Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popbela lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Fenomena Dating Fatigue dan Upaya Coffee Meets Bagel Ubah Cara Berkencan
psychologytoday.com via iStock; FilippoBacci
  • Coffee Meets Bagel menyoroti dating fatigue, yakni kelelahan pengguna akibat profil seperti lamaran kerja, swipe tanpa henti, percakapan mandek, dan minimnya pertemuan nyata.
  • Riset CMB terhadap ribuan pengguna menemukan aplikasi kencan mendorong penilaian terlalu cepat; perusahaan ingin mengarahkan pengguna pada koneksi bermakna dan kencan langsung.
  • CMB Worldwide 2.0 menghadirkan Topic Suggestions, Headlines, Real Dates, serta rekomendasi machine learning berbasis kecocokan dua arah; sejak Juni 2026, pesan dengan likes naik 30% dan waktu melihat profil naik 21%.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Capek mengulang perkenalan dari nol, bingung harus membuka percakapan dengan apa, atau hubungan yang berhenti di chat tanpa pernah benar-benar bertemu. Kalau kamu pernah mengalaminya, kamu nggak sendirian. Belakangan, semakin banyak orang mengaku merasa lelah menjalani proses mencari pasangan lewat dating app. Fenomena ini bahkan memiliki istilah sendiri, yaitu dating fatigue.

Fenomena tersebut menjadi topik utama dalam peluncuran Coffee Meets Bagel (CMB) Worldwide 2.0 yang berlangsung di kantor CMB di Singapura pada 21 Juli 2026 dan dihadiri langsung oleh Popbela. Alih-alih hanya memperkenalkan tampilan baru aplikasi, CMB justru mengajak media melihat persoalan yang lebih besar: apakah selama ini industri dating apps justru mengajarkan kita cara berkencan yang keliru?

Bukan orangnya yang salah, tapi pengalaman berkencannya

therakyatpost.com

Dalam sesi eksklusif bersama media, Jason Teo selaku Head of Product Coffee Meets Bagel mengatakan bahwa selama lebih dari dua tahun terakhir, timnya melakukan riset dengan mewawancarai ribuan pengguna dari berbagai negara. Tujuannya sederhana, yaitu memahami mengapa semakin banyak orang merasa lelah menggunakan dating app.

Yang mereka temukan ternyata bukan sekadar soal ghosting atau sulit menemukan pasangan. Masalahnya justru terjadi hampir di setiap tahapan proses berkencan secara online.

Mulai dari membuat profil yang terasa seperti sedang melamar pekerjaan, kebiasaan swipe tanpa henti, hingga percakapan yang sering kali berakhir tanpa pernah berkembang menjadi pertemuan di dunia nyata.

Dok. Coffee Meets Bagel

Jason bahkan membagikan satu cerita yang cukup membekas selama proses risetnya.

Saat mewawancarai seorang pengguna di Hong Kong, perempuan tersebut mengaku dirinya termasuk orang yang berpikiran terbuka. Namun, ketika diminta menunjukkan bagaimana ia menggunakan dating app, ia terus menggeser profil demi profil dalam hitungan detik. Salah satu alasannya menolak seseorang bahkan terdengar sangat sederhana: ia tidak menyukai warna langit yang muncul di latar belakang foto profil orang tersebut.

"Bila bertemu di dunia nyata, kita tidak mungkin langsung menilai seseorang hanya karena warna langit di belakangnya," kurang lebih begitu filosofi yang ingin disampaikan Jason.

Menurutnya, pengalaman menggunakan dating app selama bertahun-tahun secara tidak sadar membentuk kebiasaan baru: membuat orang semakin cepat menilai dan semakin sulit memberi kesempatan kepada orang lain.

Dating apps seharusnya membantu orang bertemu, bukan membuat mereka terus swipe

Pexels.com/Cottonbro

Menariknya, Jason bukan sekadar membangun aplikasi kencan. Lima belas tahun lalu, ia sendiri bertemu sang istri melalui sebuah platform kencan online.

Pengalaman itulah yang membuatnya percaya bahwa dating app seharusnya menjadi jembatan untuk mempertemukan dua orang di dunia nyata, bukan membuat mereka menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk terus melakukan swipe.

"Kami benar-benar percaya bahwa pada akhirnya orang perlu bertemu langsung dan menjalani kencan yang nyata. Itulah tujuan utama aplikasi ini," jelas Jason.

Dok. Coffee Meets Bagel

Pandangan tersebut juga diamini oleh CEO Coffee Meets Bagel Worldwide, Shn Juay.

Menurutnya, masa depan aplikasi kencan bukan lagi soal menawarkan pilihan tanpa batas, melainkan membantu pengguna membangun koneksi yang lebih bermakna.

"Tujuan kami sederhana, yaitu membantu para lajang menjadi pribadi yang lebih baik dalam berkencan dan akhirnya menemukan hubungan yang benar-benar nyata," ujar Shn.

Coffee Meets Bagel 2.0 hadir sebagai respons terhadap dating fatigue

Dok. Coffee Meets Bagel

Berangkat dari berbagai temuan tersebut, Coffee Meets Bagel memperkenalkan CMB Worldwide 2.0.

Alih-alih sekadar mengubah tampilan aplikasi, pembaruan ini dirancang untuk membantu pengguna melewati beberapa tantangan terbesar dalam online dating.

Salah satu fitur barunya adalah Topic Suggestions, yaitu rekomendasi pembuka percakapan yang dipersonalisasi berdasarkan profil dan konteks obrolan. Menurut Jason, fitur ini lahir karena banyak pengguna sebenarnya sudah membaca profil lawan bicaranya dengan saksama, tetapi tetap kebingungan harus memulai percakapan dari mana.

Selain itu, ada fitur Headlines yang memungkinkan pengguna menampilkan bio singkat agar profil terasa lebih autentik, serta Real Dates yang membantu pasangan menentukan ide kencan sekaligus mendorong mereka segera bertemu secara langsung.

Di balik semua fitur tersebut, CMB juga memperbarui sistem rekomendasinya menggunakan machine learning yang kini lebih memprioritaskan kecocokan dua arah, bukan sekadar menampilkan sebanyak mungkin profil untuk di-swipe.

Ketika kualitas lebih penting daripada kuantitas

Unsplash.com/Priscilla du Preez

Di tengah budaya swipe yang serba cepat, pendekatan Coffee Meets Bagel terasa seperti mengajak penggunanya berhenti sejenak.

Alih-alih berlomba mendapatkan ratusan match, aplikasi ini ingin membantu orang membangun hubungan yang benar-benar berkembang menjadi pertemuan nyata.

Menariknya, sejak tampilan baru aplikasi mulai diluncurkan secara bertahap pada Juni 2026, Coffee Meets Bagel mencatat peningkatan sekitar 30 persen jumlah pesan yang dikirim bersamaan dengan likes, serta kenaikan 21 persen waktu pengguna melihat profil orang lain. Angka tersebut menunjukkan bahwa pengguna mulai meluangkan waktu lebih banyak untuk mengenal seseorang sebelum mengambil keputusan.

Unsplash.com/Hanna Morris

Mungkin pada akhirnya, yang membuat banyak orang lelah bukanlah mencari cinta.

Melainkan cara kita berkencan yang perlahan berubah menjadi terlalu cepat, terlalu instan, dan terlalu mudah menghakimi.

Dan barangkali, seperti yang ingin ditawarkan Coffee Meets Bagel melalui pembaruan terbarunya, menemukan hubungan yang bermakna memang bukan soal bertemu lebih banyak orang, tetapi belajar memberi kesempatan lebih besar kepada orang yang tepat.

FAQ seputar dating fatigue dan CMB 2.0

Apa itu dating fatigue?

Dating fatigue adalah kondisi ketika seseorang merasa lelah secara emosional akibat proses mencari pasangan yang terasa berulang, seperti endless swiping, ghosting, hingga percakapan yang tidak pernah berlanjut menjadi pertemuan nyata.

Apa saja fitur baru di Coffee Meets Bagel 2.0?

CMB Worldwide 2.0 menghadirkan fitur Topic Suggestions, Headlines, Real Dates, serta sistem matchmaking baru berbasis machine learning yang lebih mengutamakan kecocokan dua arah.

Mengapa Coffee Meets Bagel meluncurkan 2.0?

Pembaruan ini dibuat sebagai respons terhadap fenomena dating fatigue, dengan tujuan membantu pengguna membangun percakapan yang lebih bermakna, lebih mudah bertemu di dunia nyata, dan menciptakan pengalaman berkencan yang lebih intentional.

Curated For You

Editorial Team

Related Article