Babak terakhir, ketujuh, mengangkat tema Spiritual Reflection mengisahkan tentang Kaum Intelektual. Theresia Agustina Sitompul dalam tiga etsa berjudul Pre-Departure Ritual; Cathedral and the Echo of Gondang; dan Return to Silence menggambarkan lapisan terdalam perjalanan ini yang mengalirkan sebuah perenungan spiritual. Para pendeta Datu menafsirkan pertanda dari seekor ayam sebelum keberangkatan, memaknai pelayaran sebagai takdir Banua Tonga.
Selanjutnya, di dalam sebuah Katedral di Venesia, seorang filsuf Batak mendengarkan gaung paduan suara dan membandingkannya dengan harmoni tabuhan gondang sabangunan. Dan sekembalinya ke Tanah Air, di bawah pohon beringin dekat Pusuk Buhit, ia menyimpulkan seluruh perjalanan dalam satu kalimat: "Penemuan bukanlah kepemilikan, melainkan pengakuan bahwa seluruh daratan terjalin dalam satu dunia".
Dalam rangkaian program ini sepanjang residensi, para perupa, selain menghasilkan karya etsa yang terinspirasi dari manuskrip fiksi ini, juga menciptakan karya individual. Karya tersebut tetap mewujudkan perspektif para penafsir manuskrip dan diselesaikan di Venesia. Beberapa karya dirancang di Indonesia sebagai respons terhadap pertimbangan ruang di Scuola Internazionale di Grafica yang kemudian disempurnakan ketika para seniman menjelajahi kota tersebut.
Melalui “Printing the Unprinted”, Paviliun Indonesia di Venice Biennale 2026 tidak hanya menghadirkan praktik seni cetak grafis sebagai medium artistik, tetapi juga sebagai ruang pembacaan ulang sejarah, pengetahuan, dan imajinasi kolektif Nusantara. Dengan memadukan mitologi, arsip, pelayaran, serta perjumpaan lintas budaya, pameran ini mengajak publik internasional melihat Indonesia sebagai pusat gagasan yang aktif membangun dialog dengan dunia. Keikutsertaan Indonesia di Venesia menegaskan peran kebudayaan sebagai jembatan dialog, pertukaran gagasan, dan penguatan posisi Indonesia dalam percaturan seni internasional.