Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popbela lainnya di IDN App
Flawless latte makeup for @manodelia ✨Makeup @loritayoung_mua Hair by herselfPhoto @andreaschau .jpg
Instagram.com/manodelia

Intinya sih...

  • Manohara menolak label "mantan istri Pangeran Kelantan" yang dianggap menyesatkan

  • Luka masa lalu yang menyesakkan, mengungkap pengalaman penuh paksaan dan kekerasan

  • Minta media lebih bertanggung jawab dalam penggunaan bahasa dan konteks

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Nama Manohara Odelia Pinot kembali menjadi perbincangan publik. Namun kali ini, bukan karena kisah masa lalunya, melainkan karena sikap tegas yang ia sampaikan secara terbuka. Lewat sebuah surat terbuka yang diunggah di Instagram, Manohara meminta media Indonesia dan berbagai platform digital untuk tidak lagi menyebut dirinya sebagai “mantan istri Pangeran Kelantan”.

Melalui unggahan tersebut, Manohara menegaskan keberatannya atas label yang selama ini melekat padanya dan meminta media lebih bertanggung jawab dalam penggunaan bahasa serta konteks. Lantas, seperti apa kisah sebenarnya yang ingin ia luruskan? Simak selengkapnya berikut ini.

1. Menolak label yang dianggap menyesatkan

Dalam unggahannya pada Selasa (6-1-2026), Manohara Odelia Pinot mengaku keberatan dengan penyebutan mantan istri setiap dalam pemberitaannya. "Selama bertahun-tahun, saya sering disebut dalam artikel dan judul berita sebagai 'mantan istri [nama]'. Melalui tulisan ini, saya ingin dengan hormat meluruskan bahwa sebutan tersebut tidak benar dan menyesatkan," tulisnya.

Mantan model keturunan Bugis-Jawa itu mengungkapkan apa yang terjadi pada dirinya di usia remaja bukanlah hubungan romantis, bukan hubungan atas dasar persetujuan, dan bukan pernikahan yang sah. Ia menyebut, dirinya tidak pernah menginginkan, menyetujui, atau menjalani hubungan tersebut secara sukarela.

Manohara juga mengungkap bahwa saat itu ia masih di bawah umur dan berada dalam situasi penuh paksaan, tanpa kebebasan dan tanpa kemampuan untuk memberikan persetujuan. Karena itu, menurutnya, istilah “mantan istri” sangat bermasalah karena menyiratkan hubungan dewasa, sukarela, dan legal, sesuatu yang sama sekali tidak ia alami.

“Saat itu, saya masih di bawah umur dan berada dalam situasi penuh paksaan serta tanpa kebebasan. Artinya, saya tidak memiliki pilihan yang sesungguhnya dan tidak mampu memberikan persetujuan," lanjutnya.

2. Luka masa lalu yang menyesakkan

Instagram.com/manodelia

Kisah Manohara dengan Pangeran Kelantan, Tengku Muhammad Fakhry Petra, di masa lalu memang kerap disebut sebagai salah satu bab paling kelam dalam hidupnya. Ia berulang kali mengungkap bahwa pengalaman tersebut meninggalkan luka mendalam, baik secara fisik maupun psikologis. Situasi yang ia alami disebut jauh dari gambaran hubungan yang setara, apalagi pernikahan yang dilandasi cinta dan persetujuan.

Lewat surat terbukanya, Manohara menyoroti bagaimana narasi yang keliru dapat membingkai ulang situasi paksaan sebagai hubungan yang sah, sesuatu yang menurutnya sangat tidak adil bagi penyintas.

“Penggunaan istilah ‘mantan istri’ menyiratkan adanya hubungan pernikahan yang sah, sukarela, dan dilakukan oleh orang dewasa. Anggapan tersebut tidak benar. Istilah itu justru membingkai situasi penuh paksaan seolah-olah merupakan hubungan yang sah, dan mengaburkan kenyataan yang sebenarnya terjadi," tutur perempuan kelahiran 28 Februari 1992 itu.

3. Kekerasan tidak bisa disebut sebagai hubungan

Instagram.com/manodelia

Di unggahan lain, Manohara juga berbicara lebih gamblang soal pelecehan yang dialaminya. Ia mengingatkan publik bahwa kekerasan seksual tidak seharusnya dibingkai sebagai sebuah hubungan. Menurutnya, menyebut korban sebagai “mantan pasangan” atau “mantan istri” justru menggeser fokus dari kekerasan yang terjadi.

Manohara menyebut bahwa saat itu ia berusia 15 tahun, sementara laki-laki yang terlibat berusia 30-an. Tidak ada kencan, tidak ada hubungan, dan tidak ada persetujuan. Ia menegaskan, yang terjadi adalah paksaan. Ia menilai cara media membingkai kasus seperti ini bisa berdampak besar, bukan hanya bagi dirinya, tetapi juga bagi anak-anak dan perempuan lain yang membaca dan menyaksikannya.

"Ketika kekerasan terus-menerus digambarkan sebagai sebuah hubungan, masyarakat diajarkan untuk melihat paksaan sebagai persetujuan, dan anak-anak sebagai pihak yang ikut terlibat, bukan sebagai korban. Pola pikir seperti ini menimbulkan dampak nyata, bukan hanya untukku, tetapi juga bagi anak perempuan lain yang melihat bagaimana situasi seperti ini dibicarakan," tegas Manohara.

4. Minta media lebih bertanggung jawab

Instagram.com/manodelia

Lewat pernyataan tersebut, Manohara secara tegas meminta media, editor, penulis, serta platform digital untuk menghentikan penggunaan label yang ia anggap keliru dan tidak etis.

Baginya, permintaan ini bukan soal membuka kembali luka lama, melainkan tentang akurasi, etika, serta tanggung jawab dalam penggunaan bahasa. Ia menegaskan bahwa para penyintas berhak atas cerita yang disampaikan secara jujur dan bermartabat.

"Permintaan ini bukan untuk mengungkit masa lalu, melainkan demi keakuratan, etika, serta penggunaan bahasa dan konteks yang bertanggung jawab. Bahasa yang digunakan dengan hati-hati itu penting. Kata-kata memiliki dampak. Para penyintas berhak agar kisah mereka disampaikan dengan jujur dan bermartabat," tutup Manohara.

5. Hubungan Manohara dan ibunya yang kini retak

Instagram.com/manodelia

Selain menyoroti narasi kelam di masa lalunya, Manohara Odelia Pinot juga sempat buka suara soal hubungannya dengan sang ibu, Daisy Fajarina. Lewat media sosial, Manohara mengungkap bahwa dirinya telah memutus komunikasi dengan ibunya, bukan karena kehilangan kontak, melainkan keputusan sadar yang diambil demi dirinya sendiri.

“Saya tidak kehilangan kontak, saya yang memutus kontak. Memutuskan kontak tidak datang dari satu kesadaran tiba-tiba. Itu terjadi secara bertahap selama bertahun-tahun,” tulis Manohara, menanggapi pertanyaan netizen yang menyoroti hubungan mereka yang kini tampak renggang.

Lebih lanjut, Manohara menyebut bahwa kedekatan yang selama ini terlihat di hadapan publik hanyalah citra yang dibangun. Ia mengaku mengalami tekanan psikologis dan emosional, bahkan kekerasan, sejak remaja. Ia menegaskan bahwa keputusannya diambil demi menjaga kesehatan mental dan keluar dari hubungan yang menyakitkan.

"Mempertahankan wujud kedekatan sangat penting baginya, dan itu adalah sesuatu yang kami diharapkan lakukan untuk membuatnya terlihat baik. Citra itu berfungsi sebagai bentuk kontrol," ungkap Manohara.

Itulah kabar mengenai Manohara Odelia Pinot yang tegaskan tak mau lagi disebut "mantan istri Pangeran Kelantan".

FAQ Seputar Keluarga Manohara Odelia Pinot

Siapa Manohara Odelia?

Manohara Odelia Pinot adalah model dan aktris Indonesia yang lahir pada 28 Februari 1992 di Jakarta. Manohara kini aktif sebagai aktivis perlindungan satwa liar.

Manohara keturunan apa?

Manohara Odelia Pinot memiliki darah campuran Amerika Serikat (dari ayah), Perancis (dari ayah tiri), dan keturunan bangsawan Bugis (dari ibu

Siapa nama ibu Manohara?

Nama ibu Manohara adalah Daisy Fajarina. Baru-baru ini, Manohara mengaku memutus kontak dengan ibunya karena trauma, kekerasan, dan kontrol psikologis sejak remaja.

Editorial Team