Takjil Tradisional vs Takjil Modern (Dok. PT Sasa Inti/Pantau)
Takjil tradisional umumnya menggunakan bahan alami yang memiliki nilai gizi. Buah-buahan dalam es buah mengandung vitamin dan serat. Kolak pisang juga kaya karbohidrat yang membantu mengembalikan energi. Karena minim bahan tambahan, risikonya relatif lebih rendah jika dikonsumsi wajar. Tentu saja, tetap perlu memperhatikan porsi agar tidak berlebihan.
Selain itu, takjil tradisional jarang menggunakan pemanis buatan. Rasa manisnya berasal dari gula alami yang lebih mudah dikenali tubuh. Meski tetap tinggi gula, kandungannya cenderung lebih sederhana. Jika dikombinasikan dengan makanan bergizi saat berbuka, takjil tradisional bisa menjadi pilihan yang lebih seimbang. Kuncinya ada pada kontrol konsumsi.
Di sisi lain, takjil modern sering mengandung gula tambahan yang cukup tinggi. Sirup, krim, dan topping manis bisa meningkatkan jumlah kalori secara signifikan. Jika dikonsumsi berlebihan, tentu kurang baik bagi kesehatan. Kandungan pewarna dan perisa buatan juga perlu diperhatikan. Apalagi jika kamu sedang menjaga pola makan.
Namun, bukan berarti takjil modern harus dihindari sepenuhnya. Kamu tetap bisa menikmatinya sesekali sebagai bentuk self-reward. Yang terpenting adalah bijak dalam memilih dan tidak berlebihan. Perhatikan komposisi dan porsi agar tetap seimbang. Dengan begitu, kamu tetap bisa menikmati Ramadan tanpa mengorbankan kesehatan.
Bela, baik takjil tradisional maupun modern sama-sama punya daya tariknya sendiri. Yang satu menawarkan rasa nostalgia dan kehangatan, sementara yang lain hadir dengan kreativitas dan tampilan kekinian. Tidak ada yang lebih unggul secara mutlak, karena semuanya kembali pada selera dan kebutuhanmu. Kamu bisa menikmati keduanya secara bergantian agar pengalaman berbuka makin berwarna. Jadi, Ramadan kali ini kamu lebih suka takjil tradisional atau takjil modern?