Joe Irene juga menjelaskan beberapa karakteristik yang kerap ditemukan pada individu dengan kecenderungan NPD. Meski diagnosis hanya bisa ditegakkan oleh profesional kesehatan mental, memahami ciri-ciri ini dapat membantu seseorang mengenali pola perilaku yang kurang sehat.
Salah satu tanda yang paling menonjol adalah kesulitan merasakan affective empathy, yaitu kemampuan untuk benar-benar memahami dan merasakan emosi orang lain. Karena rendahnya empati, mereka juga sering kali tidak menunjukkan rasa bersalah ketika tindakannya menyakiti orang lain.
"Dari aspek pede, seseorang yang NPD itu pede tapi ekstrim banget. Kalau sampai ada orang yang mengkritik, wah, alergi. Langsung ngerasa kepikiran, bahkan langsung muncul reaksi menjauh. Namun, hal tersebut bisa terjadi secara alam bawah sadar. Jadi, empatinya rendah dan relasinya tidak stabil," ungkapnya.
Selain itu, seseorang dengan NPD umumnya memiliki inflated sense of self-worth atau pandangan yang berlebihan terhadap dirinya sendiri. Mereka dapat memiliki fantasi besar mengenai kesuksesan, kekuasaan, kecerdasan, atau pencapaian tertentu, serta merasa dirinya sangat penting dibandingkan orang lain. Dalam beberapa situasi, hal ini dapat muncul dalam bentuk perilaku arogan dan ketidakmampuan menerima rasa malu atau kegagalan.
Karakteristik lainnya adalah pola menyalahkan dan merendahkan orang lain. Menariknya, perilaku ini sering kali baru disadari oleh orang-orang terdekat yang berinteraksi secara intens dengan mereka. Di hadapan publik, mereka mungkin terlihat menawan dan percaya diri, tetapi dalam hubungan yang lebih personal bisa menunjukkan sikap yang berbeda.
Mereka juga cenderung membutuhkan orang lain untuk terus mengagumi, mengafirmasi, atau mengakui keunggulannya. Kebutuhan ini membuat mereka selalu ingin dianggap lebih benar, lebih pintar, lebih sukses, atau lebih superior dibandingkan orang di sekitarnya. Dalam beberapa kasus, mereka bahkan dapat merendahkan orang lain untuk mempertahankan citra tersebut.