Playvul NYRA, rumah produksi film Indonesia yang dikenal lewat karya-karyanya dengan narasi satir dan permainan psikologis, akhirnya memperkenalkan tiga film pendeknya kepada publik. Ketiga film tersebut adalah More Pain, More Gain, Salam Dahsyat Fantastis Luar Biasa, dan Ambang Batas, yang sebelumnya telah mendapat perhatian di sejumlah festival film internasional, seperti Stockholm Film Festival, Fantasia Film Festival, hingga Balinale.
Ketiga film tersebut kemudian diputar dalam acara screening and discussion bersama Playvul NYRA yang digelar pada Kamis (13-8-2026) di CGV fX Sudirman. Popbela berkesempatan menyaksikan langsung ketiga film sekaligus mengikuti sesi diskusi bersama para pemain dan filmmaker. Dari ketiganya, Ambang Batas menjadi film yang cukup menarik perhatian karena membawa isu yang begitu dekat dengan kehidupan perempuan: rasa aman di ruang publik, pelecehan seksual, hingga bagaimana pengalaman korban dapat memengaruhi cara seseorang memandang keadilan.
Film yang disutradarai Nadina Habsjah dan Yusgunawan Marto serta ditulis oleh Amanda Simandjuntak ini mengikuti Ginanti (Putri Ayudya), seorang psikolog di Rumah Aman Perempuan yang pulang bekerja menggunakan taksi pada malam hari. Percakapannya dengan sang sopir, Santoso (Rukman Rosadi), yang awalnya terlihat biasa perlahan berubah menjadi tidak nyaman. Pertanyaan seksis, pandangan merendahkan terhadap perempuan, hingga situasi yang semakin mengancam membuat perjalanan pulang Ginanti berubah menjadi ketegangan psikologis.
Namun, Ambang Batas tidak berhenti pada cerita tentang seorang perempuan yang merasa tidak aman saat pulang malam. Lewat twist yang cukup mengejutkan, film ini juga membawa penonton masuk ke persoalan trauma, empati, kekerasan seksual, dan pertanyaan tentang keadilan. Dari sana, ada beberapa pesan tentang perempuan yang terasa relate dan menarik untuk direnungkan.
Spoiler alert! Pembahasan berikut sedikit menyinggung cerita dan konflik dalam film.
