Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popbela lainnya di IDN App
Jangan Sampai Keliru, Ini Penjelasan Tentang Confidence & Narcissism dari Joe Irene, M. Psi
Dok. IDN
  • BeautyFest Asia (BFA) Jakarta 2026 akan digelar di Mall Kota Kasablanka pada 29–31 Mei 2026, menghadirkan promo, produk kecantikan terbaru, dan sesi inspiratif.
  • Salah satu sesi menarik adalah talkshow 'Curhat Anonymous: Confidence vs Narcissism' bersama psikolog klinis Joe Irene, M.Psi., yang membahas isu kepercayaan diri dan narsisme.
  • Talkshow ini mengajak pengunjung memahami perbedaan antara rasa percaya diri yang sehat dan perilaku narsistik yang bisa memengaruhi hubungan sosial serta kesehatan mental.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

BeautyFest Asia (BFA) Jakarta 2026 resmi kembali hadir di Mall Kota Kasablanka dan siap memanjakan para beauty enthusiast selama tiga hari penuh, mulai dari tanggal 29-31 Mei 2026. Tak hanya menjadi destinasi favorit untuk berburu promo dan produk terbaru, acara persembahan POPBELA ini juga menghadirkan berbagai sesi inspiratif yang membahas isu-isu relevan dalam kehidupan sehari-hari.

Salah satu sesi yang berhasil menarik perhatian pengunjung adalah talkshow bertajuk "Curhat Anonymous: Confidence vs Narcissism" bersama Joe Irene, M.Psi. sebagai Psikolog Klinis. Mengangkat tema yang sering disalahpahami, sesi ini mengajak pengunjung untuk memahami perbedaan antara rasa percaya diri yang sehat dengan perilaku narsistik yang dapat berdampak pada hubungan sosial dan kesehatan mental. Lalu, apa saja poin penting yang dibahas dalam talkshow ini? Simak selengkapnya yuk, Bela!

Percaya Diri dan Narsistik, Apa Bedanya?

Dok. IDN

Dalam sesi talkshow ini, Joe Irene menjelaskan bahwa rasa percaya diri dan narsisme sering kali terlihat mirip di permukaan, tetapi memiliki perbedaan mendasar dari cara seseorang memandang dirinya sendiri dan berinteraksi dengan orang lain.

Seseorang yang memiliki kepercayaan diri yang sehat umumnya mampu menghargai dirinya tanpa harus merendahkan orang lain. Mereka memahami kelebihan dan kekurangannya, terbuka terhadap masukan, serta tetap mampu menunjukkan empati dalam hubungan sosial. Orang yang percaya diri juga tidak bergantung pada validasi terus-menerus dari lingkungan sekitar untuk merasa berharga.

Tapi bedanya, narsis sehat itu perlu ada dalam diri kita dan ada di level yang wajar. Nggak terlalu rendah, nggak terlalu tinggi. Lalu, ada yang namanya empati. Soal perasaan apa yang kalian rasakan. Jadi, kalau kita pede kita tetap bisa merasakan dan yang paling keliatan adalah dalam hal relasinya,” jelasnya.

Sebaliknya, pada kondisi Narcissistic Personality Disorder (NPD), seseorang memiliki kebutuhan yang sangat tinggi untuk mendapatkan pengakuan dan kekaguman dari orang lain. Mereka cenderung sulit menerima kritik, memiliki empati yang rendah, serta sering mengalami hubungan interpersonal yang tidak stabil karena pola perilaku yang berpusat pada diri sendiri.

Dengan kata lain, percaya diri membuat seseorang merasa cukup dengan dirinya sendiri, sementara narsisme membuat seseorang terus mencari pembuktian dari luar untuk mempertahankan citra dirinya.

Ciri-Ciri Orang dengan Narcissistic Personality Disorder (NPD)

Dok. IDN

Joe Irene juga menjelaskan beberapa karakteristik yang kerap ditemukan pada individu dengan kecenderungan NPD. Meski diagnosis hanya bisa ditegakkan oleh profesional kesehatan mental, memahami ciri-ciri ini dapat membantu seseorang mengenali pola perilaku yang kurang sehat.

Salah satu tanda yang paling menonjol adalah kesulitan merasakan affective empathy, yaitu kemampuan untuk benar-benar memahami dan merasakan emosi orang lain. Karena rendahnya empati, mereka juga sering kali tidak menunjukkan rasa bersalah ketika tindakannya menyakiti orang lain.

"Dari aspek pede, seseorang yang NPD itu pede tapi ekstrim banget. Kalau sampai ada orang yang mengkritik, wah, alergi. Langsung ngerasa kepikiran, bahkan langsung muncul reaksi menjauh. Namun, hal tersebut bisa terjadi secara alam bawah sadar. Jadi, empatinya rendah dan relasinya tidak stabil," ungkapnya.

Selain itu, seseorang dengan NPD umumnya memiliki inflated sense of self-worth atau pandangan yang berlebihan terhadap dirinya sendiri. Mereka dapat memiliki fantasi besar mengenai kesuksesan, kekuasaan, kecerdasan, atau pencapaian tertentu, serta merasa dirinya sangat penting dibandingkan orang lain. Dalam beberapa situasi, hal ini dapat muncul dalam bentuk perilaku arogan dan ketidakmampuan menerima rasa malu atau kegagalan.

Karakteristik lainnya adalah pola menyalahkan dan merendahkan orang lain. Menariknya, perilaku ini sering kali baru disadari oleh orang-orang terdekat yang berinteraksi secara intens dengan mereka. Di hadapan publik, mereka mungkin terlihat menawan dan percaya diri, tetapi dalam hubungan yang lebih personal bisa menunjukkan sikap yang berbeda.

Mereka juga cenderung membutuhkan orang lain untuk terus mengagumi, mengafirmasi, atau mengakui keunggulannya. Kebutuhan ini membuat mereka selalu ingin dianggap lebih benar, lebih pintar, lebih sukses, atau lebih superior dibandingkan orang di sekitarnya. Dalam beberapa kasus, mereka bahkan dapat merendahkan orang lain untuk mempertahankan citra tersebut.

Bagaimana Cara Menghadapi Orang dengan Kecenderungan NPD?

Dok. IDN

Menghadapi seseorang yang memiliki kecenderungan narsistik memang tidak selalu mudah. Dalam talkshow ini, Joe Irene menekankan pentingnya menjaga batasan yang sehat agar hubungan tidak menguras energi emosional secara berlebihan.

Salah satu langkah yang bisa dilakukan adalah bersikap tegas terhadap batasan pribadi. Jika ada perilaku yang membuatmu tidak nyaman, penting untuk menyampaikannya dengan jelas. Namun, kamu juga perlu memahami bahwa orang dengan kecenderungan NPD mungkin tidak selalu merespons batasan tersebut dengan baik. Karena itu, bersiaplah dengan konsekuensi yang mungkin muncul.

Selain itu, menjaga interaksi tetap singkat dan fokus pada inti pembicaraan dapat membantu mengurangi potensi konflik yang tidak perlu. Ketika menghadapi situasi yang memancing emosi, usahakan untuk tetap tenang dan netral.

Joe Irene juga mengingatkan bahwa tidak semua situasi membutuhkan penjelasan panjang lebar. Dalam beberapa kondisi, tidak perlu melakukan over explain atau terus-menerus membela diri. Menyampaikan pesan secara singkat, jelas, dan konsisten sering kali menjadi pendekatan yang lebih efektif.

Talkshow ini menjadi pengingat bahwa memahami kesehatan mental bukan hanya tentang mengenali diri sendiri, tetapi juga memahami dinamika hubungan dengan orang-orang di sekitar kita.

Buat kamu yang penasaran dengan sesi talkshow menarik lainnya, jangan lupa datang ke BeautyFest Asia Jakarta 2026 yang masih berlangsung sampai 31 Mei 2026. See you there, Bela!

Editorial Team

Related Article