CHANEL resmi mengumumkan telah mengakuisisi Charvet, rumah mode legendaris yang dikenal sebagai pembuat kemeja tertua di Prancis.
Langkah ini dilakukan sebagai bagian dari komitmen jangka panjang CHANEL untuk mendukung pelestarian keahlian artisan (savoir-faire) sekaligus memastikan keberlangsungan salah satu rumah warisan (heritage house) ikonis di Prancis.
Meski kini bergabung dengan CHANEL, Charvet akan tetap mempertahankan independensi kreatifnya.
Presiden Fashion Activities CHANEL sekaligus Presiden Chanel SAS, Bruno Pavlovsky, mengatakan bahwa kerja sama ini memiliki makna khusus bagi kedua rumah mode.
Menurutnya, CHANEL dan Charvet memiliki pendekatan yang sama dalam memandang pentingnya savoir-faire, yaitu melalui standar yang tinggi, rasa hormat terhadap keahlian, serta keyakinan bahwa keterampilan tersebut hanya dapat berkembang jika didukung dengan komitmen jangka panjang.
Ia menambahkan bahwa CHANEL selama ini memandang pelestarian keahlian artisan sebagai bagian dari tanggung jawab perusahaan. Menurutnya, keterampilan tersebut tidak hanya mencerminkan kualitas craftsmanship yang luar biasa, tetapi juga merupakan bagian penting dari warisan budaya.
Kerja sama ini juga memiliki kaitan historis. Boy Capel, sosok yang memiliki peran penting dalam kehidupan Gabrielle Chanel, diketahui merupakan pelanggan tetap Charvet.
Menurut Pavlovsky, hubungan tersebut menjadi ikatan simbolis yang semakin memperkuat komitmen kedua rumah mode dalam meneruskan keahlian artisan, menjaga presisi craftsmanship, serta menghadirkan dialog antara warisan dan kreasi kontemporer.
Menariknya, gagasan akuisisi ini bermula dari kolaborasi kreatif antara Direktur Artistik CHANEL, Matthieu Blazy, dan Charvet dalam koleksi Ready-to-Wear Spring/Summer 2026 pertamanya untuk CHANEL.
Dari dialog kreatif tersebut kemudian muncul keinginan untuk melanjutkan kerja sama dalam lingkup yang lebih luas melalui bergabungnya Charvet dengan CHANEL, sehingga keahlian khas rumah mode tersebut dapat terus dijaga dan diwariskan dalam jangka panjang.
Managing Director Charvet, Jean-Claude Colban, mengatakan bahwa proyek ini mempertemukan dua perusahaan bersejarah asal Paris yang memiliki standar tinggi dan komitmen yang sama terhadap kualitas.
Bersama sang saudari, Anne-Marie Colban, ia menyambut babak baru dalam perjalanan Charvet yang dinilai tetap sejalan dengan semangat dan identitas perusahaan.
Menurut Colban, hubungan antara CHANEL dan Charvet berkembang secara alami melalui komunikasi yang terbuka dan kolaboratif.
Kesamaan komitmen dalam menjaga keahlian artisan, menghormati craftsmanship, serta memberikan perhatian terhadap kualitas hingga detail terkecil menjadi fondasi utama dari kerja sama tersebut.
Didirikan pada tahun 1838, Charvet merupakan pembuat kemeja tertua di Prancis. Rumah mode ini dikenal lewat layanan pembuatan kemeja dan busana pria secara bespoke, serta berbagai aksesori premium.
Sejak berdiri, Charvet telah melayani banyak tokoh dunia, di antaranya Charles Baudelaire, Marcel Proust, Winston Churchill, Jean Cocteau, hingga Gabrielle Chanel.
Saat ini, Charvet memiliki satu-satunya atelier yang berlokasi di Saint-Gaultier, wilayah Indre, Prancis.
Sementara itu, CHANEL merupakan salah satu rumah mode mewah terkemuka di dunia yang didirikan oleh Gabrielle Chanel pada awal abad ke-20.
Selain menghadirkan koleksi ready-to-wear, leather goods, aksesori fesyen, eyewear, parfum, makeup, skincare, perhiasan, dan jam tangan, CHANEL juga dikenal melalui koleksi haute couture yang dipresentasikan dua kali setiap tahun di Paris.
Sebagai bagian dari komitmennya terhadap craftsmanship, CHANEL juga telah mengakuisisi sejumlah pemasok spesialis yang tergabung dalam Métiers d'art.
Perusahaan ini terus berinvestasi pada pengembangan sumber daya manusia, riset dan pengembangan, inovasi, serta keberlanjutan. Hingga akhir 2025, CHANEL mempekerjakan sekitar 38.000 orang di berbagai negara.
Dengan bergabungnya Charvet, CHANEL kembali menegaskan komitmennya untuk mendukung pelestarian keahlian artisan dan memastikan warisan craftsmanship Prancis dapat terus diwariskan kepada generasi mendatang, sejalan dengan identitas serta independensi kreatif yang selama ini dimiliki Charvet.
