Serial ini juga memperlihatkan relasi antara Dennis dan Luka yang kompleks, termasuk kebutuhan diakui. Bagaimana seseorang harus berhadapan dengan baik itu rekan kerja, pasangan, atau teman yang haus akan validasi. Posisi Dennis cukup tricky di mana ia harus memimpin karena dipercayakan sebagai head chef, tapi juga berhadapan dengan Luka, sosok pewaris restoran yang merasa lebih layak. Di sini, Dennis justru memilih untuk memahami sosok Luka yang haus validasi.
“Jadi, sebenarnya Dennis tuh lebih banyak permakluman sih melihat sesuatu dari Luka, karena dia merasa bahwa Luka ini belum cukup keliling. Satu-satunya restoran yang dia pernah kerja adalah restoran ibunya, sementara Dennis sudah keliling dunia dan sudah melihat berbagai macam cara pewaris bekerja dan berusaha,” ujar Deva.
Dari situ, hubungan mereka terlihat seperti kompetisi, padahal sebenarnya keduanya saling mendorong untuk berkembang. Dennis yang merasa lebih berpengalaman justru belajar untuk lebih rendah hati, sementara Luka mulai menyadari bahwa dunia di luar sana jauh lebih luas dari yang ia kira.
“Jadi, justru makanya kenapa hubungan antara Dennis dan Luka ini menarik. Terlihat seperti kompetisi, tapi sebenarnya mereka tuh coba untuk mendorong satu sama lain menjadi versi terbaiknya.
Dennis yang merasa sudah keliling dunia dan secara pengalaman jauh lebih baik dan merasa lebih hebat akhirnya di-humble lagi oleh chef muda Luka yang ternyata pengalamannya cuma di restoran ibunya. Nah, Luka yang tadinya jago kandang, jadi belajar lagi ternyata ada chef lain di luar sana yang memang harus diakui lebih baik dari dia, makanya kenapa dia belum dipercaya,” jelasnya lagi.
Menariknya, saat ditanya bagaimana menghadapi Deva pribadi menghadapi orang dengan karakter seperti Luka di kehidupan nyata, Deva memberikan jawaban yang cukup jujur, yakni dengan tidak menghadapinya.
“Kalau gue pribadi… mending nggak usah dihadapi,” akunya.
Menurutnya, kebutuhan akan validasi adalah sesuatu yang nggak ada habisnya. Jadi, mencoba memuaskan orang dengan karakter seperti itu justru bisa jadi melelahkan. Hanya ada 2 cara saat berhadapan dengan orang dengan karakter seperti itu, yakni dengan dihindari atau dimaklumi.
“Karena mencari validasi itu kayaknya nggak akan pernah cukup ya. Mungkin ada yang bilang ‘saya cuma butuh validasi dari si A’, ketika dia dapat apakah cukup? Nggak sih belum tentu. Ketika sudah bersinggungan dengan karakter semacam itu, caranya cuman dua kalau nggak bisa dihindari ya dimaklumi,” terangnya.
Di akhir, aktor La Tahzan ini juga menekankan bahwa kita nggak punya kewajiban untuk selalu menjadi sumber validasi bagi orang lain.
“Tapi, kamu tidak perlu jadi orang yang kasih validasi. Nggak ada keharusan,” tegasnya.
Dari sudut pandang ini, serial Luka, Makan, Cinta nggak cuma menyajikan drama hubungan, tapi juga jadi refleksi kecil tentang batasan dalam relasi, bahwa memahami orang lain itu penting, tapi menjaga diri sendiri juga nggak kalah penting.