Aktris film Ketika Berhenti Di Sini itu juga berbagi dirinya saat berada di fase kembali utuh sesuai dengan buku terbarunya, Retak, Luruh, Kembali Utuh. Baginya, berada di fase yang terlihat baik-baik saja itu bukan berarti sudah melupakan atau melepaskan rasa sakit atau luka yang ada dalam diri. Jika suatu saat ada trigger yang mengembalikan rasa sakit tersebut, ini merupakan hal yang wajar, termasuk saat kamu mengalaminya.
“Karena kita ada di fase kembali utuh, bukan berarti kita melupakan atau sudah sepenuhnya melepaskan rasa-rasa sakit atau luka yang pernah ada di diri kita dan itu wajar banget. Jadi, buat siapa pun yang sudah ada di fase utuh, mungkin sudah merasa baik-baik aja. Tapi tiba-tiba kalau ada trigger-nya muncul lagi, naik lagi ke permukaan perasaannya, menurut aku itu wajar banget,” katanya.
Lebih lanjut, Prilly mengatakan saat berada di momen tersebut, harus bisa menguatkan diri lagi. Ia juga berpesan bahwa nggak apa-apa kok belum bisa memaafkan dan melupakan perbuatan orang lain. Setiap orang punya waktunya sendiri untuk berdamai, tapi yang terpenting adalah bagaimana kamu juga memaafkan dirimu dulu.
“Ada kok momen-momen di mana aku baik-baik aja, tapi mendengar satu kalimat yang mungkin bisa nge-trigger aku, aku bisa nangis saat itu juga. Dan akhirnya di saat rasanya muncul, kita harus balik lagi menguatkan diri sendiri lagi. Jadi, nggak apa-apa memaafkan gitu, dan kalau kita belum bisa memaafkan itu nggak apa-apa banget, kita nggak harus memaafkan dan melupakan untuk move on.
Jadi, ya seiring berjalannya waktu aja, kapan kita bisa memaafkan? Memaafkan atau melupakan itu nggak ada timeline-nya, kita bisa memaafkan nanti 10 tahun lagi atau 5 tahun lagi. Kita nggak bisa memaafkan kejadiannya, kita nggak bisa memaafkan orang tersebut misalnya, tapi yang penting kita bisa memaafkan diri kita sendiri dulu,” pesan Prilly.