Seperti yang sudah dijelaskan di atas, bahwa Rasul mengharamkan nikah mut'ah. Tidak hanya merugikan pihak perempuan, kawin kontrak juga dinilai tidak mengandung unsur-unsur dan keutamaan menikah, seperti yang telah diatur dalam Pasal 2 ayat 1 UU Perkawinan:
- Tidak memenuhi tujuan untuk membentuk keluarga atau rumah tangga yang bahagia dan kekal, karena hanya bersifat singkat dan sementara.
- Tidak dilakukan menurut hukum masing-masing agama atau tidak sesuai dengan aturan Kompilasi Hukum Islam (KHI) sebagai aturan pernikahan agama Islam.
- Tidak melalui pencatatan berdasarkan peraturan perundang-undangan.
Selain itu, tujuan utama menikah adalah mencari rahmat dan rida Allah SWT sehingga bernilai ibadah. Sedangkan, kawin kontrak tidak bertujuan untuk melaksanakan ibadah, namun hanya sebagai cara menyalurkan nafsu seksual semata.
Nah, sudah tahu kan apa itu nikah mut'ah, beserta arti dan hukumnya? Jadi kesimpulannya, baik secara agama Islam maupun negara, keduanya sepakat mengharamkan adanya nikah mut'ah. Hal ini telah ditegaskan dalam fatwa MUI (Majelis Ulama Indonesia) yang dikeluarkan pada 25 Oktober 1977.