Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popbela lainnya di IDN App
2_20260201_210824_0001.png
Vietnam.vn

Intinya sih...

  • Virus Nipah adalah virus RNA dari keluarga Paramyxoviridae, genus Henipavirus, yang dapat menyebabkan penyakit serius pada manusia dan hewan.

  • Infeksi virus Nipah merupakan penyakit zoonosis. Penularannya dapat terjadi melalui kontak langsung dengan hewan terinfeksi, konsumsi makanan yang tercemar air liur, urin, atau kotoran kelelawar, serta kontak langsung antar manusia.

  • Gejala awal infeksi Nipah sering kali tidak spesifik dan menyerupai flu. Tingkat kematian kasus diperkirakan mencapai 40–75 persen, dan hingga kini belum tersedia obat antivirus maupun vaksin khusus untuk virus Nipah.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Munculnya kembali kasus virus Nipah di India pada akhir 2025 hingga awal 2026 memicu kewaspadaan di berbagai negara Asia, termasuk Indonesia. Meski jumlah kasus yang dilaporkan relatif terbatas, otoritas kesehatan dan penerbangan regional bergerak cepat untuk mengantisipasi potensi penyebaran lintas negara. Sejumlah bandara pun memperketat pemeriksaan kedatangan penumpang dari wilayah terdampak sebagai langkah pencegahan dini.

Virus Nipah bukanlah ancaman baru. Namun, tingkat kematiannya yang tinggi, belum tersedianya vaksin, serta keterkaitannya dengan perubahan lingkungan membuat virus ini terus menjadi perhatian global—termasuk bagi Indonesia yang memiliki kondisi ekologis serupa dengan sejumlah negara terdampak. Bagaimana virus ini menular, siapa yang paling berisiko, dan sejauh mana Indonesia perlu bersiap? Untuk memahami ancaman Nipah secara lebih utuh, simak penjelasan lengkapnya dalam artikel berikut, Bela!

Apa itu virus Nipah?

news.wsu.edu

Melansir dari ayosehat.kemkes, Virus Nipah (NiV) adalah virus RNA dari keluarga Paramyxoviridae, genus Henipavirus, yang dapat menyebabkan penyakit serius pada manusia dan hewan. Reservoir alaminya adalah kelelawar buah (Pteropus spp.), yang umumnya tidak menunjukkan gejala tetapi dapat menularkan virus ke hewan lain—seperti babi—atau langsung ke manusia.

Virus ini pertama kali diidentifikasi pada 1998–1999 dalam wabah di Sungai Nipah, Malaysia, yang juga berdampak ke Singapura. Sejak itu, kasus Nipah dilaporkan berulang di Bangladesh, India, Malaysia, Filipina, dan Sin gapura. Indonesia hingga kini belum termasuk negara dengan kasus terkonfirmasi.

Pola penularan dan masa inkubasi

Motts Pharmacy

Infeksi virus Nipah merupakan penyakit zoonosis. Penularannya dapat terjadi melalui:

  • Kontak langsung dengan hewan terinfeksi, termasuk kelelawar atau babi

  • Konsumsi makanan yang tercemar air liur, urin, atau kotoran kelelawar, seperti buah atau nira

  • Kontak langsung antar manusia, terutama melalui cairan tubuh atau droplet pernapasan

Masa inkubasi umumnya berkisar antara 4–14 hari, namun dalam kasus tertentu dapat mencapai hingga 45 hari, sehingga menyulitkan deteksi dini.

Gejala klinis dan penanganan virus Nipah

Motts Pharmacy

Gejala awal infeksi Nipah sering kali tidak spesifik dan menyerupai flu, seperti demam tinggi, sakit kepala, nyeri otot, mual, muntah, dan sakit tenggorokan. Pada sebagian pasien, penyakit berkembang dengan cepat dan menyerang sistem saraf pusat.

Gejala lanjutan dapat berupa pusing, kebingungan, kantuk berlebihan, kejang, hingga ensefalitis (radang otak) yang berkembang pesat. Gangguan pernapasan berat juga dapat muncul dan mengancam nyawa. Tingkat kematian kasus diperkirakan mencapai 40–75 persen, tergantung lokasi dan kecepatan penanganan.

Hingga kini, belum tersedia obat antivirus maupun vaksin khusus untuk virus Nipah. WHO menyatakan bahwa penanganan medis berfokus pada perawatan suportif intensif, seperti menjaga fungsi pernapasan, stabilisasi kondisi neurologis, serta pemantauan ketat untuk mencegah komplikasi berat. Deteksi dini menjadi faktor penentu keselamatan pasien.

Situasi terkini kasus Nipah di India

Al Jazeera

Kekhawatiran regional meningkat setelah dua petugas kesehatan di Benggala Barat terinfeksi virus Nipah pada akhir Desember 2025. Hampir 200 orang yang memiliki riwayat kontak dengan pasien menjalani pemeriksaan dan pemantauan. Kasus ini merupakan kejadian ketujuh di India sejak 2001.

WHO mencatat bahwa sejak Mei hingga Juli 2025, India telah melaporkan empat kasus infeksi Nipah dengan dua kematian. Lebih dari 700 orang diketahui pernah melakukan kontak dengan pasien atau terkait langsung dengan kasus tersebut. Meski demikian, pemerintah India dinilai mampu melakukan pelacakan dan pengendalian secara cepat.

Respons kawasan Asia terhadap wabah Nipah

Al Jazeera

Sejumlah negara di Asia meningkatkan kewaspadaan setelah dua kasus baru virus Nipah (NiV) terkonfirmasi di Benggala Barat, India. Malaysia memperketat pengawasan di seluruh pintu masuk internasional dan mengimbau pelaku perjalanan mengenakan masker serta segera mencari bantuan medis bila merasa tidak sehat. Singapura menyiapkan pemeriksaan suhu bagi penumpang dari negara terdampak, sementara Thailand menempatkan pesawat dari wilayah terinfeksi di area parkir khusus dan Nepal memperketat pengawasan lintas batas. Langkah ini mencerminkan upaya kawasan Asia mencegah penyebaran lintas negara, meski risikonya dinilai masih terbatas.

Kemunculan berulang kasus Nipah juga menyoroti kaitan erat antara kerusakan lingkungan dan penyakit zoonosis. Deforestasi di Asia Selatan dan Asia Tenggara telah mengubah habitat alami kelelawar buah, memaksa satwa ini mencari makan lebih dekat ke permukiman manusia dan meningkatkan risiko penularan virus. Di Bangladesh, sejak 2001 hingga 2024, Nipah menginfeksi sedikitnya 330 orang dan menewaskan 237 jiwa, dengan penularan kerap dikaitkan dengan konsumsi nira kurma yang terkontaminasi. Sementara di Malaysia, deforestasi mendorong perpindahan virus dari kelelawar ke babi dan kemudian ke manusia, memicu wabah besar pada 1998–1999.

Meski memiliki tingkat kematian tinggi, para ahli menilai virus Nipah tidak menyebar seefisien COVID-19. Penularan antarmanusia relatif terbatas dan sebagian besar kasus berkaitan dengan paparan hewan atau makanan terkontaminasi, sehingga risiko bagi masyarakat di luar wilayah wabah dinilai rendah.

Kesiapsiagaan Indonesia dengan virus Nipah

The Boston Globe

Pemerintah Indonesia meningkatkan kewaspadaan meski belum ada kasus terkonfirmasi. Langkah yang diambil meliputi penguatan deteksi dini di bandara dan pelabuhan, skrining pelaku perjalanan, serta edukasi fasilitas kesehatan.

Indonesia memiliki faktor ekologis yang serupa dengan negara terdampak, seperti populasi kelelawar buah dan aktivitas peternakan rakyat yang dekat dengan permukiman. Namun, risiko wabah tidak menyebar merata. Pengalaman negara lain menunjukkan bahwa kasus Nipah hampir selalu terkonsentrasi pada kelompok tertentu: peternak, pekerja kebun, tenaga kesehatan, dan komunitas rural dekat habitat kelelawar.

Virus Nipah merupakan ancaman zoonotik serius dengan tingkat kematian tinggi, namun tidak menyebar secara masif. Kasus berulang, termasuk di India, menegaskan pentingnya kewaspadaan, deteksi dini, dan pengendalian berbasis risiko di tengah perubahan lingkungan, sehingga wabah dapat dicegah tanpa memicu kepanikan.

Editorial Team

EditorAyu Utami