pemeriksaan kesehatan rutin, menjaga kebersihan diri, hingga edukasi kesehatan yang sesuai usia. Semua ini bertujuan membentuk kebiasaan sehat yang akan berdampak jangka panjang.

Dengan pemahaman yang lebih luas dan pendekatan pencegahan yang inklusif, masyarakat dapat berperan aktif dalam melindungi generasi masa depan dari risiko penyakit yang sebenarnya bisa dicegah. Jadi, sudah saatnya kita melihat HPV sebagai isu bersama—dan mengambil langkah nyata untuk perlindungan yang lebih menyeluruh, Bela.

Editorial Team