Saat terjadi bencana atau situasi darurat, wajar kalau kita ingin mengetahui perkembangan terbarunya. Media sosial pun sering menjadi tempat pertama untuk mencari informasi, mulai dari kondisi terkini, video yang beredar, hingga kabar dari orang-orang di lokasi.
Namun, pernahkah niat untuk sekadar update justru berubah menjadi kebiasaan mengecek berita setiap beberapa menit? Sudah melihat satu unggahan, lanjut ke unggahan lain, membaca komentar, mencari sumber lain, lalu kembali membuka media sosial karena takut ada informasi penting yang terlewat. Bukannya merasa lebih tenang, kita malah semakin cemas.
Associate Professor Michael Noetel dari School of Psychology, University of Queensland (UQ), menjelaskan bahwa terdapat hubungan yang konsisten antara konsumsi berita yang lebih tinggi dan kondisi kesehatan mental yang lebih buruk. Salah satu systematic review terhadap 66 penelitian juga menemukan bahwa konsumsi media terkait bencana yang lebih tinggi berkaitan dengan kecemasan, depresi, dan gejala yang menyerupai PTSD.
Lantas, bagaimana cara tetap mendapatkan informasi penting tanpa membuat diri sendiri semakin cemas?
