Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popbela lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Cemas karena Terus Pantau Berita Bencana di Sosmed? Ini Cara Mengatasinya
Pexels.com/RDNE Stock project
  • Konsumsi berita bencana yang tinggi berkaitan dengan kondisi kesehatan mental yang lebih buruk, termasuk kecemasan, depresi, dan gejala menyerupai PTSD.
  • Kebiasaan terus memeriksa unggahan dan me-refresh berita dapat menjadi tanda problematic news consumption yang mengganggu kehidupan sehari-hari.
  • Informasi penting dapat diperoleh dengan membatasi waktu cek berita, memilih sumber kredibel, serta mengambil jeda dari media sosial.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Kebiasaan memantau berita bencana di media sosial dapat membuat seseorang semakin cemas.
  • Who?
    Associate Professor Michael Noetel dari School of Psychology, University of Queensland, serta orang yang mengonsumsi berita bencana melalui media sosial.
  • Where?
    Di media sosial dan aplikasi berita.
  • When?
    Saat terjadi bencana atau situasi darurat.
  • Why?
    Konsumsi berita yang lebih tinggi berkaitan dengan kondisi kesehatan mental yang lebih buruk, sementara media sosial dapat menyajikan konten pemicu rasa takut.
  • How?
    Dengan mengenali doomscrolling, membedakan kebutuhan informasi dan FOMO, menentukan waktu cek berita, memilih sumber kredibel, serta mengambil jeda.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Saat ada bencana, orang-orang melihat media sosial untuk tahu kabar baru. Tapi kalau melihat berita terus, kita bisa jadi takut dan cemas. Michael Noetel bilang terlalu banyak melihat berita bisa mengganggu pikiran. Kita bisa melihat berita pada waktu tertentu, memilih sumber terpercaya, lalu melakukan kegiatan lain setelahnya.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Mencari informasi akurat saat bencana tetap penting untuk mengetahui situasi dan mengikuti imbauan keselamatan. Pembatasan waktu membaca berita, pemilihan sumber kredibel, serta jeda untuk melakukan aktivitas lain memberi ruang agar kebutuhan informasi tetap terpenuhi tanpa membiarkan berita memenuhi pikiran sepanjang hari.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Saat terjadi bencana atau situasi darurat, wajar kalau kita ingin mengetahui perkembangan terbarunya. Media sosial pun sering menjadi tempat pertama untuk mencari informasi, mulai dari kondisi terkini, video yang beredar, hingga kabar dari orang-orang di lokasi.

Namun, pernahkah niat untuk sekadar update justru berubah menjadi kebiasaan mengecek berita setiap beberapa menit? Sudah melihat satu unggahan, lanjut ke unggahan lain, membaca komentar, mencari sumber lain, lalu kembali membuka media sosial karena takut ada informasi penting yang terlewat. Bukannya merasa lebih tenang, kita malah semakin cemas.

Associate Professor Michael Noetel dari School of Psychology, University of Queensland (UQ), menjelaskan bahwa terdapat hubungan yang konsisten antara konsumsi berita yang lebih tinggi dan kondisi kesehatan mental yang lebih buruk. Salah satu systematic review terhadap 66 penelitian juga menemukan bahwa konsumsi media terkait bencana yang lebih tinggi berkaitan dengan kecemasan, depresi, dan gejala yang menyerupai PTSD.

Lantas, bagaimana cara tetap mendapatkan informasi penting tanpa membuat diri sendiri semakin cemas?

1. Kenali kapan kamu mulai doomscrolling

Pexels.com/Cottonbro

Coba perhatikan kebiasaan saat membuka media sosial. Apakah kamu memang sedang mencari informasi tertentu atau hanya terus scrolling karena takut ketinggalan kabar terbaru?

Noetel menjelaskan bahwa problematic news consumption dapat terjadi ketika seseorang terlalu terpaku pada berita dan sulit berhenti meski sudah mengganggu kehidupan sehari-hari. Kebiasaan terus-menerus me-refresh aplikasi berita juga bisa menjadi salah satu tandanya.

Kalau kamu sudah mulai membuka berita yang sama berkali-kali tanpa mendapatkan informasi baru, mungkin sudah waktunya mengambil jeda.

2. Bedakan kebutuhan informasi dengan FOMO

Pexels.com/dlxmedia.hu

Mencari informasi saat terjadi bencana tentu bukan hal yang salah. Informasi yang akurat justru penting untuk mengetahui situasi dan mengikuti imbauan keselamatan.

Namun, coba tanyakan kepada diri sendiri, “Informasi apa yang sebenarnya sedang aku cari?” Kalau sudah mendapatkan jawabannya, kamu tidak perlu terus berpindah dari satu unggahan ke unggahan lain hanya karena takut melewatkan sesuatu.

Kamu boleh stay informed tanpa harus mengetahui setiap perkembangan secara real time.

3. Tentukan waktu khusus untuk cek berita

Pexels.com/Cottonbro

Daripada memantau berita sepanjang hari, tentukan waktu tertentu untuk mengecek perkembangan terbaru. Dengan begitu, kamu tetap bisa mendapatkan informasi tanpa membiarkan berita memenuhi pikiran sepanjang hari.

Noetel juga menyarankan untuk menyediakan waktu khusus dan terbatas untuk membaca berita, bukan mengonsumsinya sedikit demi sedikit sepanjang hari.

Kalau perlu, gunakan fitur Screen Time di iPhone atau Digital Wellbeing di Android untuk membantu membatasi penggunaan aplikasi.

4. Pilih sumber yang terpercaya

Pexels.com/khánh vũ

Ketika situasi sedang ramai, media sosial bisa dipenuhi berbagai informasi, termasuk video lama, klaim yang belum terverifikasi, hingga komentar yang justru membuat semakin panik.

Karena itu, pilih beberapa sumber kredibel sebagai rujukan utama. Tidak perlu mengikuti semua akun yang membahas peristiwa tersebut.

Menurut Noetel, hubungan antara konsumsi berita dan distress juga diketahui lebih kuat pada media sosial dibandingkan media tradisional. Algoritma media sosial dapat terus menyajikan konten yang memicu rasa takut atau emosi kuat karena dirancang untuk meningkatkan engagement.

5. Beri jeda setelah mendapatkan informasi

Pexels.com/Gustavo Fring

Setelah mengetahui informasi yang memang dibutuhkan, tutup aplikasi dan lakukan aktivitas lain. Kamu bisa membaca buku, berjalan kaki, berolahraga ringan, melakukan hobi, atau mengobrol dengan orang terdekat.

Noetel juga menyarankan untuk menyeimbangkan konsumsi berita dengan aktivitas lain yang mendukung kesejahteraan, termasuk menghabiskan waktu di luar ruangan dan terhubung dengan keluarga atau teman.

Ingat, berhenti scrolling bukan berarti kamu tidak peduli. Kamu hanya sedang memberi kesempatan bagi pikiran untuk beristirahat.

6. Jangan abaikan jika kecemasan mulai mengganggu

Pexels.com/Liza Summer

Merasa takut, khawatir, atau stres ketika melihat berita bencana merupakan respons yang manusiawi. WHO menyebut situasi darurat dapat memicu kecemasan, kesedihan, sulit tidur, kelelahan, hingga mudah marah. Pada banyak orang, reaksi tersebut dapat membaik seiring waktu.

Namun, jika rasa cemas terus berlangsung atau mulai mengganggu tidur, pekerjaan, hubungan sosial, maupun aktivitas sehari-hari, pertimbangkan untuk mencari bantuan dari tenaga profesional.

Tetap mendapatkan informasi tidak berarti harus terus-terusan online. Kamu bisa tetap waspada dan peduli terhadap situasi sekitar tanpa terjebak dalam siklus doomscrolling. Sesekali, tidak apa-apa untuk menutup media sosial dan kembali menikmati kehidupan di luar layar.

Curated For You

Editorial Team

Related Article