Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popbela lainnya di IDN App
Deva Mahendra Ungkap 8 Fakta Menarik dari Series Luka Makan Cinta
Popbela.com/NatashaCecil
  • Deva Mahenra membagikan pengalaman mendalami peran sebagai chef Dennis di series Netflix ‘Luka, Makan, Cinta’, termasuk mengikuti workshop memasak dan memahami filosofi menghargai bahan makanan.
  • Melalui karakter Dennis, Deva belajar tentang kepemimpinan, pentingnya kerja tim di dapur profesional, serta bagaimana konflik bisa menjadi ruang untuk tumbuh dan saling memahami antar karakter.
  • Serial ini juga menyoroti dinamika hubungan yang realistis; bahwa pasangan seharusnya menjadi support system, bukan rival, dengan komunikasi dan inspirasi sebagai kunci kebahagiaan bersama.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Netflix Indonesia kembali menghadirkan series terbarunya berjudul Luka, Makan, Cinta. Disutradarai oleh Teddy Soeria Atmadja, Luka, Makan, Cinta memadukan makanan dan romansa dalam kisah tentang seorang koki ambisius, Luka, diperankan Mawar Eva de Jongh, yang bekerja di restoran keluarganya. 

Saat sang ibu mempekerjakan kepala koki baru, Dennis (Deva Mahenra), yang membuat ketegangan di dapur maupun hubungan antara Luka dan ibunya semakin meningkat. Di samping konflik kekuasaan, menghadapi juga harus tekanan untuk menyelamatkan restoran tersebut. Deva Mahenra datang langsung ke kantor POPBELA di IDN HQ, Jakarta Selatan, untuk berbagi tentang fakta menarik seputar series-nya. Penasaran? Simak penjelasannya berikut ini!

1. Deva ungkap hal related dengan Dennis

Popbela.com/NatashaCecil

Di series Luka, Makan, Cinta, Deva Mahenra berperan sebagai chef Dennis yang sudah senior dalam bidang kuliner dan memiliki pengalaman di berbagai restoran di beberapa negara. Ia merasa sangat jauh di atas chef lainnya, terutama saat datang ke sebuah restoran milik ibu dari Luka (Mawar Eva de Jongh) yang terdiri dari koki-koki muda. Dennis juga punya konflik dengan Kehidupan pribadinya dan masa lalunya yang membuat cerita semakin menarik.

Berbicara tentang karakternya di series dan dirinya sendiri, Deva mengaku kalau karakternya itu tampaknya punya zodiak yang sama dengannya, Aries. Mereka sama-sama berambisi, konsisten dan disiplin. Bedanya, karakter Dennis lebih memperhitungkan segala sesuatu, sementara dirinya cenderung berani dalam mengambil risiko.  

2. Lebih dekat dengan dunia kuliner

instagram.com/teddysoe

Dalam mendalami peran sebagai seorang koki profesional, Deva Mahenra mengikuti workshop memasak. Proyeknya kali ini membuatnya menjadi lebih dekat dengan dunia kuliner. Ia juga mengaku jadi belajar banyak hal dari nol, mulai dari teknik dasar memasak sampai cara memperlakukan bahan makanan dengan lebih “respect”. Menariknya, kebiasaan itu ternyata ikut terbawa ke kehidupan sehari-harinya. Deva bahkan jadi jauh lebih detail dan sedikit perfeksionis di dapur.

“Jadi, habis workshop itu kita benar-benar belajar dari nol. Mulai dari prepping sampai teknik. Nah, yang kebawa ke real life saya adalah… saya jadi ‘pelit’,” ujarnya sambil tertawa.

“Kalau di rumah ada yang lagi masak, saya pantengin. Kalau motong daging, saya kasih tahu, ‘itu masih bisa dipakai, jangan dibuang.’ Jadi lebih cermat sama bahan baku,” tambahnya lagi.

Pengalaman tersebut juga mengubah cara Deva menikmati makanan. Kalau dulu sekadar menilai ini enak atau nggak, sekarang ia jadi lebih mindful dan penasaran dengan proses di balik setiap hidangan, bahan dan bumbu apa yang ada di dalamnya.

“Sekarang kalau makan tuh jadi mikir, ini enaknya kenapa ya? Ini pakai teknik apa ya? Atau kalau kurang cocok, mungkin karena proses masaknya. Jadi lebih aware aja,” jelasnya.

Lewat workshop itu juga, Deva dikenalkan pada konsep memasak yang unik dan belajar bahwa setiap bahan makanan punya perlakuan yang berbeda, dan teknik yang digunakan nggak bisa disamaratakan.

“Daging sapi sama daging ayam itu cara masaknya beda. Ikan Lebih beda lagi. Kalau masak ikan itu karena ikan ketika kita goreng jadi rapuh banget, kita nggak bisa pakai alat untuk balik. Jadi, mau nggak mau harus pakai tangan dan itu kemarin aku lakuin pas syuting,” ceritanya.

Pengalaman-pengalaman seperti ini jadi insight baru yang membuka perspektif Deva tentang dunia kuliner. Memasak ternyata bukan sekadar aktivitas, tapi juga soal teknik, presisi, dan rasa menghargai setiap bahan yang digunakan.

“Aku juga akhirnya paham bahwa fillet ikan itu benar-benar harus sepresisi itu karena kalau nggak bakal banyak bahan yang terbuang. Makanya kenapa di dapur itu jadi jauh lebih aman ketika pisaunya tajam banget. 

Justru kalau pisaunya nggak tajam, jadi nggak aman, karena potongan yang dilakukan itu baiknya sekali ketimbang berulang kali. Di proses berulang kali ini ada keraguan, berusaha untuk memastikan. Nah, di proses memastikan ini kita banyak set up-set up tangan berubah-ubah, bisa keiris,” jelasnya. 

Masih dari pernyataan Deva, di series Luka, Makan, Cinta, setiap menu yang disajikan merupakan hidangan nusantara dengan pendekatan fine dining a la Barat. Salah satu hidangan favoritnya di serial itu adalah Udang Sambal Matah.

3. Belajar leadership dari karakter Dennis

Popbela.com/NatashaCecil

Lewat karakter Dennis, Deva Mahenra nggak cuma ditantang secara emosional, tapi juga belajar banyak hal terutama soal kepemimpinan. Dalam penuturannya, Deva menjelaskan kalau sosok Dennis justru memberinya perspektif baru tentang bagaimana menjadi seorang leader yang baik, terutama dalam situasi penuh tekanan seperti di dapur profesional.

“Jadi justru yang lebih banyak saya dapat dari Dennis adalah bagaimana dia sebagai seorang leader, sebagai kompas, sebagai timer di dalam dapur dan menentukan semua ritme dapur,” jelas Deva.

Ia kagum dengan sifat kepemimpinan yang Dennis tampilkan, di mana bukan hanya soal memberi instruksi, tapi juga soal membangun tim yang solid. Baginya, kesuksesan sebuah restoran bukan karena dirinya sendiri, tapi juga karena timnya.

“Yang saya dapat dari Dennis itu adalah tentang leadership dan bagaimana cara memperlakukan team dengan baik, membentuk team dengan baik. Dennis itu tipe yang dia sadar betul ketika dia menjalankan sebuah restoran, restorannya berhasil itu karena timnya dan krunya, bukan dia aja,” lanjutnya lagi.

Menariknya, cara pandang Dennis terhadap tim ini juga jadi salah satu sumber konflik dalam cerita. Perbedaan value antara Dennis dan karakter Luka membuat hubungan mereka sering berbenturan, meskipun di sisi lain, justru itulah yang membuat keduanya semakin dekat.

4. Jangan cepat puas diri

youtube.com/@Netflix Indonesia

Deva juga belajar banyak dari serial tersebut. Menurutnya, karakter seperti Dennis dan Luka membawa perspektif yang berbeda tentang perjuangan hidup, mulai dari kebingungan dalam karier, kebutuhan untuk membuktikan diri, sampai rasa cukup yang sering kali dipertanyakan. Aktor berusia 35 tahun ini juga menyoroti dinamika hubungan Dennis dan Luka tentang bagaimana seseorang yang terlihat sudah cukup ternyata masih merasa kurang, dan sebaliknya.

Dennis yang lebih senior dan punya banyak pengalaman di luar negeri, merasa puas diri dan mulai arogan. Namun, ia mulai menyadari bahwa ia belum ada apa-apanya setelah bertemu Luka, koki junior yang mungkin pengalamannya tak seluas dirinya. Kadang, bukan yang paling berpengalaman yang bisa untuk naik ke posisi tertentu, tapi tentang bagaimana orang itu mampu dan layak untuk berada di posisi itu.

“Dennis dengan pengalaman yang kayaknya sudah cukup, sudah kerja di perusahaan ini itu berapa tahun, ternyata belum cukup juga. Ini ada yang masih baru banget yang dia merasa dia belum cukup, ternyata cukup kok. Ternyata yang bikin lo belum naik ke posisi itu karena bukan karena kamu nggak cukup, tapi memang itu bukan buat kamu aja. Jadi, kamu mau tunggu berapa lama pun, kamu nggak akan ke situ. Kamu harus cari yang lain, bikin yang lain,” katanya.

5. Masak jadi me time

Popbela.com/NatashaCecil

Di balik cerita yang penuh dinamika di Luka, Makan, Cinta, Deva Mahenra juga menemukan sisi lain dari aktivitas memasak yang ternyata bisa jadi momen paling personal. Baginya, memasak di rumah justru jadi salah satu bentuk me time dengan menikmati keheningan. 

“Kalau aku masak itu karena banyak momen silent-nya, jadi bisa dipakai buat me time, kalau masak di rumah ya, karena hening,” ujar aktor kelahiran Makassar ini.

Di tengah kesibukan dan kebisingan sehari-hari, hal sesederhana suara pisau yang memotong bahan atau minyak yang mulai panas di atas wajan jadi terasa menenangkan. Masak jadi kegiatan santai sekaligus cara untuk reconnect dengan diri sendiri.

6. Memaklumi atau menghindari orang yang haus validasi

instagram.com/teddysoe

Serial ini juga memperlihatkan relasi antara Dennis dan Luka yang kompleks, termasuk kebutuhan diakui. Bagaimana seseorang harus berhadapan dengan baik itu rekan kerja, pasangan, atau teman yang haus akan validasi. Posisi Dennis cukup tricky di mana ia harus memimpin karena dipercayakan sebagai head chef, tapi juga berhadapan dengan Luka, sosok pewaris restoran yang merasa lebih layak. Di sini, Dennis justru memilih untuk memahami sosok Luka yang haus validasi.

“Jadi, sebenarnya Dennis tuh lebih banyak permakluman sih melihat sesuatu dari Luka, karena dia merasa bahwa Luka ini belum cukup keliling. Satu-satunya restoran yang dia pernah kerja adalah restoran ibunya, sementara Dennis sudah keliling dunia dan sudah melihat berbagai macam cara pewaris bekerja dan berusaha,” ujar Deva.

Dari situ, hubungan mereka terlihat seperti kompetisi, padahal sebenarnya keduanya saling mendorong untuk berkembang. Dennis yang merasa lebih berpengalaman justru belajar untuk lebih rendah hati, sementara Luka mulai menyadari bahwa dunia di luar sana jauh lebih luas dari yang ia kira.

“Jadi, justru makanya kenapa hubungan antara Dennis dan Luka ini menarik. Terlihat seperti kompetisi, tapi sebenarnya mereka tuh coba untuk mendorong satu sama lain menjadi versi terbaiknya. 

Dennis yang merasa sudah keliling dunia dan secara pengalaman jauh lebih baik dan merasa lebih hebat akhirnya di-humble lagi oleh chef muda Luka yang ternyata pengalamannya cuma di restoran ibunya. Nah, Luka yang tadinya jago kandang, jadi belajar lagi ternyata ada chef lain di luar sana yang memang harus diakui lebih baik dari dia, makanya kenapa dia belum dipercaya,” jelasnya lagi.

Menariknya, saat ditanya bagaimana menghadapi Deva pribadi menghadapi orang dengan karakter seperti Luka di kehidupan nyata, Deva memberikan jawaban yang cukup jujur, yakni dengan tidak menghadapinya. 

“Kalau gue pribadi… mending nggak usah dihadapi,” akunya.

Menurutnya, kebutuhan akan validasi adalah sesuatu yang nggak ada habisnya. Jadi, mencoba memuaskan orang dengan karakter seperti itu justru bisa jadi melelahkan. Hanya ada 2 cara saat berhadapan dengan orang dengan karakter seperti itu, yakni dengan dihindari atau dimaklumi.

“Karena mencari validasi itu kayaknya nggak akan pernah cukup ya. Mungkin ada yang bilang ‘saya cuma butuh validasi dari si A’, ketika dia dapat apakah cukup? Nggak sih belum tentu. Ketika sudah bersinggungan dengan karakter semacam itu, caranya cuman dua kalau nggak bisa dihindari ya dimaklumi,” terangnya.

Di akhir, aktor La Tahzan ini juga menekankan bahwa kita nggak punya kewajiban untuk selalu menjadi sumber validasi bagi orang lain.

“Tapi, kamu tidak perlu jadi orang yang kasih validasi. Nggak ada keharusan,” tegasnya.

Dari sudut pandang ini, serial Luka, Makan, Cinta nggak cuma menyajikan drama hubungan, tapi juga jadi refleksi kecil tentang batasan dalam relasi, bahwa memahami orang lain itu penting, tapi menjaga diri sendiri juga nggak kalah penting.

7. Konflik jadi bensin untuk bertumbuh

instagram.com/teddysoe

Penonton juga diajak untuk melihat hubungan dari sudut pandang yang lebih realistis, bahwa chemistry di awal bukan jaminan segalanya, justru konflik dapat menjadi bensin untuk kelangsungan sebuah hubungan. Menurut Deva, banyak orang masih sering menilai hubungan dari kesan pertama. Padahal, kenyataannya nggak sesederhana itu.

“Kita tidak bisa menilai usia sebuah relationship itu dari kesan pertamanya. Ada yang mungkin pertama kali ketemu itu bahkan tidak saling lirik, tidak saling tertarik, padahal jadi relationship yang memecahkan rekor dan bahkan terlama yang pernah ada. Ada juga yang di awalnya kayak chemistry-nya kuat banget nih, tapi ternyata tidak cukup banyak bensinnya untuk long run,” ujar artis kelahiran tahun 1990 ini.

Dari cerita Dennis dan Luka, terlihat jelas bahwa konflik bukan selalu tanda ketidakcocokan. Justru, dalam beberapa kasus, konflik bisa jadi cara dua orang untuk saling bertumbuh. Hubungan mereka memang terlihat seperti penuh persaingan dengan “kompetisi kecil” di dapur. Tapi di balik itu, ada dinamika yang membuat keduanya berkembang bersama.

“Karena ya pada akhirnya balik lagi ke proses sih. Kalau dalam hal ini Dennis dan Luka justru dengan konflik mereka mendorong satu sama lain untuk menjadi versi terbaik diri mereka, lewat kompetisi-kompetisi kecil yang mereka ciptakan,” jelasnya lagi.

Di balik sosok leader yang tegas di dapur, ternyata Dennis dan Luka punya sisi rapuh yang jarang ditampilkan. Namun, ketika mereka mulai jujur satu sama lain di luar peran sebagai head chef, hubungan itu terasa lebih nyata dan manusiawi.

“Mereka berdua kalau di mata crew kitchen-nya nggak cocok, tapi sebenarnya mereka cocok banget. Dua orang yang menampilkan diri paling kuat di dapur ini sebagai leader justru adalah sosok-sosok yang paling rapuh karena mereka harus mempertanggungjawabkan banyak sekali di kepala. Pada akhirnya, mereka berdua di luar diri mereka sebagai head chef, mereka juga sosok yang rapuh, biasa saja, dan saling jujur satu sama lain,” katanya.

8. Pasangan jangan dijadikan rival tapi support system

youtube.com/@Netflix Indonesia

Dalam beberapa kasus, mungkin orang melihat pasangannya sebagai rival, namun hal tersebut sebenarnya salah. Alih-alih menjadi rival, Deva Mahenra menyarankan bahwa pasangan seharusnya menjadi support system dan sumber inspirasi. Hal ini karena bagi dua orang yang berkomitmen untuk menjalin hubungan, tujuan mereka bukan lagi dua melainkan satu, yaitu sama-sama bahagia.

“Bukan rivalitas kali ya lebih ke kayak support. Saya pernah denger ini, jadi ada yang bilang inspirasi dan motivasi itu dua hal yang berbeda. Motivasi itu adalah sesuatu yang datangnya dari orang dan kamu hanya bisa terima. Sementara itu, inspirasi adalah kamunya yang bergerak dan mencari siapa yang jadi inspirasi. Nah menurut saya baiknya di dalam relationship itu justru lebih banyak inspirasi daripada motivasinya. 

Ketika seseorang atau dua orang sudah berkomitmen dalam sebuah relationship harusnya inspirasinya adalah satu sama lain. Kenapa? Karena kan pengen ngejarnya adalah kebahagiaan katanya. Kebahagiaan itu kalau sudah dalam relationship, si A bahagia, si B nggak mungkin nggak bahagia karena pada akhirnya sudah jadi satu,” ujar aktor Tetangga Masa Gitu ini.

Meski begitu, bukan berarti persaingan kecil dalam hubungan sepenuhnya salah. Selama masih sehat dan nggak menyakiti, hal itu justru bisa jadi pemicu untuk berkembang. Tapi, ketika hubungan mulai terasa seperti ajang pembuktian, bukan lagi ruang bertumbuh, itu tandanya perlu dievaluasi ulang. Di titik ini, komunikasi jadi kunci. Deva menegaskan bahwa hubungan yang sehat bukan tentang siapa yang lebih unggul, tapi bagaimana dua orang bisa berdiri di sisi yang sama.

“Sejauh mana rivalitas di dalam relationship ini masih dikatakan sehat, menurut aku ketika itu tidak tidak melukai hati. Karena ada beberapa jenis-jenis rivalitas dalam relationship yang saya pernah lihat, yang akhirnya bikin pasangannya sampai terucap kata ‘Oh, kamu begitu’, ‘Oh yaudah, next time nggak lagi deh’, jangan sampai begitu. Kalau sudah kayak gitu berarti nggak sehat harus ngobrol lagi. 

Tapi, ya itu sih baiknya jangan rivalitas, lebih ke support system saja. Karena kalau rivalitas dari awal itu memang dari katanya saja kita dipaksa untuk melawan satu sama lain, sementara kan achievement-nya, tujuannya, pada akhirnya sama dan bareng-bareng,” pesannya.

Itulah fakta-fakta menarik dari serial terbaru Netflix Indonesia, Luka, Makan, Cinta yang segera tayang bulan April 2026 ini.

Editorial Team