Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popbela lainnya di IDN App
Berbeda dengan Pulsa Seluler, Ini Cara Hitung Token Listrik Prabayar!
PT PLN Persero

  • Token listrik prabayar berbeda dengan pulsa seluler

  • Pelanggan membeli alokasi energi listrik dalam kWh

  • Komponen potongan dan contoh perhitungan token listrik

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
  • What?
    Penjelasan mengenai cara perhitungan token listrik prabayar yang berbeda dengan pulsa seluler, termasuk komponen biaya dan mekanisme pengurangan energi berdasarkan pemakaian.
  • Who?
    Executive Vice President Komunikasi Korporat dan TJSL PT PLN (Persero), Gregorius Adi Trianto, memberikan keterangan resmi terkait sistem token listrik prabayar.
  • Where?
    Keterangan disampaikan oleh pihak PLN di Indonesia melalui pernyataan resmi kepada publik.
  • When?
    Pernyataan disampaikan pada Selasa, 27 Januari 2026.
  • Why?
    Penjelasan diberikan untuk meluruskan kesalahpahaman masyarakat yang masih menyamakan token listrik prabayar dengan pulsa seluler serta membantu pelanggan memahami sistem perhitungannya.
  • How?
    Pelanggan membeli alokasi energi dalam satuan kWh; nilai pembelian dikurangi pajak dan biaya administrasi sebelum dikonversi menjadi energi yang berkurang sesuai pemakaian perangkat listrik di rumah.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Token listrik prabayar masih sering disamakan dengan pulsa seluler. Padahal, keduanya memiliki mekanisme yang sangat berbeda. Pulsa seluler merupakan saldo rupiah yang digunakan untuk layanan komunikasi seperti telepon, pesan teks, dan internet. Sementara itu, token listrik prabayar adalah pembelian energi listrik yang akan berkurang sesuai pemakaian di rumah.

Pada sistem listrik prabayar, pelanggan PLN membeli listrik di awal dalam satuan kilowatt hour (kWh), bukan saldo uang. Setiap peralatan listrik yang digunakan—mulai dari lampu, kulkas, hingga AC—akan mengurangi jumlah kWh yang tersisa di meteran. Ketika kWh habis, pelanggan perlu melakukan pengisian ulang token listrik.

Sistem ini dirancang agar pelanggan dapat memantau sekaligus mengendalikan konsumsi listrik secara mandiri sejak awal pemakaian.

Prinsip dasar perhitungan token listrik prabayar

Dok. Istimewa

Executive Vice President Komunikasi Korporat dan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) PT PLN (Persero), Gregorius Adi Trianto, menjelaskan bahwa token listrik prabayar pada dasarnya adalah alokasi energi listrik.

“Pada sistem prabayar, pelanggan membeli alokasi energi listrik dalam jumlah tertentu. Alokasi ini digunakan oleh seluruh peralatan listrik di rumah dan akan berkurang seiring pemakaian. Karena itu, total energi tersedia dalam satuan kilowatt hour (kWh),” ujar Gregorius dalam keterangan tertulis, Selasa, 27 Januari 2026.

Gregorius menegaskan, penggunaan listrik tidak dapat dipisahkan berdasarkan fungsi atau jenis peralatan. Seluruh perangkat rumah tangga menggunakan sumber energi yang sama, sehingga pengurangan kWh dihitung dari total konsumsi listrik secara keseluruhan.

Dengan kata lain, semakin banyak dan semakin lama peralatan listrik digunakan, maka semakin cepat pula kWh di meteran berkurang.

Komponen potongan dan contoh perhitungan token listrik

PT PLN Persero

Dalam setiap pembelian token listrik prabayar, terdapat sejumlah komponen biaya yang langsung dipotong di awal. Beberapa di antaranya adalah:

  • Pajak Penerangan Jalan (PPJ), yang besarannya ditetapkan oleh pemerintah daerah

  • Biaya administrasi, sesuai dengan kanal pembelian (loket, aplikasi, atau perbankan

  • Bea meterai, untuk transaksi token listrik dengan nominal di atas Rp5.000.000

Sebagai ilustrasi, pelanggan rumah tangga dengan daya 1.300 volt ampere (VA) yang membeli token listrik senilai Rp100.000 akan dikenakan potongan PPJ dan biaya administrasi. Setelah dipotong, nilai yang dikonversi menjadi energi listrik berkisar antara Rp90.000 hingga Rp94.000.

Dengan tarif listrik rumah tangga 1.300 VA sebesar Rp1.444,70 per kWh, nominal tersebut setara dengan sekitar 63 hingga 65 kWh. Jumlah inilah yang masuk ke meteran listrik dan akan terus berkurang sesuai pemakaian sehari-hari.

Sistem token listrik prabayar memberi pelanggan kendali langsung dalam mengatur konsumsi listrik. Token yang dibeli merupakan alokasi energi listrik, bukan sekadar nominal rupiah, sehingga jumlah kWh akan terus berkurang sesuai pemakaian. Dengan memahami cara perhitungannya, pelanggan dapat mengetahui perbedaan antara nilai pembelian dan kWh yang diterima serta merencanakan penggunaan listrik rumah tangga secara lebih bijak.

Topics

Editorial Team

EditorAyu Utami