Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popbela lainnya di IDN App
Fakta Menarik dari Film ‘Suka Duka Tawa' dari Para Pemerannya
Popbela.com/NatashaCecil

Intinya sih...

  • Film Suka Duka Tawa merupakan tragic comedy yang menertawakan luka dan menerima proses, mengangkat tema stand-up comedy dan sketsa komedi TV.

  • Hubungan ayah-anak perempuan menjadi fokus emosional dalam film ini, mengajarkan pentingnya waktu dengan orang tercinta.

  • Komunikasi menjadi kunci penyelesaian masalah keluarga, sementara perubahan suasana hati terlihat dari pakaian yang dikenakan tokoh Ibu Cantik.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Film Suka Duka Tawa menjadi salah satu film pembuka di awal tahun 2026 ini. Bergenre drama komedi, filmnya merupakan debut penyutradaraan dari Aco Tenriyagelli. Dengan premis menertawakan luka dan menerima proses, ada banyak pesan dalam filmnya yang mungkin related dengan banyak orang. 

Rachel Amanda, Marissa Anita, dan Teuku Rifnu Wikana menjadi sebuah keluarga dengan banyak konflik di dalamnya yang diawali hingga diakhiri dengan komedi. Dalam bincang-bincang bersama Popbela, ketiganya mengungkap fakta-fakta menarik dari film Suka Duka Tawa mulai dari kisah Tawa, Ibu Cantik, dan Bapak Keset, kehidupan komedi, hingga pesan yang mereka petik.

1. Bicara tentang tragic comedy

Popbela.com/NatashaCecil

Suka Duka Tawa merupakan film dengan setting cerita dunia komedi, termasuk stand-up. Di dunia tersebut sendiri, banyak komika yang menyampaikan cerita pahitnya menjadi bercandaan yang ditertawakan atau tragic comedy. Nah, inilah yang dilakukan Tawa (Rachel Amanda) dengan kehidupannya. Meski punya bakat melawak dari sang bapak, ia justru ditinggalkan oleh ayahnya itu selama 20 tahun. Dibanding menangisi lukanya, Tawa justru lebih memilih untuk membuatnya menjadi sebuah jokes yang ternyata related dengan banyak orang. 

“Menarik sih, karena ini kan yang menulis naskahnya itu kan Aco Tenri dan Indri gitu. Sebenernya kan secara setting cerita nih menyinggung juga tentang dunia stand-up. Sebenarnya, mungkin kalau teman-teman juga pernah nonton stand-up atau mungkin pernah nonton podcast tentang para stand-up komika gitu, mereka juga menyampaikan cerita terpahitnya jadi jokes. 

Dan itu yang menurutku jadi menarik dan tragic comedy gitu. Karena pada dasarnya kita juga ngomongin itu, gimana kebanyakan dari kita, termasuk anak-anak stand-up yang justru itu jadi salah satu cara buat mereka untuk berdamai dengan hidupnya, dengan membawa itu ke atas panggung, dan agar ditertawakan bersama orang-orang lain,” kata Rachel Amanda.

Bagi Amanda, cerita ini semakin menarik karena menceritakan kehidupan seorang komika perempuan yang mungkin tak terlalu banyak dibanding dengan komika laki-laki. Dalam pembuatan materi stand-up pun, Amanda turut dibantu oleh Aci Resti sebagai comedy consultant-nya.

Tapi, nggak hanya stand-up, film ini juga menyinggung tentang sketsa komedi TV yang mungkin lebih familier di kalangan orang yang lebih tua. Dua medium komedi ini sama-sama dirayakan yang diwakili oleh Tawa dan bapaknya. 

2. Waktu yang berharga dengan orang tercinta

Popbela.com/NatashaCecil

Diakui pemerannya lebih cenderung kepada drama dibanding komedi, film Suka Duka Tawa mampu membuat penonton merasa emosional hanya dari trailer-nya. Salah satunya tentang hubungan ayah dengan anak perempuan. Mungkin banyak anak perempuan yang merasa mirip dengan Tawa yang tak dekat dengan ayahnya. 

Meski berbeda dengan karakter yang ia mainkan, Rachel Amanda sendiri mengaku ia jadi banyak belajar setelah bermain dalam filmnya. Setelah syuting ia menyadari kira-kira kapan terakhir kali ia ngobrol bareng dengan sang ayah. Dari sana ia pun mendapatkan bahwa waktu dengan orang tercinta itu sangat berharga dan pergunakan waktu tersebut dengan semaksimal mungkin.

“Kebetulan aku pribadi tuh aslinya lumayan deket sama bapakku dan justru malah setelah proses syuting film, aku jadi menyadari ‘kapan ya terakhir aku nongkrong dan ngobrol sama bapak aku’ karena kebetulan aku sudah nikah juga dan nggak tinggal bareng. Mungkin sebagai perempuan dulu paling berasa dekat sama bapak tuh memang pas masih kecil ya. 

Karena makin besar kita makin lebih relate obrolannya tuh sama ibu, karena menjadi perempuan dewasa dengan segala dinamika dan permasalahannya kayaknya ngobrol sama bapak jadi jarang. Jadi, habis syuting atau kadang-kadang di tengah-tengah syuting, aku chat bapakku yang biasanya aku tuh nggak nge-chat dia duluan, ‘pak lagi apa?’ Terus dia ngejawabnya gini ‘lagi nungguin chat dari kakak’, langsung mewek aku. Terus aku bilang ‘maaf ya aku jarang nge-chat duluan’ dan langsung kayak ‘ya udah ayo kita makan yuk, ke mana yuk kita pergi’. 

Walaupun mungkin ceritaku beda sama Tawa, tapi malah justru menambah kesadaranku bahwa kayak ‘eh iya sih mumpung punya waktunya dan mumpung punya relasinya kayak ngobrol deh mungkin, bisa apalagi sudah sama-sama besar bisa ngobrol hal-hal yang selama ini jarang diobrolin juga’,” cerita Amanda.

3. Komunikasi adalah kunci

Popbela.com/NatashaCecil

Teuku Rifnu Wikana juga berbagi tentang karakternya, Bapak Keset, yang punya perasaan tersembunyi untuk anak dan istrinya. Ia memang salah meninggalkan dua orang tercintanya itu sendirian, namun ia juga berpikir bahwa itulah yang terbaik untuk mereka padahal tidak. 

“Ya sebenernya kalau dasarnya kan dengan anak istrinya kan tetap cinta ya, tapi cara pembuktian seorang ayah itu beda-beda. Dan seorang laki-laki, ayah, dia nggak akan pernah bisa menceritakan sepenuhnya lukanya dia. Dia akan bawa itu dengan berbarengan dengan cita-citanya gitu dan dia tunjukkan segala bentuk cinta, segala amarah yang ada di rumah dengan cara meninggalkan. Itu salah, tapi bukan berarti sepenuhnya salah karena memang ayah yang pengen membuktikan sesuatu, dia pasti punya kebenaran,” jelas Rifnu. 

Komunikasi menjadi kunci dari semua masalah yang dihadapi keluarga Tawa. Saat komunikasi mulai terjalin, maka hubungan Tawa dan Bapak Keset, maupun dengan ibunya perlahan mulai terurai dan menjadi baik lagi. Ini juga menjadi pesan penting bagi para keluarga dan pasangan di luar sana, bahwa komunikasi menyelesaikan banyak hal. 

“Nah persoalannya di sini itu yang menariknya dari si Keset dan Tawa, pada akhirnya yang menyelesaikan persoalannya itu ya komunikasi. Itu yang paling penting. Itu pesan dari film ini sebenarnya antara relasi aku dengan Ibu Cantik, relasi aku dengan Tawa, kalau misalnya nggak ada terjadi dialog mungkin bakal yang ada perang terus. Tapi, justru ternyata memang komunikasi penting, walaupun luka tapi memang harus bicara gitu,” kata aktor berusia 45 tahun tersebut.

4. Perubahaan suasana hati yang dilihat dari pakaian

Popbela.com/NatashaCecil

Di sisi lain, tokoh Ibu Cantik juga punya masalahnya sendiri dengan sang suami dan anaknya. Rumah tangganya yang awalnya sangat bahagia, kemudian hancur. Perubahan hatinya itu terlihat dari pakaian yang ia kenakan, seperti yang diungkap langsung oleh Marissa Anita. 

“Perjalanan Ibu Cantik itu kan dia adalah seorang istri dan ibu. Istri yang memang ingin jadi istri yang baik, jadi nanti mungkin teman-teman akan lihat ketika Ibu Cantik muda itu dia banyak sekali memakai warna-warna terang, pakai simbol-simbol bunga matahari. Karena memang dia waktu pertama kali menikah dengan Pak Keset, dia sangat bahagia. Kita memang punya mimpi untuk membangun keluarga yang bahagia. Nah, ketika ditinggalkan sama Pak Keset, dia menjadi murung, ya namanya juga ditinggalkan orang yang dia cintai. 

Meskipun dia suka sebel dan kesel memang Pak Keset, cuma kan intinya dia memang cinta. Nah, bagaimana perasaan orang yang ditinggalkan pasti hatinya sedikit mengeras. Warna-warna yang dipakai juga Ibu Cantik tidak terang lagi, tidak menggunakan baju-baju warna terang yang biasa saja gitu karena mimpinya sudah hilang dibawa pergi juga oleh Pak Keset. 

Emosi-emosi itu adalah emosi-emosi yang semua manusia merasakan. Kita semua pernah merasakan jatuh cinta Kita pernah merasakan punya mimpi dan ingin meraih mimpi itu. Kita juga pernah merasakan kegagalan dimana mimpi itu tidak terjadi atau bahkan diambil dari kita. Jadi, ya saya hanya membayangkan saja bagaimana sih jadi orang yang pernah bahagia di atas angin dan pernah jatuh, kita semua kan pernah mengalami itu,” terang Marissa tentang karakternya.

5. Film yang mewakilkan perasaan banyak orang

Popbela.com/NatashaCecil

Rachel Amanda, Marissa Anita, dan Teuku Rifnu Wikana mengaku bahwa film ini merupakan perwakilan dari perasaan banyak orang. Emosi seperti sedih ketika ditinggalkan, dikecewakan, perjuangan hidup, hubungan yang drama dengan orang tua, tergambarkan di sana. Ini juga menjadi sebuah karya yang membuka ruang diskusi hingga refleksi untuk para penontonnya. 

“Kayaknya aku tidak berani bilang bahwa film ini atau kita sebagai pemain mewakili perasaan semua teman-teman yang mungkin punya pengalaman hubungan tidak kurang baik dengan orang tua, dengan bapak atau dengan ibu, terutama dengan bapak ya kita ngomongin anak perempuan dengan bapak,” kata Rachel Amanda.

Bagi Amanda sendiri, film ini mengajak penonton bahwa terkadang seseorang bisa berdamai dengan sesuatu, termasuk luka lewat humor. 

“Tapi menurutku di film ini justru lebih nge-highlight tentang kadang-kadang salah satu cara kita berdamai dengan sesuatu tuh memang lewat humor. Dengan kecanggungan kita sama orang tua atau mungkin kadang-kadang tuh ada masalah yang kayaknya sudah berat banget sehingga kita nggak kuat Ngomongnya dengan emosional, ya siapa tahu humor, komedi itu jadi salah satu cara buat bukan cuma bapak sama anak mungkin ya siapapun lah yang punya relasi renggang untuk bisa terkoneksi kembali,” tambah Amanda.

“Kayak justru ketawa tuh kadang-kadang gerbang pertama untuk kita punya kesempatan ngobrolin masalahnya dengan lebih serius. Jadi, kalau mungkin selama ini kita bingung bagaimana caranya ngobrol sama orang ya kita bercanda-bercanda dulu deh baru kita masuk ke masalahnya. Siapa tahu kita jadi punya sudut pandang yang lebih ringan atau berbeda melihat masalah itu. Menurut aku sih gitu ya, mudah-mudahan filmnya bisa menjadi pembuka obrolan buat keluarga yang mungkin bingung mulainya dari mana,” harapnya.

Itulah beberapa fakta menarik tentang film Suka Duka Tawa yang diungkap langsung oleh para pemerannya.

FAQ seputar film Suka Duka Tawa

Kapan film Suka Duka Tawa tayang?

Film Suka Duka Tawa mulai tayang di bioskop Indonesia pada 8 Januari 2026 ini.

Sinopsis film Suka Duka Tawa

Film Suka Duka Tawa bercerita tentang Tawa (Rachel Amanda) yang ditinggal sang ayah selama 20 tahun sejak kecil. Awalnya kehidupan keluarganya penuh suka, namun ibu dan ayahnya mulai kerap bertengkar masalah ekonomi. Ayah Tawa pergi meninggalkannya karena menurutnya hal itu adalah yang terbaik. Sampai suatu kali Tawa mengubah cerita kelam hidupnya itu menjadi sebuah materi standp-up comedy yang ternyata menjadi viral. Ayahnya pun datang kembali setelah 20 tahun, membuat ia dilema untuk kembali dekat dengan ayahnya atau tetap bersama dengan ibunya.

Siapa pemeran film Suka Duka Tawa?

Film Suka Duka Tawa dibintangi oleh Rachel Amanda, Teuku Rifnu Wikana, Marissa Anita, Bintang Emon, Gilang Bhaskara, Arif Brata, Enzy Storia, Myesha Lin, Nazira C. Noer, Mang Saswi, dan Abdel Achrian.

Editorial Team