Pada tahun 1850-an, ketika studio fotografi mulai bermunculan, memiliki foto masih dianggap sebagai sesuatu yang mewah. Biayanya mahal dan prosesnya tidak sesederhana sekarang, sehingga kebanyakan keluarga hanya menggunakan jasa fotografi untuk momen-momen yang benar-benar spesial, salah satunya pernikahan. Bahkan di masa itu, fotografi juga punya fungsi yang cukup unik, yakni beberapa orang tua memotret putri mereka yang belum menikah sebagai cara untuk memperkenalkan calon pasangan kepada laki-laki yang sedang mencari istri.
Di awal perkembangan fotografi, pasangan pengantin ternyata belum terbiasa berfoto tepat pada hari pernikahan mereka. Pada paruh pertama abad ke-19, orang lebih sering datang ke studio untuk berpose mengenakan pakaian terbaik mereka sebelum (pre-wedding) atau setelah acara berlangsung. Menyewa fotografer khusus untuk meliput pernikahan pun belum menjadi kebiasaan umum. Baru sekitar tahun 1860-an, tren ini mulai berubah.
Semakin banyak pasangan yang ingin menyimpan kenangan dari momen paling penting dalam hidup mereka, sehingga jasa fotografer pernikahan profesional mulai diminati. Namun, pekerjaan itu cukup berat karena peralatan fotografi pada awalnya sangat berat dan terdiri dari banyak bagian. Itulah sebabnya foto-foto pernikahan pada masa itu sebagian besar diambil di studio.
Oleh karena itu, foto-foto pernikahan di awal kemunculannya memiliki gaya yang sangat khas, pakaian formal, tatapan ke arah lensa, pose kaku. Pada masa itu, fotografi pernikahan memiliki peran sosial. Hal ini lebih berkaitan dengan membuktikan status sosial pasangan atau keluarga yang berpose dibanding menyampaikan emosi atau menggambarkan momen tertentu.