instagram.com/pierrethebaker.id
Cara baca croissant sering jadi perbincangan di dunia FnB karena berkaitan langsung dengan standar bahasa dan latar budaya kuliner. Di satu sisi, ada pengucapan baku dalam Bahasa Indonesia yang digunakan secara resmi. Di sisi lain, ada pengucapan asli dari bahasa asalnya yang kerap dipakai di lingkungan internasional.
Memahami perbedaan ini penting agar kamu bisa menyesuaikan cara menyebut croissant sesuai konteks, baik saat melayani pelanggan lokal maupun saat bekerja di lingkungan kuliner global.
1. Cara baca croissant menurut KBBI
Menurut KBBI, cara baca croissant yang benar dalam Bahasa Indonesia adalah “kroisan”. Pengucapan ini merupakan hasil penyerapan dari Bahasa Prancis yang sudah disesuaikan dengan kaidah pelafalan bahasa Indonesia. Karena itu, menyebut “kroisan” dianggap baku dan sah secara linguistik.
Dalam konteks profesional FnB di Indonesia, pengucapan “kroisan” paling aman digunakan. Cara baca ini umum dipakai dalam penulisan menu, pelatihan staf, hingga komunikasi dengan pelanggan lokal, sehingga lebih mudah dipahami dan terdengar natural.
2. Cara baca croissant dalam bahasa Prancis (bahasa asal)
Dalam Bahasa Prancis, croissant diucapkan mendekati “kwa-sã”, dengan bunyi akhir sengau yang khas. Pengucapan ini tidak mengucapkan huruf t di akhir dan terdengar lebih halus saat dilafalkan. Cara baca ini sering dianggap lebih otentik karena mengikuti bahasa asalnya.
Di dunia FnB internasional atau fine dining, pengucapan ala Prancis bisa menjadi nilai tambah, terutama saat berinteraksi dengan chef atau tamu asing. Meski begitu, pengucapan ini tidak wajib digunakan di Indonesia, selama konteks dan audiensnya dipahami dengan baik.