Helsing, perusahaan teknologi pertahanan asal Jerman. (Situs helsing.ai)
Daniel Ek, melalui perusahaan investasinya bernama Prima Materia, telah menggelontorkan dana sebesar EUR600 juta (sekitar USD700 juta) ke Helsing, sebuah perusahaan teknologi pertahanan asal Jerman. Helsing ini dikenal mengembangkan sistem kecerdasan buatan (AI) untuk kebutuhan militer, mulai dari drone tempur, kapal selam otonom, hingga sistem pengawasan medan perang. Nilai perusahaan ini kini menyentuh angka EUR12 miliar, atau setara USD14,04 miliar!
Tidak berhenti di situ saja, Ek yang rupanya juga menjabat sebagai ketua dewan direksi dari Helsing, menegaskan investasi teknologi itu demi kedaulatan dan kesiapan pertahanan Eropa. Mengutip dari siaran resmi dari situs Helsing, pendanaan ini merupakan bagian dari Seri D yang turut didukung investor lama seperti Accel, Lightspeed, Saab, hingga General Catalyst, serta investor baru seperti BDT dan MSD Partners.
Investasi ini juga mengikuti pendanaan Seri C sebesar €450 juta yang digelontorkan pada Juli 2024.
Ilustrasi musisi indie. (Situs pexels.com/cottonbro studio)
Namun, bagi banyak musisi indie, langkah yang dilakukan sang CEO dianggap melampaui batas. Mereka memandang investasi tersebut sebagai bentuk dukungan terhadap "senjata AI" yang berpotensi memperpanjang konflik bersenjata.
Bukan hanya soal etika perang, para artis ini juga menyoroti betapa rendahnya royalti yang mereka terima dari Spotify, sehingga menambah panjang daftar alasan mereka untuk meninggalkan platform ini. Investasi yang melewati batas itu membuat mereka tidak ingin karya seni mereka berkontribusi pada perang dan kehancuran.