Mengutip dari Vogue, film ini berani mempertanyakan seberapa jauh kita benar-benar ingin mengetahui tentang orang-orang terdekat kita. Sang sutradara, Kristoffer Borgli, membawa genre film pernikahan ke ranah baru yang segar, dengan pandangan yang berani, gelap, dan penuh perasaan tentang cinta.
Bagi Zendaya sendiri, film ini berbicara tentang seberapa jauh kita mau berkompromi, mengalah, atau bahkan “menerima” sesuatu demi mempertahankan hubungan. Di saat yang sama, film ini juga mempertanyakan apakah cinta benar-benar tanpa syarat, atau sebenarnya selalu ada batasnya?
“Bagiku, film ini sebenarnya tentang apa yang bersedia kamu terima demi cinta dan muncul pertanyaan, ‘Apakah cinta itu tanpa syarat?’” kata Zendaya sambil merenung.
Zendaya juga mengatakan kalau film The Drama mengingatkannya tentang cara memandang cinta dari sisi yang lebih hangat dan personal. Menurutnya, cinta yang sehat adalah ketika kamu merasa aman. Kamu merasa dipahami, dilihat, dan diterima sepenuhnya oleh seseorang. Bukan cuma versi terbaikmu, tapi juga bagian-bagian yang mungkin tidak sempurna.
“Dalam kehidupan nyataku, hal yang diingatkan film ini tentang cinta adalah: jika kamu merasa aman bersama seseorang, jika kamu merasa dipahami oleh seseorang, dan kamu merasa dilihat oleh seseorang; maka kamu merasa bisa menceritakan segalanya kepada mereka,” katanya.
“Dan karena itu, kamu merasa seolah-olah mengenal mereka di setiap aspek. Dan itulah harapannya, kan? Yaitu merasa bahwa kamu bersama seseorang di mana kamu bisa menjadi diri kamu yang utuh dan sejati, dan mereka akan mencintai setiap bagian dari itu,” lanjut sang aktris.