Di hadapan para pelaku ekonomi kreatif dari berbagai negara, Founder dan CEO IDN, Winston Utomo menyampaikan sesuatu yang selama ini lebih sering dibisikkan daripada dikatakan dengan lantang: Indonesia sudah terlalu lama duduk sebagai penonton budaya global, padahal Indonesia memiliki semua potensi untuk menjadi negara besar di industri kreatif dan entertainment.
Winston berbicara dalam plenary session World Conference on Creative Economy (WCCE) 2026 bertajuk "Spark. Stack. Legacy: Building Creative IP for Global Markets and Lasting Value" pada 22 Oktober 2026, bersama Chief Experience Officer CT Corp, Putri Tanjung dan praktisi film, Ernest Prakasa. Diskusi berpusat pada satu pertanyaan yang semakin sulit dijawab di era konten tanpa batas: apa yang membuat sebuah karya kreatif tetap hidup setelah gelombang perhatian pertama berlalu?
Bagi Winston, jawabannya tidak terletak pada angka. Setiap hari ia bekerja di antara dua bahasa yang sering bertentangan, yaitu bahasa data dan bahasa budaya. "Data memberitahu kita apa yang sedang ramai. Budaya memberi tahu kita apa yang punya soul. Tugas kami adalah berdiri tepat di persimpangan keduanya."
Dari persimpangan itulah ia menurunkan tiga fondasi yang menurutnya menentukan apakah sebuah karya akan menjadi tren sesaat atau kekayaan intelektual yang bertahan: soul, fandom, dan IP.
